Sabtu, 26 Desember 2009 15:18 WIB
Bayangan menakutkan tsunami yang memorak-porandakan Nanggroe Aceh Darussalam lima tahun lalu pasti masih melekat kuat dalam benak sebagian kita. Peristiwa di hari Minggu pagi itu merupakan sebuah kenyataan yang pantas membuat kita merasa kecil ketika alam sedang murka.Ratusan ribu jiwa melayang seketika akibat gelombang pasang yang tiba-tiba menyapu Aceh. Mayat-mayat bergelimpangan hampir di seluruh bagian Barat Aceh. Seluruh kota di kawasan yang dilanda tsunami benar-benar luluh lantah.Berbulan-bulan kita hidup dalam kedukaan. Selama lima tahun ini kita berupaya untuk bangkit membangun kembali kehidupan. Bersama-sama kita berupaya untuk menata kembali perumahan, tempat pendidikan, dan pusat kesehatan. Kita mencoba membangun kembali kota dan negeri yang hancur total karena terjangan tsunami.Bantuan dari pelosok dunia segera berdatangan. Bukan hanya simpati dari negara yang datang untuk meringankan beban yang diderita keluarga yang menjadi korban tsunami, tetapi lembaga-lembaga swadaya masyarakat dari seluruh dunia datang untuk membantu.Setidaknya ada sekitar 6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 60 triliun dana yang mengalir untuk membangun kembali Aceh. Sebuah dana yang tidak sedikit dan seharusnya bisa dipakai untuk bisa menata kembali kembali kehidupan yang rusak karena terjangan tsunami.Setelah lima tahun bencana berlalu, sudahkah keadaan menjadi lebih baik? Jika ukuran yang dipakai adalah tingkat kerusakan akibat terjangan tsunami, tentu keadaan sekarang sudah jauh lebih baik. Kecuali monumen-monumen besar serta kuburan massal, praktis tidak ada lagi kerusakan yang mudah terlihat akibat terjangan air bah yang maha dahsyat itu. Namun jika ukuran yang kita pakai adalah tingkat kehidupan masyarakat yang lebih baik, maka kita belum berhasil mengangkat kehidupan masyarakat Aceh ke tingkat yang lebih berpengharapan.Sungguh ironis masa rehabilitasi dan rekonstruksi justru dianggap sebagai zaman normal. Ketika dana bantuan mengalir deras ke daerah itu, memang uang sepertinya begitu gampang didapat. Semua ukuran kehidupan menjadi tidak wajar. Sewa rumah, sewa kendaraan, bahkan biaya honorarium dibayar dengan kelipatan yang tiada terkira.Semua orang seperti tersengat aji mumpung. Semua orang sepertinya digelapkan matanya. Mereka membiarkan semua ketidakwajaran itu terus terjadi. Atas nama bencana seakan-akan semua itu merupakan sesuatu yang lumrah. Kita lupa bahwa pada akhirnya kehidupan akan kembali ke situasi normal. Kita tidak mungkin terus hidup atas belas kasihan orang lain. Kita harus bisa berdiri tegak di atas kaki kita sendiri.Sepanjang lima tahun kita gagal untuk menempatkan program rehabilitasi dan rekonstruksi yang berwawasan jauh ke depan dan berkelanjutan. Kita gagal untuk bisa membangun sebuah kehidupan baru yang lebih menjanjikan masa depan yang lebih baik. Setelah semua program rehabilitasi dan rekonstruksi berlalu, kita seakan baru tersadar dari mimpi.
Sekarang kita baru menyadari bahwa apa yang kita lakukan selama ini belum seberapa dan perjalanan yang harus kita lalui masih begitu panjang serta berliku-liku.Setelah bencana yang praktis meluluhlantahkan seluruh kota, kita sebenarnya membayangkan hadirnya sebuah kota baru yang lebih tertata rapih dan mampu membangkitkan optimisme baru. Ternyata kita gagal untuk melahirkan sebuah cetak biru pembangunan kota baru yang lebih baik. Pembangunan kota tumbuh seperti jamur di musim hujan. Ia berkembang secara bebas tanpa ada penataan.Termasuk LSM gagal untuk melahirkan sebuah masyarakat yang punya tanggung jawab atas lingkungannya. LSM dalam maupun luar negeri justru ikut menyuburkan sikap aji mumpung di tengah masyarakat. Mereka ikut jor-joran untuk membuat masyarakat Aceh berorientasi kepada materi semata.Setelah lima tahun berlalu masyarakat disadarkan kepada kenyataan bahwa masih banyak pekerjaan yang belum terselesaikan untuk membangun Aceh yang lebih baik. Investasi yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan belum tercipta. Kredit perbankan memang naik hampir empat kali menjadi Rp 12 triliun, namun 60 persen di antaranya dipakai untuk keperluan konsumsi semata.Warga Aceh masih banyak yang belum mendapat pekerjaan. Setelah program rehabilitasi dan rekonstruksi berakhir, tidak ada lapangan pekerjaan baru yang mereka bisa masuki. Pola pikir masyarakat belum lagi berubah, masih mengharapkan adanya program rehabilitasi dan rekonstruksi yang dianggap sebagai zaman normal itu.Saatnya Pemerintah Daerah menyadarkan masyarakat bahwa keadaan normal itu adalah keadaan sekarang ini. Keadaan yang menuntut masyarakat untuk kreatif dan inovatif. Masyarakat harus dibukakan matanya untuk mempunyai wawasan yang lebih jauh ke depan, sehingga tidak hanya mengejar kepentingan jangka pendek.Keamanan dan ketertiban merupakan dua hal yang harus bisa segera diciptakan. Pungutan-pungutan liar dengan menggunakan istilah “Pajak Nanggroe” adalah peninggalan masa darurat militer dulu. Tidak pada tempatnya cara-cara seperti itu masih dibiarkan ada. Aceh tidak akan bisa menarik investasi apabila cara berpikirnya masih bersifat jangka pendek, asal mendapat keuntungan pribadi seperti itu.Aceh tidak pelak merupakan daerah yang kaya. Mereka memiliki sumber daya alam yang melimpah yang seharusnya bisa memakmurkan mereka yang tinggal di sana. Namun seperti gambaran besar negeri ini, kekayaan sumber daya alam itu bukan jaminan bahwa kehidupan masyarakatnya bisa lebih baik. Akhirnya memang yang menentukan kemajuan sebuah daerah ataupun negara bukanlah seberapa kaya sumber daya alam yang dimiliki, tetapi seberapa banyak manusia berkualitas yang dipunyai.Peringatan lima tahun tsunami bukan hanya baik untuk mengenang peristiwa yang telah membuat kita kehilangan begitu banyak sanak saudara kita, tetapi pelajaran penting bagi kita yang masih hidup untuk bisa menata kehidupan yang lebih baik. Aceh harus bisa menjadi contoh sebuah kebangkitan dan kemajuan pembangunan di Indonesia. Bukan Aceh seperti sekarang yang menjadi salah satu provinsi yang tertinggal di belakang.
Mohon kepada Bapak Pimpinan Metro TV. Agar dapat menegaskan pers di wilayah Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara untuk mengakses seluruh kinerja Pemkab Agara. Dalam pro aktif pada masyarakat dan bukan pada pemerintah.
Mohon jangan lagi berpangku sebelah tangan menghadapi persoalan aceh. Agar mesyarakat aceh dapat mensejahtrakan dirinya masing - masing. Pasca Tsunami jangan dibuat ajang kepentingan pribadi yang mana selama ini oknum tertentu meraja lela di negeri Serambi Mekah. Mohon para Anggota Legislatif dapat bekerja sama dengan jajaran Eksekutif/Yudikatif untuk membangun aceh kembali dari segala aspek demi kesejahtraan masyarakat. Allah akan memberikan imbalan lebih dari cucuran keringat selama kita di dunia. Amin ya robal alamin................
Berkaitan dg komentar pak pardjo wiyono. dan pak endri budianto..Memang ,lebih arif jika pak Suryopratomo sebelum mengangkat masalah Aceh ini, berdiskusi dulu dg mantan pengelola BRR Aceh sehingga pengungkapan permaslahannya lebih fair.....Kalau tdk salah..misi BRR Aceh memang sebatas rekonstruksi phisik,..sedang pembengunan sosial selanjutnya menjadi tanggung jawab pengelola pemerintahan.....
Banyak yang berubah Aceh pasca tsunami, bahkan jauh lebih baik dari sebelum tsunami, infrastruktur akses jalan sangat mulus dan lebar, Masjid berdiri megah, Rumah Sakit dan Puskesmas terbangun megah, monumen tsunami juga ada, semuanya membawa hikmah sendiri bagi warga Aceh. Namun ada permasalahan yakni kurang transparan terhadap semua bantuan dan hibah, juga lapangan pekerjaan bagi generasi muda di Aceh, juga ada yang menari-nari diatas penderitaaan Warga Aceh, yang mana tsunami dijadikan propaganda kepentingan pribadi dan golongan / kelompok.
Tidak hanya Aceh yang luluh lantak akibat sikap hidup yang serba materialistis.....Marilah kita sama sama kita pelajari secara seksama UU32/2009 ttg PPLH, dan kita dukung pemerintah agar mampu memenuhi kewajiban2nya yang tertuang dlm uu tsb.....Jika uu tsb dpt terlaksana, kita dapat berharap akal sehad, kepedulian thd masa depan dll dapat menjadi landasan sikap hidup bangsa Indonesia......
Mohon kepada Bapak Pimpinan Metro TV. Agar dapat menegaskan pers di wilayah Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara untuk mengakses seluruh kinerja Pemkab Agara. Dalam pro aktif pada masyarakat dan bukan pada pemerintah.
Mohon jangan lagi berpangku sebelah tangan menghadapi persoalan aceh. Agar mesyarakat aceh dapat mensejahtrakan dirinya masing - masing. Pasca Tsunami jangan dibuat ajang kepentingan pribadi yang mana selama ini oknum tertentu meraja lela di negeri Serambi Mekah. Mohon para Anggota Legislatif dapat bekerja sama dengan jajaran Eksekutif/Yudikatif untuk membangun aceh kembali dari segala aspek demi kesejahtraan masyarakat. Allah akan memberikan imbalan lebih dari cucuran keringat selama kita di dunia. Amin ya robal alamin................
Berkaitan dg komentar pak pardjo wiyono. dan pak endri budianto..Memang ,lebih arif jika pak Suryopratomo sebelum mengangkat masalah Aceh ini, berdiskusi dulu dg mantan pengelola BRR Aceh sehingga pengungkapan permaslahannya lebih fair.....Kalau tdk salah..misi BRR Aceh memang sebatas rekonstruksi phisik,..sedang pembengunan sosial selanjutnya menjadi tanggung jawab pengelola pemerintahan.....
Banyak yang berubah Aceh pasca tsunami, bahkan jauh lebih baik dari sebelum tsunami, infrastruktur akses jalan sangat mulus dan lebar, Masjid berdiri megah, Rumah Sakit dan Puskesmas terbangun megah, monumen tsunami juga ada, semuanya membawa hikmah sendiri bagi warga Aceh. Namun ada permasalahan yakni kurang transparan terhadap semua bantuan dan hibah, juga lapangan pekerjaan bagi generasi muda di Aceh, juga ada yang menari-nari diatas penderitaaan Warga Aceh, yang mana tsunami dijadikan propaganda kepentingan pribadi dan golongan / kelompok.
Tidak hanya Aceh yang luluh lantak akibat sikap hidup yang serba materialistis.....Marilah kita sama sama kita pelajari secara seksama UU32/2009 ttg PPLH, dan kita dukung pemerintah agar mampu memenuhi kewajiban2nya yang tertuang dlm uu tsb.....Jika uu tsb dpt terlaksana, kita dapat berharap akal sehad, kepedulian thd masa depan dll dapat menjadi landasan sikap hidup bangsa Indonesia......