Kalla: Tak Perlu Pusing Tabung Elpiji Berlogo SNI atau Tidak
Metrotvnews.com, Jakarta: Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengaku memiliki tanggung jawab moril atas maraknya kasus ledakan tabung elpiji tiga kilogram. Pasalnya, program konversi minyak tanah dengan elpiji merupakan keputusan Kalla saat masih menjabat Wakil Presiden bersama dengan Presiden Yudhoyono.
"Itu tanggung jawab saya karena dulu itu adalah keputusan kita berdua," ucapnya seusai mengikuti diskusi dengan para ahli Uni Eropa dan ASEAN terkait mediasi perdamaian di Hotel Le Meridien, Jumat (30/7).
Menurut Kalla masalah ledakan gas bukan hanya soal konversi, tapi tabung gas secara keseluruhan. "Bukan cuma yang tiga kg saja, tapi yang 12 kg juga. Ini masalah yang menyeluruh," katanya.
Salah satu solusi yang ditawarkan Kalla adalah meningkatkan kontrol kualitas terhadap tabung-tabung gas yang beredar. Konkritnya, adalah dengan membangun bengkel-bengkel pengendali kualitas yang bisa diselipkan di Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE).
"SPBE jumlahnya ada sekitar 450. Minimal Pertamina harus membuat satu bengkel pengendali di 10 SPBE. Paling tidak, kita harus punya 50 tempat pengendali seperti itu," ujarnya.
Tiap 10 hari sekali tabung gas akan masuk SPBE untuk diisi ulang. Pada tahap inilah, Pertamina bisa memperketat lagi pengendalian kualitas atas tabung-tabung yang beredar. Dengan demikian, menurut Kalla, pemerintah tak perlu memusingkan lagi soal tabung gas yang berlogo Standar Nasional Indonesia (SNI) atau tidak.
"Yang perlu ditarik adalah tabung yang kualitasnya jelek. Bukan berdasarkan ada logo SNI atau tidak. Belum tentu yang ada logonya tidak rusak," tegas Kalla. (MI/DOR)




semoga dapat tertangani dengan baik.
Salam Indonesia
selain kurangnya pengawasan/control terhadap produk2 tabung LPG, Juga kurangnya sosialilasi tentang cara pemasangan acesoris pada compor,,,dan kurangnya kesadaran/kewaspadaan konsumen itu sendiri akan pentingnya keselamatan pada saat menggunakan gas LPG.
seharusnya dpr mengawasi kelayakan tabung LPG sebelum terjadi ledakan, kasihan rakyat. bila masih terjadi insiden serupa, bisa terancam konversi ke depannya.