Tersangka pemberi keterangan palsu dalam sidang kasus dugaan korupsi pengadaan e-KTP tahun anggaran 2011-2012, Miryam S Haryani. ANT/Wahyu Putro.

Polri tak Bisa Jemput Paksa Miryam untuk Pansus Angket KPK

Metrotvnews.com, Jakarta: Kapolri Jenderal Tito Karnavian menegaskan tak bisa memenuhi permintaan DPR menjemput secara paksa Miryam Haryani untuk hadir dalam Pansus Hak Angket Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tito mengatakan, hukum acara pansus hak angket tersebut tak jelas.

Tito menjelaskan, dalam UU MD3 DPR bisa meminta bantuan Kepolisian menghadirkan paksa seseorang yang dipanggil.

"Namun persoalannya kita melihat hukum acaranya di dalam UU itu tidak jelas, tidak ada hukum acaranya," kata Tito di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin 19 Juni 2017.

Tito menambahkan, upaya menghadirkan paksa harus disertai surat perintah penangkapan. Sementara, mantan Kapolda Metro Jaya itu masih menemukan kerancuan dengan upaya menghadirkan paksa Miryam dalam pansus hak angket KPK tersebut.

"Kemungkinan besar tidak bisa kami laksanakan karena adanya hambatan hukum acara ini," jelas Tito.

Tito pun mempersilakan DPR meminta fatwa hukum yang jelas kepada Mahkamah Agung (MA). Upaya paksa menghadirkan seseorang hanya bisa diajukan dalam koridor pro justicia.

"Hukum acara yang tidak jelas. Saya berprinsip bahwa silakan ahli-ahli hukum menyampaikan pendapatnya," tegas Tito.

Sebelumnya, Wakil Ketua Pansus Hak Angket KPK, Taufiqulhadi mengatakan, pansus memiliki tiga kali kesempatan untuk memanggil seseorang dalam penyelidikan angket. Bila tak hadir sampai tiga kali maka berlaku UU MD3 Nomor 17 Tahun 2014. Dalam Pasal 204 disebutkan bila tak hadir dalam tiga kali panggilan maka pansus akan meminta polisi menjemput paksa.
 
Menurutnya, polisi harus menjalankan Undang-undang dan KPK harus mempersilakan Miryam datang. "Konsekuensinya dia tidak bisa melarang. Kalau dia tidak menuruti UU, itu adalah pengingkaran terhadap UU. Kalau itu dilakukan oleh sebuah lembaga, itu membahayakan negara," ujar Taufiqulhadi.

Editor : Dheri Agriesta