Kenapa Kaget Sama Arthalyta

Senin, 11 Januari 2010 20:24 WIB

Kita semua terkaget-kaget melihat perlakuan khusus yang diterima terpidana kasus suap, Arthalyta Suryani dan terpidana seumur hidup kasus narkoba, Limarita di Rumah Tahanan Khusus Wanita Pondok Bambu. Mereka menjadikan tempat ia ditahan tidak ubahnya seperti hotel bintang lima.

Anggota Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum datang melakukan inspeksi mendadak hari Minggu itu semakin tidak mengerti bagaimana orang-orang itu bisa mendapatkan keistimewaan. Mereka bukan hanya bisa menjadikan tempat tahanan sebagai kantor, tetapi menjadikannya sebagai rumah pribadi. Mereka bisa menjalani perawatan kecantikan sampai bermain dengan anak-cucu.

Keanehan itu sebenarnya harus sudah digugat sejak keduanya masih ditempatkan di rumah tahanan. Meski sudah ada ketetapan dari pengadilan atas kasus mereka, sungguh ganjil  mereka tidak segera dialihkan untuk masuk lembaga pemasyarakatan.

Keistimewaan seperti ini tidak mungkin diberikan kalau tidak ada imbalannya. Apalagi orang seperti Arthalyta bukanlah orang  sembarangan. Ia punya kedekatan dengan kekuasaan bahkan disebut-sebut menjadi pengurus yayasan yang berkaitan dengan Cikeas.

Karena bisa menjadi sumber pendapatan tambahan, terpidana seperti ini bahkan menjadi "rebutan" rumah tahanan ataupun lembaga pemasyarakatan. Bahkan bukan sesuatu yang aneh apabila terpidana seperti ini bisa memilih tempat sesuai dengan yang mereka inginkan.

Yang membuat kita pantas sedih bukanlah kasus seperti Athalyta ini hanya puncak dari gunung es, tetapi mengapa di negeri ini semuanya begitu mudah untuk dibeli dengan uang. Bahkan sebuah penegakan keadilan yang diharapkan bisa memberi efek jera pun masih bisa dibeli.

Semua ini merupakan konsekuensi dari sikap kita yang terlalu mendewakan yang namanya materi. Akibatnya kita tega mengorbankan artinya nilai kebajikan, karena kita sudah disilaukan oleh yang namanya materi.

Kita tidak bisa hanya menyalahkan petugas rumah tahanan dan lembaga pemasyarakatan yang begitu mudah untuk dibeli. Sebab, pada tingkat yang lebih tinggi pun kita melihat bagaimana pejabat begitu mudah untuk ditutup nuraninya hanya karena materi.

Lihat kasus pemberian uang satu juta dollar AS dari pengusaha Joko Tjandra kepada Yayasan Kesetiakawanan dan Kepedulian. Joko Tjandra bukanlah hanya seorang pengusaha, tetapi seorang terpidana yang sedang buron.

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto mengakui adanya sumbangan dari Joko Tjandra kepada yayasan yang dipimpinnya. Tetapi anehnya tidak ada sedikit pun rasa bersalah dan yayasan pun tidak mencoba mengembalikan uang tersebut kepada Joko Tjandra.

Padahal kalau kita lihat dari kepantasannya seharusnya Yayasan Kesetiakawanan dan Kepedulian mengembalikan uang tersebut. Mengapa? Karena Joko Tjandra adalah seorang terpidana buron. Dengan menerima sumbangan itu, maka sang penyumbang bisa merasa bahwa dirinya dilindungi. Ketika pejabat negara tidak berupaya mendesak para penegak hukum untuk menangkap terpidana yang buron itu, maka masyarakat pun akan berpersepsi bahwa sumbangan itu adalah bagian dari biaya untuk tidak ditahan.

Lalu apa bedanya kasus Arthalyta dengan Joko Tjandra kalau kondisi seperti itu? Karena memberi imbalan uang, maka keduanya mendapatkan "kebebasan". Satu kebebasan di dalam rumah tahanan, satu kebebasan di luar negeri.

Kita tidak bisa hanya mengecam para sipir di Rutan Pondok Bambu yang memberi keistimewaan kepada Arthalyta, karena hal yang sama berlaku pada tingkatan yang lebih tinggi. Para sipir di Rutan Pondok Bambu tentu bisa menggugat kalau dikenakan tindakan, bagaimana dengan pejabat tinggi yang juga menerima imbalan atas "keistimewaan" yang diberikan kepada terpidana buron.

Teringat akan sumpah jabatan para pejabat tinggi negara ketika dilantik untuk menduduki jabatannya. Di atas kitab suci mereka dengan lantang mengatakan, "tidak akan sekali-sekali, baik langsung maupun tidak langsung, menerima atau menjanjikan sesuatu kepada pihak lain berkaitan dengan jabatan yang saya emban."

Sumpah itu hanya lantang diucapkan, tetapi ternyata tidak cukup menggetarkan hati. Semua itu seakan lupa ketika waktu berjalan dan bahkan menikmati bahwa kekuasaan adalah keistimewaan, power is privilege.

Kita tidak akan pernah bisa memperbaiki bangsa dan negara ini sepanjang sikap mendewakan materi itu tidak segera kita perbaiki. Kasus seperti Artalyta dan Joko Tjandra hanya tinggal menunggu waktu terjadi lagi.

Contoh dari para pemimpin menjadi kunci apabila kita memang bersungguh-sungguh ingin memperbaiki kehidupan bangsa ini. Kepura-puraan harus diakhiri dan teladan sangat kita perlukan. Tanpa itu maka orang di bawah akan mengikuti kebiasaan yang dilakukan para pemimpin mereka. Itulah yang sedang terjadi di negeri ini.

Bookmark and Share



KOMENTAR [5]

  • kuntobimo, Minggu, 1-Mei-2010

    Rutan bagi koruptor seperti panti bintang lima. merasa bukan tahanan tapi penghuni VIP, diayani semua maunya tinggal bayar, itung-itung liburan di Villa sewaan, ktemu anak cucu bahkan mau shopping tiap hari asal balik lagi jam 9 malam tak ada masalah tuh..atau bahkan keluar negeri? ngga jadi rintangan tuh toh sutradara siap atur itu semua kepala rutan dan pengacara. mo apalagi ngga ada efek jera tuh....UANG MAHA KUASA toh uangnya dapat maling,bukan uang pribadi, tinggal tebarin aja untuk orang-orang kelaparan uang...lucu ngeliatnya kaya tebarin beras ke sekumpulan ayam kelaparan.....

  • zeil, Selasa, 3-Januari-2010

    Memberantas para koruptor adalah harapan bangsa. akan tetapi apabila memang benar para pejabat hukum mudah tergiur materi. maka akan banyak para koruptor yang tertangkap hidupnya akan lebih enak di penjara seumur hidup jika fasilitasnya melebihi hotel bintang lima

  • nujul, Jumat, 6-Januari-2010

    ada satu jawaban klise yang selalu dijadikan alasan oleh para oknum penegak hukum maupun oknum aparat pemerintahan.yaitu kurangnya kesejahteraan yg diberikan negara terhadap mereka.padahal apabila dipersentasikan, antara orang2 yang mendapat fasilitas dari negara.dengan orang yang sama sekali tidak mendapat fasilitas negara tentunya jauh lebih banyak orang yg tidak mendapatkannya! ini membuktikan bahwa hilangnya idelisme dan pengabdian yg diembankan negara terhadap para ponggawanya..

  • TMR Gitu Loooh......., Jumat, 6-Januari-2010

    Fenomena di Rumah tahan yang terjadi sedah berlanjut sejak jaman orde lama, hanya para petinggi/parlemen maupun pemerintah tidak mau melakukan pengawasan yang melekat terhadap kondisi rumah tahan tersebut. Disini terlihat telah meyalahgunakan wewenang dan jabatan yang mengakibatkan kerugian negara baik yang disadari maupun yang tidak disadari oleh Pemerintah/Nagara. Para terpidana korupsi maupun terpidana narkoba dirumah tahanan negara bagaikan raja didalam terali besi, mereka dapat berbuat semaunnya yang seakan-akan mereka merasa bukan sebagai terpidana.... Kedepan Pemerintah maupun parlemen harus lebih serius memperhatikan kejanggalan-kejanggalan yang terjadi didalam Rumah Tahanan Negara tersebut.

  • pakhaji, Kamis, 5-Januari-2010

    Apa yg dikatakan Bung Suryopratomo sangat jelas menggambarkan hilangnya nurani para pemimpin bangsa ini. Revolusi kepemimpinan nasional juga tidak akan langsung menyelesaikan masalah ini. Nurani berada pd tataran kehendak/hati yg terwujudkan dalam tingkah dan ucapan. Cetakan "nurani" bangsa ini pernah coba "digulirkan" pd jaman Soekarno,,namun selama kurang lebih 20th kepemimpinan Soekarno tidak banyak yg bisa dilakukan,,lebih banyak ngurusin stabilnya pemerintahan dr pemberontakan2 dan pencarian jati diri bangsa dlm konteks pencarian model demokrasi indonesia plus tergelincir oleh Soeharto. Setelah itu, ORBA telah merenggut sisa2 jati diri tsb dan menggantinya dg jati diri "bangsa" pengemis,pembohong dan pengecut. Jd menurut saya Bung Suryo, qta membutuhkan waktu sekitar 50th/setengah abad untuk bisa menjadi bangsa dg integritas, nurani dan kebersamaan yg mampu dibanggakan. Nilai inilah yg 200th yg lalu telah membentuk Amerika. Nilai ini pula yg telah tertanam di Jepang di kurun waktu yg jg relatif sama. Indonesia?paling cepat 50th--itupun dg catatan--mulailah dr sistem pendidikan kita dan hukum.

KIRIM KOMENTAR ANDA

Nama
Email
Komentar Anda
Kode Keamanan
 

© 2004 - 2012 MetroTVNews.com All rights reserved.
Comments & suggestions please email webmetro@metrotvnews.com
FANS INGIN BARCA REKRUT GARETH BALE DARI SPURS   *   USAI DIRAWAT AKIBAT PNEUMONIA, LEGENDA SEPAK BOLA PORTUGAL EUSEBIO DIIZINKAN PULANG   *   PRESIDEN OBAMA UCAPKAN SELAMAT TAHUN BARU PADA WARGA DUNIA   *   FERGIE KECEWA MU DIKALAHKAN BLACKBURN 2-3   *   INDONESIAN POLICE CONTINGENT IN SUDAN PRESENTED FINANCIAL ASSISTANCE TO REFUGEES IN THE DARFUR REGION   *   MICHAEL ESSIEN AKAN KEMBALI BELA CHELSEA MEDIO JANUARI 2012   *   KORBAN TEWAS AKIBAT BADAI THENE DI INDIA JADI 42 ORANG   *