Jumat, 6 November 2009 18:18 WIB
Begitulah yang kita rasakan sekarang ini. Partai politik tidak bisa lagi menjadi penyambung lidah rakyat. Anggota parlemen bukan lagi wakil rakyat yang memperjuangkan nasib rakyat. Parpol sudah terputus hubungannya dengan rakyat pemilih. Anggota parlemen sudah tidak lagi mempunyai hati, tidak lagi memiliki nurani. Mereka tidak mampu menangkap denyut yang ada di tengah masyarakat. Ketua Tim 8 Adnan Buyung Nasution tidak keliru mengatakan era parpol sudahlah berakhir. Bahkan ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membentuk Tim 8 untuk meverifikasi kasus dua pimpinan nonaktif Komisi Pemberantasan Korupsi Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah merupakan simbol bahwa para menteri yang berasal dari parpol tidak bisa diandalkan dan dianggap tidak mampu untuk menyelesaikan persoalan bangsa. Kita pantas prihatin dengan pernyataan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar yang menganggap tidak relevan dibukanya rekaman pembicaraan yang berkaitan dengan rekayasa kasus di KPK oleh Mahkamah Konstitusi. Bagaimana seorang pejabat negara yang bertanggung jawab terhadap persoalan hukum bisa menutup mata terhadap kenyataan maraknya mafia hukum di negeri ini. Kalau seorang menteri hukum tidak peduli dengan kenyataan bobroknya penegakan hukum di negeri ini, bagaimana kita bisa berharap adanya perbaikan dalam sistem hukum di negara ini. Kita semakin prihatin lagi melihat kualitas anggota DPR yang menangani masalah hukum. Dalam rapat dengar pendapat dengan Kepala Kepolisian RI kemarin, anggota DPR kehilangan kekritisannya. Mereka tidak menangkap perasaan hati yang berkembang di tengah masyarakat atas kebobrokan dalam sistem hukum di negeri kita. Rekaman pembicaraan yang begitu vulgar tentang bagaimana hukum bisa dipermainkan sepertinya tidak mengusik sama sekali rasa keadilan anggota DPR. Mereka seperti tidak pernah mendengar dan bahkan tidak mau tahu dengan fakta yang begitu terang benderang. Dengan arogannya malah para anggota DPR menunjukkan bahwa merekalah yang paling berkuasa dan paling berhak atas segala persoalan hukum. Mereka menyerang institusi-institusi lain yang mereka anggap bukan hanya tidak punya hak, tetapi juga tidak kapabel. Arogansi anggota DPR menunjukkan bahwa mereka sungguh tidak punya hati. Putus sudah perasaan mereka terhadap apa yang sedang menjadi keprihatinan besar dari bangsa ini. Lalu apa selanjutnya yang kita bisa harapkan? Jawabannya tinggal terletak pada Presiden sebagai pemimpin tertinggi di negeri ini. Apakah semua ketidakbenaran ini akan terus dibiarkan berlangsung? Kita bukan hanya sedang kehilangan nilai bangsa, tetapi dihadapkan pada situasi di mana kita gila terhadap yang namanya kekuasaan. Sepertinya kekuasaan itu merupakan sesuatu yang absolut dan bisa mendominasi sebuah kebenaran. Ketika kekuasaan yang ada di tangannya tersentuh sepertinya sangatlah mengganggu. Mereka bukan hanya tidak bisa menerimanya, tetapi secara apriori menolak pandangan pihak lain, sebenar apa pun pandangan itu. Persaingan tidak sehat antarlembaga itulah yang sedang dipertontonkan oleh para elite politik. Demi kekuasaan mereka yang absolut, mereka menihilkan sama sekali upaya yang dilakukan pihak lain. Tidak ada empati sama sekali, tidak ada apresiasi sama sekali, pokoknya pihak lain salah dan buruk. Bagaimana negeri ini akan bisa dibangun apabila pendekatannya menang-menangan kekuasaan seperti ini. Bagaimana kita bersaing dengan bangsa lain apabila kita selalu curiga kepada saudara kita sendiri. Di sinilah kita mengharapkan Presiden sebagai Kepala Negara untuk turun tangan. Pertama membenahi ketidakberesan penegakan hukum yang oleh Presiden sendiri dikatakan sebagai mafia hukum. Jangan biarkan antarlembaga negara berargumentasi tanpa dasar, sementara para mafia hukum dibiarkan terus menari-nari. Kita pantas peduli kepada nasib bangsa dan negara ini. Niscaya negara ini akan hancur kalau dibiarkan seperti ini. Demokrasi yang sudah dengan susah payah ditegakkan akan sia-sia apabila kita gagal menegakkan hukum. Mimpi besar kita untuk Indonesia yang lebih baik tidak akan pernah terwujud apabila kekacauan seperti ini terus dibiarkan. Kepekaan dan kepedulian inilah yang kita harapkan datang dari pemimpin tertinggi negara ini.
Rakyat sdh punya pengalaman dlm menurunkan seorang Presiden. Tp, Rakyat blm punya pengalaman unt membubarkan DPR shg Anggota DPR khususnya dr Partai Demokrat lbh menghamba pd kepentingan Pemerintahan SBY dr pd memperjuangkan nasib Rakyat dlm hal ini adlh nasabah B.Century yg sdh smp menelan korban jiwa tsb. Jd, apakah DPR nunggu unt dibubarkan oleh Rakyat sbg pemegang kedaulatan tertinggi di negeri ini ?????
Di negeri para bedebah, peradaban sudah musnah...... jadi tak usah berteriak kepada Allah........ karena sebentar lagi negeri ini pun musnah
Parpol kehilangan hati nurani, menurut saya wajar soalnya kasus yang dipermasalahkan itu bertentangan dengan kepentingan pribadi , jadinya wajarkan jika parpol lebih mendukung yang menguntungkan jika tidak maka akan susah sendiri dan akan mendapatkan akibat yang tak menyenangkan
usahakanlah masuk sorga agar ga berjumpa dgn orang2 yang anda maksud..atau sama2 bertemu mereka di neraka dan ditertawakan..HIDUP SUSAH DIDUNIA, MATI MASUK NERAKA PULA..MASIH UNTUNG KAMU HIDUP PENUH SUKA DIDUNIA MATI MASUK NERAKA..DAN yang paling beruntung yang mendapat kasih karunia Tuhan..hidup penuh suka di dunia dan mati masuk sorga
ketika kekuasaan suudah didapatkan lupa akan tujuan awal hanya diri sendiri & partai di utamakn itu tujuan sebenarnya dengan kedok atas nama rakyat,rakyat yg mana.......??????
Rakyat sdh punya pengalaman dlm menurunkan seorang Presiden. Tp, Rakyat blm punya pengalaman unt membubarkan DPR shg Anggota DPR khususnya dr Partai Demokrat lbh menghamba pd kepentingan Pemerintahan SBY dr pd memperjuangkan nasib Rakyat dlm hal ini adlh nasabah B.Century yg sdh smp menelan korban jiwa tsb. Jd, apakah DPR nunggu unt dibubarkan oleh Rakyat sbg pemegang kedaulatan tertinggi di negeri ini ?????
Di negeri para bedebah, peradaban sudah musnah...... jadi tak usah berteriak kepada Allah........ karena sebentar lagi negeri ini pun musnah
Parpol kehilangan hati nurani, menurut saya wajar soalnya kasus yang dipermasalahkan itu bertentangan dengan kepentingan pribadi , jadinya wajarkan jika parpol lebih mendukung yang menguntungkan jika tidak maka akan susah sendiri dan akan mendapatkan akibat yang tak menyenangkan
usahakanlah masuk sorga agar ga berjumpa dgn orang2 yang anda maksud..atau sama2 bertemu mereka di neraka dan ditertawakan..HIDUP SUSAH DIDUNIA, MATI MASUK NERAKA PULA..MASIH UNTUNG KAMU HIDUP PENUH SUKA DIDUNIA MATI MASUK NERAKA..DAN yang paling beruntung yang mendapat kasih karunia Tuhan..hidup penuh suka di dunia dan mati masuk sorga
ketika kekuasaan suudah didapatkan lupa akan tujuan awal hanya diri sendiri & partai di utamakn itu tujuan sebenarnya dengan kedok atas nama rakyat,rakyat yg mana.......??????