Jangan Hanya Pasar Modal

Senin, 4 Januari 2010 19:58 WIB

Kehadiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada pembukaan perdana perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia tahun 2010 memberi sinyal yang positif bagi pasar. Harga saham langsung bergerak naik dan di hari pertama perdagangan indeks harga saham gabungan ditutup menguat hingga 41,057 poin (1,62%) ke level 2.575,413. Sementara Indeks LQ 45 naik 9,626 poin (1,93%) ke level 507,914.

Sebagai sebuah indikator perekonomian yang modern, pasar modal memang pantas untuk diperhatikan. Dari tempat itulah para pengusaha bisa mendapatkan dana yang relatif lebih murah bagi pengembangan usaha mereka. Karena itu wajar pantas apabila pejabat tinggi negara memberi perhatian ke sana.

Hanya saja di sisi lain kita juga melihat betapa harapan bagi dimanfaatkannya pasar modal sebagai tempat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, tidak sepenuhnya berjalan. Kapitalisasi yang didapatkan dari bergairahnya pasar modal, tidak dialirkan dalam bentuk pengembangan usaha yang bisa membuka lapangan pekerjaan baru.

Kita lebih sering melihat pasar modal justru sebagai tempat untuk sekadar mengeruk keuntungan. Mereka masuk ke sana motifnya untuk mengeruk keuntungan jangka pendek. Pasar modal sekadar dilihat sebagai tempat untuk mendongkrak nilai perusahaan dan mendapatkan capital gain.

Bahkan yang lebih ironis dalam kasus Indonesia, pasar modal dipakai sebagai tempat para investor asing untuk mengeruk keuntungan. Setiap tahun, Bursa Efek Indonesia menjadi salah satu pasar modal dengan tingkat keuntungan tertinggi di dunia. Tahun 2009 lalu, IHSG menjadi yang terbaik di Asia di mana pertumbuhannya lebih dari 85 persen. Tidak usah heran apabila investor asing berlomba-lomba masuk ke pasar modal kita.

Lebih dari 60 persen kapitalisasi yang ada di pasar modal berasal dari uang asing. Mereka menikmati betul capital gain yang bisa mereka peroleh dari lantai bursa di sini. Apalagi sistem devisi bebas yang berlaku di Indonesia, membuat mereka untuk mudah sekali untuk memasukkan dan menarik dananya dari negeri ini.

Dalam konteks itulah, kita ingin mengingatkan agar jangan hanya perhatian itu diberikan kepada  pasar modal saja. Yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah geliat yang ada di pasar-pasar yang lebih riil seperti misalnya Pasar Blok M, Pasar Tanah Abang, Pasar Senen, Pasar Beringharjo, Pasar Klewer . Di sana aktivitas perekonomian yang melibatkan banyak orang terjadi dan dampaknya langsung terasakan oleh rakyat banyak.

Sekarang ini pasar-pasar itu sedang dihadapkan kepada kekhawatiran besar. Diberlakukannya perjanjian perdagangan bebas dengan China mulai tanggal 1 Januari lalu ditakutkan akan memukul pengusaha dalam negeri. Para pengusaha kecil dan menengah yang sangat mengandalkan pasar-pasar itu sebagai saluran penjualan mereka, khawatir tidak akan mampu bertahan menghadapi serbuan produk-produk China yang harganya bisa jauh lebih murah.

Sejak pergantian tahun akan terjadi, kalangan pengusaha sudah mengingatkan akan ketidaksanggupan produk-produk dalam negeri untuk bersaing dengan produk asal China. Persoalannya bukan hanya terletak pada masalah produktivitas, tetapi berkaitan dengan faktor lain seperti biaya modal yang lebih mahal karena tidak suku bunga pinjaman kita yang lebih mahal, keterbatasan infrastruktur, hingga kalahnya insentif yang diberikan pemerintah kepada pengusaha.

Meski ancaman itu sudah begitu riil dan keluhan sudah disampaikan, namun kita tidak melihat tanggapan yang segera dari pemerintah. Menko Perekonomian Hatta Rajasa misalnya, hanya mengatakan bahwa pemerintah pasti akan melindungi industri dalam negeri. Tetapi bagaimana caranya, selalu dikatakan sebagai sesuatu yang tidak perlu dibuka.

Pemerintah baru dijadwalkan untuk membahas khusus masalah dampak dari perdagangan bebas dengan China itu pada hari Selasa besok. Sesudah lima hari baru akan dilakukan pengkajian dan kita belum tahu berapa lama kemudian aksi yang akan diambil bisa melindungi pengusaha dalam negeri.

Pemerintah paling tidak senang apabila disebut menerapkan neoliberalisme. Pemerintah sangat sensitif apabila dicap seperti itu. Namun praktik-praktik keseharian yang dilakukan menunjukkan sikap-sikap yang properdagangan bebas tanpa reserve. Paham yang dianut bahwa perdagangan bebas akan menguntungkan masyarakat, karena akan mendapatkan harga yang lebih murah. Tetapi tidak pernah dipikirkan, apakah perdagangan bebas itu dilaksanakan secara adil? Tidak pernah dipikirkan bahwa sebuah bangsa itu bukan hanya harus menjadi konsumen, tetapi harus memiliki juga kemampuan berproduksi. Kemampuan berproduksi ini bukan sekadar untuk membuat bangsa itu bisa menghasilkan sesuatu, tetapi membuat bangsa itu menjadi bangsa yang bekerja.

Agar sebuah bangsa memiliki kemampuan berproduksi, kadang mereka harus diproteksi terlebih dahulu. Bahkan seringkali bangsa itu harus berkorban agar kemudian bisa memiliki industri yang bisa diandalkan. Itulah yang biasa dikenal sebagai cost of learning. Semua negara melakukan itu. Jepang, Korea, China, dan Amerika bisa menjadi negara industri maju karena pertama bangsanyalah yang mendukung industri di negara mereka  untuk maju.

Pertanyaannya, apakah kita sudah secara konsisten melakukan itu. Apakah secara sengaja kita sudah membangun bangsa ini memasuki tahap konsumtivisme setelah melalui proses panjang dari mulai revolusi yang melahirkan etos kerja dan disiplin untuk menghasilkan sebuah produk dan bahkan dikembangkan lagi menjadi produk yang lebih baru? Sebagai bangsa, kita belum pernah melakukan itu. Kita belum pernah membangun etos kerja, kita belum punya disiplin, dan kita belum pernah memiliki produk. Kalau tiba-tiba masyarakat dicekoki dengan paham konsumtivisme melalui harga yang lebih murah, maka matilah bangsa itu.

Dalam konteks itulah kita ingin meminta Presiden Yudhoyomo untuk tidak hanya memperhatikan pasar modal di awal tahun 2010. Kunjungi pulalah pasar-pasar rakyat dan dengarkan langsung jeritan hati mereka. Pasar-pasar itu sangat membutuhkan uluran tangan pemerintah agar bisa terus bertahan. Ratusan juta orang tergantung di sana, bukan hanya ratusan ribu seperti di pasar modal.

Bookmark and Share



KOMENTAR [6]

  • Misriadi Mahdi, Rabu, 4-Januari-2010

    Potensi pasar sudah tersedia di negara sendiri. Tapi sayang, potensi pasar itu justru dinikmati oleh negara-negara lain, karena ibu pertiwi tak mau berkorban.Bukan soal omong kosong, kalau negara mau berkorban, pasti industri Indonesia akan maju. Sbg penunjang perekonomian yg menjadi karakter Indonesia adalah UKM (Usaha Kecil Menengah). Namun,Para UKM kita tak sanggup menjadikan industrinya berkembang atau untuk meningkatkan atau mengembangkan industrinya. Alasan tak lain tak bukan adlh modal dan bimbingan pengarahan.Lihat saja, bunga2 pinjaman Bank Indonesia (Bunga bank terbesar di dunia), berkisar 13-15% atau bahkan lebih. Kalau boleh kita bandingkan dengan Singapur hanya 3-5%. Mungkin lebih ekstrimnya Amerika berani mematok bunga pinjaman nol sekian persen (0,-an%).Itu semua dilakukan negara2 besar demi menumbuhkan industri dalam negerinya. Tp sayang,negara tak berani berkorban,hnya omong kosong!

  • samsoel maarif, Selasa, 3-Januari-2010

    SAAT SEKARANG INI MUSTINYA YANG SIBUK MENTERI PAN...........EH, TAPI KELIHATANNYA KOK TENANG TENANG AJA YA........

  • endri budianto, Selasa, 3-Januari-2010

    Dalam Peraturan Pemerintah No. 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern sangat melemahkan pedagang pasar tradisional. Yang didalamnya terdapat dua persoalan pokok dalam kebijakan hukum tersebut. 1. Persoalan zonasi ( wilayah ). 2. Persoalan menyangkut mandat yang sangat luas kepada Pemerintah Kab/Kota. Yang mana akan menimbulkan persaingan yang tidak fair akan terjadi jika Pemerintah Daerah tidak memberikan perlindungan zona kepada pasar tradisional, mengingat secara logis pasar tradisonal akan sulit bersaing dengan pasar modern. Sangat ironis sekali yang mana barang dagangan di pasar tradisional yang “becek-panas” dijual dengan harga yang sama dengan sebuah hipermarket/supermarket yang “bersih-sejuk-tertata dengan rapi”, tak dapat terbantahkan konsumen akan memilih pasar modern. Inilah yang sangat rentan terjadi. Kerap kali pasar tradisonal harus gulung tikar ketika pasar modern berada pada zona yang tidak wajar.

  • dani apriyadi, Selasa, 3-Januari-2010

    berjudi dengan ekonomi jasa dan menidurkan tenaga kerja dipangkuan ibu pertiwi menghasilkan pabrik kemiskinan,gizi buruk dalam waktu singkat.dukungan untuk harapan pemimpin yang tangguh dengan payung hukumnya memberikan pola pembangunan nasional yang menyentuh lini terbawah gunung es dikeluarga inti dapat mencegah pabrik kemiskinan.

  • mbokde, Senin, 2-Januari-2010

    sudah bukan negara Indonesia, tapi berubah menjadi negara Ironis. Koq pasar modal dijadikan salah satu indikator andalan.

KIRIM KOMENTAR ANDA

Nama
Email
Komentar Anda
Kode Keamanan
 

© 2004 - 2012 MetroTVNews.com All rights reserved.
Comments & suggestions please email webmetro@metrotvnews.com
FANS INGIN BARCA REKRUT GARETH BALE DARI SPURS   *   USAI DIRAWAT AKIBAT PNEUMONIA, LEGENDA SEPAK BOLA PORTUGAL EUSEBIO DIIZINKAN PULANG   *   PRESIDEN OBAMA UCAPKAN SELAMAT TAHUN BARU PADA WARGA DUNIA   *   FERGIE KECEWA MU DIKALAHKAN BLACKBURN 2-3   *   INDONESIAN POLICE CONTINGENT IN SUDAN PRESENTED FINANCIAL ASSISTANCE TO REFUGEES IN THE DARFUR REGION   *   MICHAEL ESSIEN AKAN KEMBALI BELA CHELSEA MEDIO JANUARI 2012   *   KORBAN TEWAS AKIBAT BADAI THENE DI INDIA JADI 42 ORANG   *