Saparan Bekakak Upacara Memperingati Kesetiaan Abdi Kraton
Metrotvnews.com, Yogyakarta: Daerah Istimewa Yogyakarta dikenal kaya dengan tradisi budaya. Salah satunya upacara adat Saparan Bekakak yang telah ada sejak pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I pada abad ke-18. Dalam upacara ini terdapat ritual menyembelih boneka sepasang pengantin.
Prosesi adat Saparan Bekakak acap mendapat perhatian ribuan warga. Ritual ini dimulai dari Lapangan Ambar-ketawang di Kecamatan Gamping, Sleman, DIY. Berbagai sesaji, berupa gunungan sayur mayur dan boneka bekakak diarak keliling Desa Ambar-ketawang sejauh empat kilometer dengan dikawal prajurit Kraton Yogyakarta dan pasukan berkuda.
Setelah dikirab, bekakak pun disembelih di lokasi bekas Gunung Gamping atau Gunung Kapur. Di sela-sela penyembelihan, gunungan sayur mayur juga dibagikan kepada pengunjung.
Dilihat dari asal katanya, Saparan diambil dari bulan sapar, yaitu bulan kedua dalam penanggalan Jawa. Sedangkan bekakak berarti korban penyembelihan. Bekakak dalam upacara ini diwujudkan dalam bentuk boneka pengantin laki-laki dan perempuan yang terbuat dari tepung ketan.
Upacara Saparan Bekakak ini digelar untuk memperingati kesetiaan seorang abdi kraton, Ki Wirosuto, kepada Sri Sultan Hamengkubuwono I. Ki Wirosuto yang merupakan abdi dalem kesayangan Sri Sultan meninggal akibat tertimpa Gunung Gamping yang runtuh. Atas perintah Sultan, masyarakat setempat diminta menggelar prosesi adat agar tidak lagi terjadi peristiwa serupa dan memakan korban jiwa.(DSY)



