Metrotvnews.com, Jakarta: Membanjirnya likuiditas Amerika Serikat, resesi ekonomi di Eropa dan penguatan mata uang China terhadap dolar AS mendorong penguatan mata uang Tanah Air. Hal ini diharap mampu memacu sektror rill berekspansi. Hal ini disampaikan pengamat ekonomi Ryan Kiryanto, baru-baru ini. Menurut Ryan, jika sektor riil di Indonesia bergairah, pertumbuhan ekonomi diprediksi mencapai hingga enam persen. Kelebihan likuiditas di AS membikin bank sentral AS menahan diri mencetak dolar. Karenanya, banyak investor asing menarik modal dari negara lain, termasuk Indonesia. Ryan menilai, tak heran banyak dana asing tersangkut di sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan surat utang negara (SUN). Imbas hasil SBI dan SUN lebih tinggi bila dibandingkan dengan membeli instrumen dengan dolar AS. Kendati AS negara emerging market, pertumbuhan ekonomi Indonesia merupakan ke-3 tertinggi di dunia pada 2009, yakni 4,3 persen. Saat itu, China menempati posisi pertama dengan pertumbuhan delapan persen. Disusul India sebesar tujuh persen. Tahun ini, Indonesia menargetkan pertumbuhan mencapai 5,0 hingga 5,5 persen. Hal ini akan didorong BI Rate sebesar 6,5 persen di awal 2010. Pertumbuhan kredit diprediksi 15 persen.(*****)