Pembagian Cek Disingung di Rapat Internal PDI Perjuangan
Metrotvnews.com, Jakarta: Mantan politisi PDI Perjuangan yang menjadi pelapor kasus penerimaan cek perjalanan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Condro mengungkapkan, pembagian cek dalam pemilihan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia, pernah disinggung dalam rapat internal partai.
Ia mengungkapkan, jauh sebelum pemilihan Deputi Gubernur Senior yang digelar 8 Juni 2004, telah beredar rumor bahwa setelah pemilihan Miranda, tiap-tiap anggota Komisi IX akan diberi uang. Topik cek perjalanan mengemuka dalam rapat internal yang digelar sebelum pertemuan di Hotel Dharmawangsa yang dihadiri Miranda pada 29 Mei 2004.
"Saat itu anggota komisi IX dari PDIP dikumpulkan dan diberi arahan untuk memilih Miranda. Ada celetukan begini, 'Miranda bersedianya Rp300 juta, tapi kalau kita mau Rp500 juta per orang, dia tidak keberatan. Seingat saya itu Tjahjo yang ngomong," ungkapnya. Tjahjo Kumolo saat itu menjabat ketua fraksi PDI Perjuangan.
Pernyataan tersebut, lanjut dia, kemudian ditimpali oleh salah seorang peserta rapat. "Ada yang nyeletuk, tapi saya nggak ingat siapa. Katanya, kalau dia (Miranda) bersedia dan tidak keberatan lima ratus, ya Rp500 juta saja," ujarnya menirukan.
Namun Agus mengaku tidak mengetahui sumber uang yang disebar tersebut dari mana. "Saya tidak tahu (sumber uang). Saya perkirakan yang lain dapat juga, ternyata betul. Waktu itu cuma dibilang, dananya sudah cair, kita ngertinya itu dari Miranda. Tapi itu asumsi saja, saling ngerti lah," tuturnya seraya menambahkan, dirinya juga tidak mengenal Nunun Nurbaeti.
Agus juga merasa aneh dengan pernyataan Tjahjo Kumolo yang menyatakan tidak tahu menahu soal cek perjalanan yang diedarkan. Menurut Agus, setiap keputusan di PDIP selalu dikomunikasikan dengan pimpinan.
"Tidak masuk akal, Tjahjo tidak tahu. Persoalan duit di PDIP tidak ada yang disembunyikan. Kurang logis kalau yang lain-lain terima, dia tidak. Pasti Dudhie ngomong ke Tjahjo, atau Panda (Panda Nababan) yang ngomong ke Tjahjo. Masa sekretaris (Panda) selingkuh, nggak mungkin," cetusnya.
Selain aliran ke PDIP, cek perjalanan dalam kasus ini juga sampai ke Fraksi PPP, Fraksi Golkar, dan Fraksi TNI Polri. Dalam dakwaan Dudhie yang dibacakan Jaksa di pengadilan tipikor disebutkan, staf Nunun Nurbaeti, Arie Malangjudo menyerahkan amplop berisi TC BII dalam tas karton yang sudah diberi label warna merah, kuning, hijau, dan putih. "Penandaan itu berdasarkan warna masing-masing fraksi," imbuhnya.
Agus berharap, tiga terdakwa lainnya yakni Endin Soefihara (Fraksi PPP), Hamka Yandhu (Fraksi Golkar) dan Udju Juhaeri (Fraksi TNI Polri) juga mengikuti jejak Dudhie yang mengungkap para penerima lainnya. "Kalau sekarang mereka ngaku kan lebih jelas," ungkapnya.
Ia juga berpesan kepada rekan-rekan separtainya, lebih baik untuk mengaku jika menerima cek perjalanan. "Sepandainya melompat, nanti jatuh juga. Panda Nababan, Emir Moeis, Tjahjo Kumolo selalu membantah, tapi nama mereka disebut juga dalam dakwaan. Jujurlah, untuk apa berbohong-bohong," pungkas Agus.(MI/ICH)




Dari seluruh/sak negeri ini orang PDIP....AKU SALUT DAN ANGKAT TOPI KEPADA PAK AGUS CHONDRO....JUJUR DAN APA-ADANYA....LUAR BIASA NIH ORANG......ternyata masih ada orang JUJUR di PDIP ya...kupikir semuanya maling apalagi si mbok biangnya maling....TERUSKAN KEJUJURAN ITU PAK AGUS........KARENA AMALAN ITULAH YG DI BAWA MATI............SELAMAT BERJUANG PAK AGUS CHONDRO.
WELH WELEH ......... PARTAI YG TERIAK PALING KERAS SOAL KENTURI DAN ANTI KORUPSI KOG TERNYATA DI TERANG BENDERANG JADI KELIHATAN SEPERTI ITU YA ???????????????????????
Hebat..hebat...hebat orang2 pdip berlagak bersih dari korupsi eh.....keenakan juga dengan korupsinya. pendekar juga kalian Panda Nababan, Emir Moeis, Tjahjo Kumolo, Pantasan si mocong putih berbuih moncongnya.
Gampang kok caranya kalau ditujukan ke per orangan kalau TC BII di cek ke BII nya yang cairkan siapa aja pasti tahu kok.