Dekan Fakultas Pendidikan Sampoerna University, Nisa Felicia, MTVN - Husen

Profesi Guru Dianggap Kurang Menarik Bagi Generasi Muda

Jakarta: Generasi muda Indonesia masih menganggap pekerjaan menjadi seorang guru kurang menarik ketimbang pekerjaan-pekerjaan profesional lainnya. Banyak hal yang melatarbelakangi hal tersebut.

Dekan Fakultas Pendidikan Sampoerna University Nisa Felicia menjelaskan sistem pendidikan linear yang dilakukan guru terhadap anak didiknya menjadi faktor utama profesi guru dipicingkan generasi muda. Dengan sistem pendidikan itu, profesi guru dianggap membosankan.

"Kita masih banyak menemukan bahwa guru itu pemarah, killer, membuat ngantuk. Ini yang membuat anak-anak generasi muda ogah menjadi guru," kata Nisa di Sapoerna University, Menara L'Aveneu, Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat, 24 November 2017.

Selain itu, tambah dia, profesi guru tidak memberi jaminan terhadap jenjang karir yang mumpuni. Jenjang karir guru paling tinggi, sebutnya, hanya sebagai kepala sekolah.

Dalam penelitian The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada tahun 2007, ungkap Nisa, profesi guru hanya diminati 11 persen siswa Indonesia yang berusia 15 tahun. Terbesar, sebanyak 47 persen siswa berminat pada pekerjaan-pekerjaan yang profesional, bukan pekerjaan vokasional.

"Kualitas guru jadi masalah utamanya. Sebenarnya itu bukan hanya jadi persoalan Indonesia, tapi juga jadi fenomena dunia," tuturnya.

Peminat yang ingin jadi guru di Indonesia, rata-rata kemampuan matematikanya lebih rendah dibanding siswa-siswa yang ogah berprofesi guru. Artinya, siswa yang ingin jadi guru bukanlah siswa berprestasi di kelas/sekolahnya. 

Dalam penelitian OECD menyimpulkan, permasalahan kualitas dan sistem pengajaran seorang guru harus dibenahi. Kuncinya, kualitas calon guru dan sistem pengajaran seorang guru harus diperbaiki.

Pembenahan kedua hal tersebut telah dilakukan Korea, Singapura, dan Finlandia. Ketiga negara itu berhasil membuat profesi guru bergengsi. Bukan soal gajinya, melainkan juga hasil test seorang calon guru yang harus tinggi.

"Negara-negara seperti Korea, Singapura, dan Finlandia sistem pendidikannya sangat bagus. Mereka tidak hanya berhasil menarik minat high school graduate yang bagus, tapi ketika kuliah di Fakultas Pendidikannya, itu juga betul-betul disiapkan program pengembangan guru yang bagus," tutup Nisa.

Editor : Laela Badriyah