- Kecelakaan yang Memilukan
- Piramida Dicari, Muaro Jambi Disia-siakan ..
- Bank Mutiara Diincar Investor
- Menjaga Kepercayaan Publik
- Partai Demokrat Terus Bergolak
- Mengembalikan Trotoar ke Fungsinya
- Beranikah PDIP Pelopori Politik Bersih
- Partai Demokrat Masih Bimbang
- Ketika Pilot Pakai Sabu
- Angelina Sondakh Jadi Tersangka
- Jangan Adu Pengusaha dan Buruh
- Pemerintah Hadapi Boikot AS
- Kegigihan Jaksa Dalam Kasus Rasminah
- Menguji Kewibawaan Pemerintah
- Pertarungan Menuju Puncak
Profesional yang Tidak Jujur
Minggu, 10 Januari 2010 19:45 WIB
Pernyataan mantan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla berkaitan dengan upaya pengungkapan skandal Bank Century yang sedang berlangsung sekarang ini pantas untuk kita simak. Khususnya berkaitan dengan pentingnya untuk bersikap jujur, terutama kepada diri kita sendiri.
Jusuf Kalla sangat mengkhawatirnya hilangnya sikap jujur, sikap ksatria untuk mengakui perbuatan yang telah dilakukan. Terutama jika hal itu dilakukan oleh para profesional, para cerdik cendekia. Menurut Jusuf Kalla, pejabat yang profesional, namun tak jujur dalam menjalankan tugasnya, akan merugikan rakyat.
Ketika kita menuntut ilmu di bangku sekolah dan menjadi orang-orang yang terpelajar, maka harapannya ilmu itu diaplikasikan, ilmu itu diamalkan. Ilmu akan sangat berguna apabila dipergunakan oleh orang-orang yang bijak, diaplikasikan oleh orang-orang yang mempunyai karakter baik.
Ilmu menjadi sangat berbahaya dan sia-sia apabila dipergunakan oleh orang yang jahat. Orang pintar yang tidak memiliki karakter sungguh merupakan pribadi yang sangat berbahaya. Dia bisa menjadi monster yang menakutkan, karena ilmu dipakai hanya untuk kepentingannya sendiri.
Oleh karena itu, sejak lama kita diajarkan bahwa yang jauh lebih kita butuhkan adalah orang yang jujur, bukan orang yang pintar. Kepintaran itu bisa diajarkan, tetapi kejujuran itu ada pada hati sanubari kita yang paling dalam.
Negara ini seringkali dirugikan karena terlalu banyak orang yang tidak jujur. Dan seringkali orang yang merusak negara ini adalah orang yang berilmu, orang-orang yang pintar. Tetapi itu tadi, kepintaran tersebut bukan dipakai untuk kemaslahatan orang banyak, tetapi lebih untuk kepentingan dirinya sendiri.
Kalau Jusuf Kalla mengkhawatirkan perilaku profesional yang tidak jujur, karena minggu-minggu ini kita melihat bagaimana orang berupaya untuk berkelit. Dalam pemeriksaan yang dilakukan Panitia Khusus Bank Century, terlihat betul bagaimana para pejabat mencoba lari dari tanggung jawabnya. Mereka mencoba mencari pembenaran hanya untuk keselamatan dirinya sendiri.
Bahkan ketika fakta-fakta yang disampaikan begitu nyata, dengan mudahnya mereka mengatakan lupa atau tidak tahu. Tidak ada sedikit pun sikap ksatria untuk mengakui apa yang telah dikerjakan, padahal akibat dari perbuatan itu kini negara dirugikan. Setidaknya, Rp 6,7 triliun terpaksa disuntikkan Lembaga Penjamin Simpanan untuk membuat Bank Century tetap bisa hidup.
Dari hasil audit investigasi Badan Pemeriksa Keuangan, skandal besar ini sebenarnya tidak perlu terjadi apabila sejak tahun 2001 para pejabat Bank Indonesia mau bersikap tegas. Sebagai bagian dari pelaksanaan pembangunan arsitektur perbankan Indonesia, seharusnya borok-borok yang bisa merugikan perekonomian negara kita bisa dibersihkan sejak awal.
Namun entah mengapa, borok itu dibiarkan berada terus di sana. Bahkan ketika seorang Direktur Bank Indonesia mengingatkan agar Bank Century tidak diberikan fasilitas pendanaan jangka pendek, karena memang tidak berhak untuk menerima fasilitas tersebut, tetap saja pejabat tinggi BI mengucurkannya.
Kalau saja kita mau jujur kepada diri kita sejak awal, kalau saja kita menerapkan peraturan seperti apa adanya, niscaya kejadian yang merugikan negara ini tidak harus ada. Namun kita seperti dibutakan mata hatinya. Kita menerima saja apa yang tidak sepantasnya terjadi. Kita membiarkan pelanggaran itu terjadi dan akibatnya kita semua harus menerima kenyataan pahit.
Kalau saja para pejabat itu sekarang mau jujur kepada dirinya, maka kita tidak perlu berlama-lama untuk membuang energi atas apa yang terjadi dengan Bank Century. Namun seperti dikatakan Jusuf Kalla, kita merasa prihatin bahwa para profesional itu sungguh tidak jujur.
Atas dasar itu, tidak ada pilihan lain kecuali kita membongkar tuntas skandal Bank Century. Kita buktikan semua temuan yang didapatkan BPK berkaitan dengan keanehan yang terjadi pada Bank Century, mulai dari pada saat pembentukannya, saat kritis sehingga harus diputuskan diselamatkan oleh Komite Stabilitas Sistem Keuangan, hingga ketika LPS membayar kewajiban-kewajiban yang muncul kepada Bank Century.
Seperti diyakini oleh Jusuf Kalla, tidak ada krisis yang berdampak sistem pada kasus Bank Century. Sebab, fakta yang sebenarnya terjadi bank itu dirampok oleh pemiliknya sendiri. Ketika keadaannya sudah parah, likuiditas dan solvabilitas dari Bank Century benar-benar sudah kering, bank tersebut diserahkan kepada pemerintah untuk diselamatkan.
Temuan yang didapatkan BPK menunjukkan bahwa dari Rp 6,7 triliun dana yang disuntikkan LPS, sekitar Rp 5,8 triliun jatuh ke tangan dua pemilik Bank Century sendiri. Pertanyaannya, apakah mereka hanya menikmati berdua saja ataukah ada pihak-pihak lain yang ikut mencicipi? Inilah yang harus kita ungkap.
Sebagai pejabat Presiden ketika putusan penyelamatan Bank Century diambil KSSK, Jusuf Kalla masih menyimpan pertanyaan, mengapa dirinya tidak pernah dilapori oleh Menteri Keuangan maupun Gubernur BI. Baru empat hari setelah keputusan diambil dan penyertaan modal sementara telah dilakukan LPS, Jusuf Kalla mendapat laporan atas langkah penyelamatan tersebut.
Reaksi pertama yang dilakukan Jusuf Kalla adalah memerintahkan Kepala Kepolisian RI untuk menangkap pemilik Bank Century, Robert Tantular. Kalau saja tindakan itu tidak segera dilakukan, niscaya Robert Tantular sudah keluar dari Indonesia dan skandal Bank Century akan menjadi tidak jelas.
Kini bukan hanya Robert Tantular yang sudah dijatuhi hukuman atas tindak pidana yang dilakukan, tetapi juga beberapa direksi Bank Century lainnya. Fakta tersebut semakin menunjukkan bahwa krisis yang dihadapi Bank Century bukanlah akibat dari krisis global, tetapi karena perilaku jahat para pengelolanya. Aneh jika para profesional yang diperiksa Pansus DPR masih terus berdalih dan tidak pernah mau jujur terhadap apa yang telah mereka lakukan.
Semoga kita mampu untuk mengungkap skandal ini, sekaligus menguak kebenaran. Kita membutuhkan itu untuk juga mengajarkan pentingnya profesional untuk bersikap jujur. Sebab, hanya dengan kejujuran itulah, kita akan bisa membangun negeri.


sbenarnya narasumber yg bgus itu dari kalangan intern BI, Depkeu, trutama dri BRI (kenapa narasumbernya Marsilam), karna Banknya sdh sampai ke plosok Desa, jd kondisi perekonomian Indonesia sbenarnya bisa tampak dari Bank tsb. masalahnya para pejabat di Indonesia "alergi" dgn yg namanya perbedaan pendapat apalagi dgn bawahannya, harga dirinya mrasa hilang apabila ada bwahannya yg tdk setuju dgn kebijakannya, dan akan dicopot, jadi sbanyak dan shebat apapun narasumber tdk akan berfungsi dgn baik, spt Kasus Bank Century (pasti ada diantara narasumber yg tdk setuju Bank Century dselamatkan)