Obat yang tengah dikembangkan ini -- yang nantinya akan diberi nama Vaginorm -- akan meningkatkan steroid DHEA di tubuh wanita; kadar DHEA menurun secara alami seiring bertambahnya usia.

Bagi wanita, penurunan kadar DHEA ini dapat mengubah jaringan vagina dan bisa membuat vagina kering, yang dan mengakibatkan hubungan seks yang tak nyaman dan menyakitkan.

Kesepakatan antara Bayer dengan EndoCeutics itu mencakup pengembangan klinis tahap III dari produk tersebut dan meluncurkannya ke pasar. Untuk pengembangan dibutuhkan biaya sekitar US$ 330 juta, kata kedua perusahaan itu dalam pernyataan tertulis.

Dengan semakin meningkatnya usia generasi baby boomer yang mendekati usia pensiun, sejumlah perusahaan farmasi berlomba-lomba untuk menemukan pengobatan ilusif terhadap disfunsi seksual di kalangan wanita menopause. Langkah ini untuk mengikuti sukses yang diraih Viagra dan obat disfungsi seks lainnya yang dikhususkan untuk kaum laki-laki.

EndoCeutics mengatakan pihaknya berharap dapat meningkatkan kualitas hidup dari sekitar 360 juta wanita di seluruh dunia yang berusia 50 atau lebih, yang biasanya mengeluhkan atrofi vagina atau vagina kering.  (go4/ICH)