Buruh Koperasi Karyawan Pelabuhan memulai aksi di Medan, Sumatera Utara. Foto: Metrotvnews.com/Farida

Kecewa Pelindo I, Buruh Berjalan Kaki dari Medan ke Istana Negara

Metrotvnews.com, Medan: Ratusan buruh Koperasi Karyawan Pelabuhan (Kopkarpel) memutuskan berjalan kaki dari Medan, Sumatera Utara, ke Istana Negara, Jakarta, Jumat 20 Januari 2017. Mereka ingin mengadukan manajemen Pelindo 1 yang tak kunjung memperjelas status mereka ke Presiden Joko Widodo di Istana Negara.

"Para buruh merasa diperlakukan tak adil. Setelah belasan tahun bekerja, mereka tak kunjung diangkat menjadi karyawan. Bahkan, mereka dipindah menjadi tenaga outsourcing," ucap April Waruwu, koordinator aksi, di sela persiapan aksi, di Kantor Pelindo I, Jalan Kratatau, Medan. 

Rombongan buruh memulai perjalanannya dari Kantor Pelindo I, sekitar pukul 08.30 WIB. Mereka sempat berhenti di Masjid Raya Al Mahsun, Jalan Sisingamangaraja Medan, untuk melaksanakan salat Jumat.

Perjalanan dilanjutkan sekira pukul 14.35 WIB. Para buruh akan melintasi jalur timur Jalan Lintas Sumatera. Aksi jalan kaki ini diperkirakan menempuh waktu satu bulan.

April mengatakan aksi ini sudah disiapkan secara matang. Perbekalan, mobil komando, hingga ambulans telah siap. Nantinya, rombongan buruh akan disambut perwakilan Serikat Burus Sejahtera Indonesia (SBSI) di setiap kabupaten dan kota yang dilintasi. 

"Tentunya ini perjalanan panjang untuk memperjuangkan nasib teman-teman kita. Kita berharap semua lancar dan tiba dengan selamat di Jakarta, sehingga rombongan dapat mengadukan nasib ke Presiden," kata April.

Salah Alamat

Sekretaris PT Pelindo I, M. Eriansyah, mengatakan tindakan para buruh yang ingin melaporkan perusahaannya ke Presiden Jokowi, salah alamat. Karena, kata dia, selama ini para buruh bekerja di bawah naungan Kopkarpel, bukan Pelindo 1.

"Apa yang disampaikan para buruh itu salah alamat. Mereka bekerja di bawah Kopkarpel. Segala kebijakan maupun rekrutmen dilakukan Kopkarpel. Maka, secara badan hukum berbeda. Jadi, kita tidak tahu dan tak ada sangkut pautnya dengan mereka. Saya pikir jumlah mereka juga tidak sampai seratusan ya," katanya.

Editor : Wandi Yusuf