Pengusaha Malaysia Butuh Nira
Metrotvnews.com, Bantaeng: Pengusaha dari Malaysia membutuhkan nira dari aren sebanyak 15 ribu liter per bulan. Nira akan dibeli dan diekspor ke Jepang, Timur Tengah dan beberapa Negara lainnya. Hal itu diungkap Dr Ahmad Hazri Abd Rasyid, Ketua Tim Teknis Sirim Berhad, Malaysia ketika bertemu dengan Bupati Bantaeng HM Nurdin Abdullah di Bantaeng, awal pekan ini.
BUMN Malaysia yang bergerak di sektor energy & Process Engineering, Environment and Bioprocess, Technology Centre dan Researcher itu tiba di Bantaeng bersama Dr Sanariah Ujang, Dr Hamdan Haji Ya, Syed Osthman Syed Zain, Zabidi Razali, dan Ishak Yusuff.
Dr Nandi Kuswandi S. dari Universitas Hasanuddin (Unhas) yang menjadi mitra kerja tim Sirim menyebutkan, aren memiliki khasiat untuk kesehatan. Penduduk Jepang, Cina, Singapura, Timur Tengah dan Negara lainnya menjadikannya minuman segar yang disajikan setiap pagi.
Bila potensi nira tersebut bisa dikembangkan di daerah ini, Sirim akan membangun industri vinegar. Selain ke Bantaeng, tim Malaysia juga sudah berkunjung ke Maros dan beberapa daerah lainnya di Sulsel.
Untuk jangka panjang, perusahaan milik Negara Malaysia ini juga berminat di bidang kakao, kopi dan hasil bumi lainnya. Khusus untuk rumput laut, Tim Sirim pada 10 Oktober 2009 juga sudah melihat langsung potensi yang ada di daerah ini.
Menurut Dr Ahmad Hazri Abd Rasyid, pihaknya siap membeli nira dengan harga RM 4 per liter. Harga tersebut dinilai wajar dan lebih menguntungkan dibanding pembuatan gula mangkok atau dijadikan minuman beralkohol.
Karena itu, ia beharap Sirim dapat bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Unhas untuk pengembangan komoditas yang diminati masyarakat Jepang, Cina, Timur Tengah dan bebarapa Negara lainnya itu.
Bupati Bantaeng HM Nurdin Abdullah menyambut baik keinginan BUMN Malaysia untuk mengembangkan nira. Menurut bupati, bila serius ingin membangun industri, Pemda akan menyiapkan lahan.(Ant/BEY)




Ass...Saya Mempunyai perkebunan Aren Yg di Wariskan Oleh Kakek Saya, Dan selama ini kami Cuma mengolah secara Tradisional dan Hasilx pun Tradisional, Dan kami juga coba mengembangkan Indutri Mebel dr pohon Nira sperti kursi,lemari,tp kemballi kendala Kami adalah tidak adax pengetahuan & Pemasaran ? kami sangat mengharapkan ada yg membimbing kami untuk mengolah sumber daya Alam kami sehingga kami bisa hidup lebih layak lagi & Lancar membayar Pajak ?
Ini yg sebenarnya menjadi potensial untuk meningkatkan kehidupan masyarakat (maaf) pedalaman/pinggiran hutan yg nota bene selama ini kurang diperhatikan. Dan juga yg sdh tau ttg nira tetapi gak bisa memasarkan. Disamping tradisional, Pengusaha nasional juga hrs ada yg cepat tanggap, dgn membuat kebun nira khusus untuk dideres tsb. kenapa harus malaysia?, kenapa tidak langsung saja kita export ke Jepang Timurtengah tsb? Bagaimanapun memang Allah menciptakan hutan dan isinya untuk dimanfaatkan dgn bijaksana dan tanpa merusak bagi manusia. Saya yakin, harga dikonsumen sana pasti lebih mahal dario minuman pabrik yg sdh umum. sebab ini minuman ada nilai 'herbal'nya. Coba jika 1liter 10 ribu, terus dari petani deres 3 ribu saja maka akan sangat besar nilai tambah ekonominya. Bisa bersaing dgn sawit mungkin. Jika suatu saat jadi nira sbg minuman terkenal di dunia, maka Indonesialah produsen terbesarnya.