- Kecelakaan yang Memilukan
- Piramida Dicari, Muaro Jambi Disia-siakan ..
- Bank Mutiara Diincar Investor
- Menjaga Kepercayaan Publik
- Partai Demokrat Terus Bergolak
- Mengembalikan Trotoar ke Fungsinya
- Beranikah PDIP Pelopori Politik Bersih
- Partai Demokrat Masih Bimbang
- Ketika Pilot Pakai Sabu
- Angelina Sondakh Jadi Tersangka
- Jangan Adu Pengusaha dan Buruh
- Pemerintah Hadapi Boikot AS
- Kegigihan Jaksa Dalam Kasus Rasminah
- Menguji Kewibawaan Pemerintah
- Pertarungan Menuju Puncak
Cadangan Devisa 100 Miliar Dollar AS
Kamis, 7 Januari 2010 17:44 WIB
Menyenangkan mendengar keyakinan Penjabat Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution bahwa cadangan devisa kita pada akhir tahun 2010 akan bisa mencapai 100 miliar dollar AS. Itu merupakan target yang sangat nyata dan seharusnya menjadi tanggung jawab kita semua sebagai bangsa untuk bisa merealisasikannya.
Selama ini kita jarang mendengar adanya target yang kuantitatif ingin dicapai. Program 100 hari pemerintah SBY-Boediono dilaporkan sudah tercapai sekitar 92 persen. Namun kita tidak pernah tahu bagaimana mengukurnya karena kebanyakan program-program itu bersifat kualitatif.
Masyarakat sendiri sejauh ini belum merasakan dampak langsung dari kebijakan 100 hari pemerintahan ini. Hasil survei mingguan yang dilakukan METROTV terhadap tingkat kepuasan masyarakat atas kinerja pemerintahan sekarang ini terus menunjukkan penurunan. Secara akumulatif penurunan tingkat kepuasan mencapai 20 persen dibandingkan ketika pertama kali pemerintahan ini bekerja.
Penetapan target yang jelas secara kuantitatif setidaknya memberikan dua dampak positif. Pertama, target itu akan membuat kita terpacu untuk bisa memenuhi. Kedua, target itu akan menimbulkan apa yang dinamakan self-fulfilling prophecy, sebuah keyakinan yang pada akhirnya bisa menjadi kenyataan yang sesungguhnya.
Bangsa ini seharusnya mempunyai kemampuan untuk memenuhi target tersebut. Kekayaan alam yang dipunyai bangsa ini begitu berlimpahnya, sehingga seharusnya bisa membuat bangsa ini kaya raya. Sayangnya, ratusan juta miliar dollar kekayaan yang dijual ke luar negeri, tidak pernah kembali ke sini. Banyak hasil-hasil ekspor yang mengendap di luar negeri dan hanya sebagian kecil saja yang masuk ke dalam negeri.
Bukan hanya sebuah isapan jempol bahwa negeri seperti Singapura bisa begitu kaya raya karena mereka pandai untuk membujuk orang-orang Indonesia menyimpan uangnya di sana. Ketika krisis keuangan global melanda dunia dan kemudian dipetakan negara-negara yang tergolong "safe have", maka Singapura menjadi salah satu di antaranya.
Kebanyakan dana yang tersimpan di sana berasal dari orang-orang Indonesia. Bagi sebagian kelompok masyarakat, menyimpan uang di Singapura dan negara-negara lain yang tergolong "safe haven", jauh lebih aman daripada menyimpan uang di Indonesia.
Negeri ini menjadi negara yang tidak menyejahterakan bangsanya, karena kurangnya rasa tanggung jawab dari warga bangsanya. Mereka cenderung untuk mementingkan dirinya sendiri, mengamankan masa depannya sendiri, tanpa memedulikan nasib rakyatnya yang lebih banyak.
Semua itu tidak bisa dilepaskan dari terlalu longgarnya peraturan yang kita miliki. Negara tidak pernah mau memaksa hasil devisa yang diperoleh dari hasil ekspor untuk dimasukkan ke Indonesia. Dengan bermacam dalih, banyak pengusaha akhirnya lebih suka memarkirkan sebagian besar dana mereka di luar negeri.
Kalau saja pemerintah berani untuk lebih tegas dalam mengumpulkan hasil devisa yang diperoleh bangsa ini, maka sebenarnya target cadangan devisa 100 miliar dollar AS merupakan angka yang tidak terlalu sulit untuk dicapai. Bayangkan, Korea Selatan yang begitu kecil dan memiliki sumber daya yang terbatas, mampu mengumpulkan cadangan devisa sampai 250 miliar dollar AS. Tentunya tidak masuk akal apabila cadangan devisa Indonesia sekarang ini hanya seperempatnya Korea. Lebih tidak masuk akal lagi, cadangan devisa kita juga kalah dari Singapura.
Atas dasar semua itu, target pencapaian devisa 100 miliar dollar AS pada tahun 2010 bukanlah target yang terlalu ambisius. Sepanjang pemerintah mau untuk melakukannya, maka dengan segera saja kita bisa memperbesar pundi-pundi negara ini.
Peningkatan cadangan devisa sangat dibutuhkan sebagai modal untuk menstabilkan perekonomian negara ini. Dengan simpanan yang lebih besar, maka tidak mudah bagi spekulan untuk mempermainkan nilai tukar dari rupiah kita. Dengan cadangan devisa yang lebih besar, maka kemampuan kita untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat akan semakin tinggi. Hanya negeri yang mampu menabung dan bersikap hemat yang bisa meraih kemajuan.
Kalau kita melihat China yang dalam waktu yang begitu pendek mampu menjadi negara dengan cadangan devisa terbesar di dunia, seharusnya kita pun bisa melakukannya. Bedanya, Pemerintah China secara sungguh-sungguh mendorong perekonomian negara mereka untuk menjadikan China menjadi raksasa ekonomi dunia, sementara kita lebih berorientasi untuk melahirkan individu-individu yang kaya raya.
Seharusnya kita kembali kepada cita-cita pembentukan negara ini. Ketika kita bersepakat untuk memproklamirkan negara ini 64 tahun yang lalu, kita sama-sama mencanangkan untuk menyejahterakan kehidupan seluruh warga bangsa. Bahkan kita mencanangkan untuk meenjadi menjadi "welfare state", karena kita bercita-cita mencerdaskan kehidupan seluruh warga bangsa dan menghidupi seluruh fakir miskin.
Kalau kita sengaja mengangkat target yang dicanangkan Deputi Senior Gubernur BI, kita ingin mengingatkan seluruh warga bangsa ini akan cita-cita besar yang dicanangkan para pendiri bangsa. Bahwa kita bukan hanya ingin melahirkan individu-individu yang kaya raya, tetapi melahirkan bangsa yang sejahtera.
Tugas pemerintah siapa pun mereka untuk bisa memenuhi cita-cita besar itu. Pemerintah harus berada di depan untuk menggerakkan seluruh kekuatan bangsa ini guna menyejahterakan kehidupan bangsa ini. Menggugah kesadaran setiap warga bangsa untuk peduli terhadap kemajuan dari negara ini. Ini merupakan tugas yang tidak pernah akan berakhir.


Negeri ini terlalu sejahtera.. Lihat saja kendaraan di jalan sampai hampir tidak tertampung lagi. Semua warga hampir sudah pada menenteng HP... Itu artinya mereka semua sudah bisa lebih dari makan.. Pendidikan wah ukurannya jagan sekolah,dunia pesantren malah lebih hebat out put-nya. Mereka punya mental yang lebih amanah dan tidak mencetak pengangguran kayak produk sekolah. Kesimpulan; Kita maju sejahtera secara ekonomi tapi kita serakah jadi merasa fakir terus-menerus.
Mudah-mudahan bukan hanya kabar menyenangkan tetapi semoga menjadi kenyataan sehingga kita patut berbangga hati punya cadangan yang cukup untuk menghidupi seluruh rakyat Indonesia
YANG PENTING BUKAN HOT MONEY YANG MENGISI KANTONG DEVISA KITA ,KELIHATAN CANTIK TAPI SETIAP SAAT MENGUAP KEMBALI, INVESTASI LANGSUNG YG PENTING SEPERTI BANGUN PABRIK DISINI,MENCIPTAKAN LAP.KERJA YG BANYAK....,tapi ya berharap juga bisa tercapai 100m$
Ya,syukur saja kalau memang bisa terwujud, tapi rasa-rasanya belum bisa. Kabinet yang ada kelihatan masih kedodoran, cenderung penempatan masing-masing bidang hanya bagi-bagi kekuasaan dan kemudian berikutnya presidennyapun sibuk dengan berbagai upaya pencitraan diri, langkahnya belum menyentuh akar permasalahan yang diinginkan rakyat. Ambil contoh bagi-bagi fasilitas mobil untu para pejabat tinggi negara, itu tidak mencerminkan keberpihakan kepada rakyat. Tapi, ya semoga tidak demikian.
Saya masih belum yakin kita mampu apa tdk menghasilkan kebijakan ekonomi yang meningkatkan datya saing....lah..bagaimana..menko perekonomiannya saja....kesulitan membagi perhatian antara kepentingan pemerintah dengan kepentingan partai..lantas kapan sempat memikirkan kabijakan..apa kira2 perlu jabatan wakil Menko..?