Ketika Korban Kekerasan Seksual Meninggal

Metro View | Minggu, 06 Januari 2013 WIB

Suryopratomo

MURID Sekolah Dasar Kelas 5 di Jakarta Timur yang menjadi korban kekerasan seksual akhirnya meninggal dunia. Korban yang dibawa ke Rumah Sakit Persahabatan pada tanggal 29 Desember 2012, tidak terselamatkan jiwa dengan luka di bagian alat kelamin dan anus.

Pihak rumah sakit tidak berani untuk menyatakan korban meninggal akibat pemerkosaan. Tim dokter mengaku hanya bisa melakukan pemeriksaan medis dan semua hasil diagnosa diserahkan kepada kepolisian. Selanjutnya kepolisian yang berhak untuk menyatakan apakah korban merupakan pemerkosaan atau bukan.

Pihak kepolisian sendiri hingga saat ini belum menyampaikan secara resmi hasil penyelidikan terhadap kasus yang sudah terjadi sejak 10 hari lalu. Bahkan korban kini sudah terbujur kaku dengan indikasi kuat terjadi kekerasan seksual kepada dirinya. Kemarin polisi hanya mengatakan bahwa korban bukan merupakan korban pemerkosaan, tetapi karena mengalami infeksi.

Inilah yang sebenarnya lebih memukul perasaan kita semua. Bagaimana aparat kepolisian bisa tidak peduli atas nasib yang dialami anak SD kelas 5. Korban dibiarkan tanpa kejelasan apa yang sebenarnya ia alami, bahkan ketika anak itu sudah meninggal dunia.

Kita bandingkan dengan kasus yang terjadi di New Delhi, India. Seluruh negeri itu sampai memutusakan untuk tidak merayakan Tahun Baru. Sebagai bentuk solidaritas dan keprihatinan atas kasus pemerkosaan yang membuat korban sampai meninggal dunia, seluruh rakyat di India yang jumlahnya lebih satu miliar orang menyatakan rasa duka citanya.

Sungguh menyedihkan, bangsa yang mengaku memiliki landasan negara Pancasila, tetapi tidak memiliki rasa kemanusiaan. Kematian, korban pemerkosaan hanya dilihat sebagai angka statistik saja. Seakan hanya sebuah angka saja ketika ada korban pemerkosaan, bahkan ketika korban itu kemudian meninggal dunia.

Kita sungguh iri kepada bangsa India, yang tanpa perlu mempunyai Pancasila, tetapi memiliki rasa kemanusiaan yang begitu tinggi. Bahkan Perdana Menteri India Manmohan Singh sampai berani mengatakan: "Kematian mahasiswi India tidak pernah akan sia-sia."

Pemerintah India langsung membuat peraturan baru yang lebih melindungi perempuan dari pemerkosaan. India menerapkan hukuman mati kepada pelaku pemerkosaan. Kendaraan umum dilarang ditutup tirai jendelanya agar bisa dilihat dari luar.

Kita harus melakukan respons terhadap kasus pemerkosaan. Begitu banyak kasus yang terjadi, namun penanganannya tidak pernah tuntas. Akibatnya, tindakan pemerkosaan terus terjadi dan tidak membuat orang jera.

Memang karena membawa aib, tidak mudah untuk mengungkap kasus pemerkosaan. Namun bukan berarti kita tidak bergegas untuk menangani kasus itu. Kita justru harus lebih serius karena kejahatan yang satu ini menimbulkan trauma yang panjang kepada korban.

Seumur hidupnya korban pemerkosaan akan dihantui tindakan yang menjijikkan bagi dirinya. Bisa jadi orang itu akan memilih untuk menghindar dari kehidupan bersosial. Ia akan menjadi pribadi yang menyendiri.

Kita seringkali menganggap enteng kasus yang satu ini. Bahkan tidak jarang pejabat negara kita menjadikan kasus pemerkosaan sebagai bahan guyonan. Tidak ada perasaan, bagaimana kalau kasus seperti itu menimpa sanak keluarganya.

Seharusnya ketika ada momentum yang besar, dijadikanlah pintu masuk untuk menghardik kesadaran kita bersama membangun sistem yang lebih melindungi kaum perempuan. Jangan biarkan kasus pemerkosaan berlalu begitu saja dan membiarkan saja korban menderita sendirian.

Kita tidak boleh membiarkan adanya korban yang sia-sia. Sudah terlalu banyak korban pemerkosaan yang terjadi di negeri ini. Yang dibutuhkan adalah tindakan nyata yang mampu mencegah berulangnya kasus yang membawa aib itu.

Bukan saatnya lagi bagi kita untuk berpura-pura terhadap semua fakta itu. Sepanjang kita mencoba menyangkal semua fakta yang ada, kita tinggal menunggu waktu saja kasus pemerkosaan itu kembali terulang. Ketika itu terjadi kita hanya melihatnya sebagai sebuah kasus saja. Ironis sekali kalau hal seperti ini terus saja dibiarkan terjadi.

Komentar
MORE