Gagal Lagi, Gagal Lagi

Jumat, 8 Januari 2010 19:07 WIB

Baru saja pil pahit kegagalan kesebelasan nasional Indonesia di ajang SEA Games XXV kita telan, kegagalan baru harus kita terima. Tim nasional PSSI gagal untuk bisa tampil di putaran final Piala Asia setelah terakhir ditekuk Oman 1-2 di kandang sendiri di Stadion Utama Senayan.
     
Berpuluh-puluh tahun, stadion kebanggaan rakyat Indonesia selalu menjadi tempat bangkitnya rasa cinta kepada negeri, kini begitu sulit kita menangguk rasa suka cita itu. Setiap kali hanya pil pahit yang harus kita telan karena prestasi atlet-atlet nasional kini yang kian terpuruk.
   
Kalau orang seperti Hendri Mulyadi melampiaskan kekecewaan dengan masuk ke dalam lapangan permainan untuk kemudian menggiring bola dan mencoba menceploskannya ke gawang Oman, itu ekspresi dari keputusasaan. Masa di kandang sendiri, tim nasional kita tidak mampu menunjukkan kualitasnya sebagai tim langganan peserta putaran final Piala Asia.
   
Gambaran kekecewaan itu terlihat dari tidak adanya seorang pun yang marah atas ulah Hendri untuk mengganggu jalannya pertandingan. Dari ekspresi yang kita baca dari facebook maupun tweeter justru terlihat adanya dukungan karena pengurus PSSI sekarang ini dianggap pantas untuk dipermalukan karena telah gagal membina prestasi sepak bola nasional.
   
Tentu menjadi pertanyaan, apa yang salah dengan pembinaan sepak bola kita sekarang ini? Bukankah kunci pembinaan adalah kompetisi yang teratur dan kita sudah mempunyai kompetisi bahkan pada semua tingkatan umur?
     
Jawabannya sama dengan gambaran besar dari sistem pendidikan nasional kita. Kita sudah mempunyai kurikulum pendidikan, sudah punya yang namanya ujian nasional, namun indeks pembangunan manusia kita masih lebih rendah dibandingkan negara lain.
   
Kalau coba kita analisis lebih mendalam lagi, maka kita akan sadar bahwa semua itu disebabkan karena kita selalu hanya mengutamakan yang namanya prosedur. Seakan-akan kalau semua sesuai prosedur akan otomatis baiknya. Kita lupa bahwa di samping prosedur yang tidak kalah penting adalah bobot, kualitas pelaksanaannya.
     
Sama dengan kasus "pemaksaan" yang dilakukan pemerintah untuk melakukan ujian nasional sekarang ini. Seakan-akan dengan melakukan itu, maka anak-anak kita bisa menjadi manusia unggul. Padahal ujian nasional hanya mengukur kecerdasan intelektualitas pada ilmu-ilmu tertentu saja, tetapi kecerdasan emosional, pembentukan karakter, tidak pernah dipedulikan.
   
Padahal dalam pembentukan manusia unggul bukan hanya kecerdasan intelektual yang harus dikejar. Yang lebih penting adalah membangun karakter. Terutama karakter manusia yang bertanggung jawab, penuh disiplin, memiliki etos kerja, mempunyai etika, dan mengerti sopan santun.
   
Dengan manusia-manusia seperti itu kita bukan hanya melahirkan manusia yang mau bekerja keras, tetapi mengutamakan nilai kehidupan. Bahwa untuk menjadi orang sukses dan berhasil tidak bisa dicapai secara instan serta menghalalkan segala cara, tetapi harus melakukan proses bekerja.
   
Sepanjang kita tidak pernah mau memedulikan itu, tidak usah heran apabila kelak putra-putra bangsa yang kita hasilkan akan seperti anggota Pansus DPR sekarang ini. Statusnya adalah anggota terhormat, namun perilakunya sangat tidak terhormat. Di tempat terbuka begitu mudah untuk berkata kotor, padahal mereka sedang ditonton oleh banyak orang termasuk anak-anak kita.
     
Sungguh ironis bahwa anggota Partai Demokrat membela dan memahami tindakan rekannya itu. Tidak usah heran apabila kualitas manusia bangsa ini menjadi semakin menurun, karena pendidikan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari mengajarkan sesuatu yang tidak baik dan itu masih juga dibenarkan.
     
Kembali kepada prestasi tim sepak bola nasional kita, persoalan yang paling mendasar adalah hilangnya karakter. Kita tidak memiliki pemain-pemain yang memiliki karakter. Yang sadar bahwa menjadi pemain sepak bola bukan sekadar bisa memainkan bola, tetapi harus ada passion ketika melakukannya.
       
Atau bahasa lain yang bisa dipakai, kita membutuhkan para pemain yang bukan hanya tahu akan tugasnya sebagai pemain sepak bola, tetapi memahami perannya ketika menjadi pemain nasional. Mereka harus melakukan dengan sepenuh hati, karena yang mereka bela ketika tampil adalah Merah-Putih. Ketika kita berhasil, maka yang diraih bukan sekadar kemenangan, tetapi kebanggaan seluruh bangsa.
     
Karakter seperti itu dulu kita miliki pada diri pemain seperti Maulwi Saelan, Ramang, Sutjipto Soentoro, Iswadi Idris, Waskito, Risdianto, Ronny Pattinasarany. Sekarang kita tidak lagi memiliki pemain-pemain yang sadar bahwa mereka harus berlatih keras karena ketika mereka nanti berlaga mereka sedang mempertaruhkan nama baik 230 juta rakyat Indonesia.
   
Semua itu tidak terjadi dengan sendirinya. Mereka bisa tumbuh seperti itu karena mereka dibina oleh orang-orang yang berkarakter. Lihat orang-orang seperti Maladi dan Kosasih Poerwanegara yang bukan hanya berkomitmen untuk mengabdikan hidupnya bagi kemajuan sepak bola nasional, tetapi merupakan pribadi-pribadi bersih yang bisa menjadi panutan.
     
Sekarang PSSI dipimpin oleh orang yang tidak peduli apakah kehadirannya bemanfaat atau tidak bagi kemajuan sepak bola nasional. Sepanjang kepuasan dirinya terpenuhi, memegang jabatan demi eksistensi secara politis tercapai, maka jabatan itu dipertahankan dengan segala cara.


Kita tidak bermaksud membawa persoalan kegagalan tim nasional kepada persoalan pribadi. Namun membina olahraga tidak ubahnya seperti mendidik. Hanya dengan niatan yang bersih akan bisa dihasilkan prestasi yang baik. Kalau tidak, kita boleh menggelar kompetisi seheboh apa pun, tetapi ketika itu tidak ada isinya, tidak ada jiwanya, tidak ada kualitasnya, maka hasilnya akan seperti sekarang ini. Kita hanya akan gagal lagi, gagal lagi.

Bookmark and Share



KOMENTAR [14]

  • kaka, Sabtu, 7-Januari-2010

    nurdin halid biangnya. Lha wong mantan napi kok ngurusin bola, ya begini jadinya.Suka ngotot tapi otaknya hanya duit dan kekuasaan aja

  • Papan, Sabtu, 7-Januari-2010

    Saya penggemar sepak bola. Sangat disayangkan harus saya akui orang Indonesia tidak bakat main sepak bola. Dari postur tubuh dan stamina kita sudah kalah. Kecuali kita bisa membibitkan generasi mendatang atlit Indonesia tumbuh sekitar 1.8 m sampai 2 m. Hehe pasti hebat.

  • RIDWAN, Sabtu, 7-Januari-2010

    pola pembinaan PSSI harus diubah. perlu pembinaan jangka panjang, bukan jangka pendek. negara asia lainnya telah mulai bangkit karena pembinaannya berkesinambungan, tidak seperti di indonesia...

  • Edysant_Bantaran_KabPrOlink, Sabtu, 7-Januari-2010

    Aku kasihan sama pembawa acara TV manapun yang menyiarkan siaran langsung Sepak Bola Indonesia khususnya PSSI...Kata-kata monoton yang sering muncul disampaikan oleh pembawa acara TV tersebut adalah 1. Lagi-lagiiii pemirsaaaa salah umpaaaan 2. Kembali pemirsaaaa tidak cermaaaaat

  • taufik, Sabtu, 7-Januari-2010

    Kalau ngga bisa kasih prestasi,pengurus PSSI bubarkan saja!atau PSSI nya bubarkan!

KIRIM KOMENTAR ANDA

Nama
Email
Komentar Anda
Kode Keamanan
 

© 2004 - 2012 MetroTVNews.com All rights reserved.
Comments & suggestions please email webmetro@metrotvnews.com
FANS INGIN BARCA REKRUT GARETH BALE DARI SPURS   *   USAI DIRAWAT AKIBAT PNEUMONIA, LEGENDA SEPAK BOLA PORTUGAL EUSEBIO DIIZINKAN PULANG   *   PRESIDEN OBAMA UCAPKAN SELAMAT TAHUN BARU PADA WARGA DUNIA   *   FERGIE KECEWA MU DIKALAHKAN BLACKBURN 2-3   *   INDONESIAN POLICE CONTINGENT IN SUDAN PRESENTED FINANCIAL ASSISTANCE TO REFUGEES IN THE DARFUR REGION   *   MICHAEL ESSIEN AKAN KEMBALI BELA CHELSEA MEDIO JANUARI 2012   *   KORBAN TEWAS AKIBAT BADAI THENE DI INDIA JADI 42 ORANG   *