Hilangnya Rasa Kemanusiaan
Jumat, 5 Februari 2010 21:36 WIB
Pekan lalu di depan Menteri Riset dan Teknonologi Suharna Suryapranata, PT Pindad melakukan uji coba peluncuran roket di Lumajang, Jawa Timur. Sebagai bagian ada keinginan untuk bersiap membangun industri pertahanan yang bisa diandalkan, kita mendukung pengembangan teknologi roket di Tanah Air.
Kita tidak boleh menjadi bangsa yang tertinggal. Kita harus masuk dalam kelompok negara-negara terdepan dalam membangun industri pertahanan berbasis roket. Kalau bangsa Tiongkok bisa, kalau bangsa India bisa, kenapa kita tidak bisa.
Itulah bahasa yang dipakai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika berbicara di depan National Summit, akhir tahun lalu. Presiden mencoba memacu kemampuan dari bangsa ini untuk mencapai prestasi tertinggi.
Dari serangkaian uji coba yang dilakukan, ada dua roket yang tidak berjalan seperti seharusnya. Roket itu bergerak tidak terkendali dan tragisnya satu roket bahkan menimpa sebuah rumah penduduk.
Dua warga yang sudah berumur kebetulan sedang tinggal di dalam rumahnya yang sederhana. Mereka tidak menyadari adanya bahaya yang mengancam jiwa sampai roket itu menembus rumah dan meledak di dekat mereka.
Ledakan roket beruntung tidak merenggut jiwa mereka. Namun kedua orang tua itu harus menerima kenyataan bahwa ledakan roket membuat penghuni laki-laki berumur 80 tahun mengalami luka bakar hebat, sementara perempuan berumur 50 tahun mengalami luka parah di bagian kaki membuat kakinya harus diamputasi.
Sebuah kecelakaan yang sungguh tidak disengaja. Pihak Pindad memang segera membawa kedua korban ke rumah sakit. Pihak Pindad pun menanggung biaya pengobatan bagi kedua orang tua yang malang tersebut.
Pertanyaan lebih lanjut, setelah kedua korban kelak sembuh, kompensasi apa yang diberikan negara kepada keduanya? Di luar dugaan, Pindad menawarkan untuk memberi santunan sebesar Rp 300.000 per bulan kepada korban selama dua tahun. Artinya selama dua tahun, korban menerima santunan sebesar Rp 7,2 juta.
Pantaskah seorang yang menjadi korban dari sebuah uji coba teknologi canggih dihargai sebegitu rendahnya? Tidakkah dibayangkan bahwa dengan kaki yang diamputasi pada usia yang begitu tua, praktis tidak ada yang bisa mereka kerjakan lagi di sisa hidupnya. Tidak mudah bagi seorang tua untuk menyesuaikan diri dengan keadaan baru. Bahkan orang muda yang tiba-tiba harus kehilangan kaki pun sulit untuk bisa beradaptasi. Bahkan untuk bisa bekerja seperti biasa, mereka membutuhkan masa penyesuaian yang panjang.
Tidak terbayang di negeri yang memiliki falsafah yang begitu mulia seperti tertuang dalam sila-sila dalam Pancasila ternyata tidak memiliki hati sama sekali. Tidak ada kepedulian dari pimpinan tertinggi Kementerian Riset dan Teknologi untuk datang menjenguk kedua korban dan memberikan kompensasi yang lebih masuk akal.
Kalau saja pemimpin itu punya hati seharusnya tidak perlu ragu menjadikan kedua korban itu sebagai pahlawan teknologi. Mereka telah "berkorban" demi cita-cita dari bangsa ini mencapai prestasi tinggi di bidang teknologi. Untuk itu tidak ada salahnya negara memberikan tunjangan seumur hidup kepada kedua korban tersebut.
Negara tidak akan merugi dengan memberikan tunjangan seumur hidup kepada mereka. Sebaliknya negara akan dihormati oleh rakyatnya karena menunjukkan kepedulian yang tinggi dan bertanggung jawab kepada rakyatnya.
Bupati Lumajang sepantasnya marah dengan perlakuan tidak manusiawi kepada warganya. Pemberian santunan yang hanya Rp 300.000 untuk waktu dua tahun sangat tidak pantas bagi orang yang harus menjadi korban dari tindakan sebuah lembaga negara.
Kejadian di Lumajang memang tidak boleh menyurutkan niatan kita untuk terus menggapai cita-cita tinggi mengembangkan teknologi roket. Peristiwa nahas itu justru harus menjadi pemicu untuk bekerja lebih giat dan menyempurnakan teknologi yang ada.
Namun yang lebih penting, perlunya kita mengasah nilai kemanusiaan kita. Bangsa yang katanya menempatkan manusia dalam posisi yang begitu tinggi. Bangsa yang berani menyebutkan prinsip bangsanya tentang sebuah "kemanusiaan yang adil dan beradab". Namun dalam praktiknya sama sekali tidak menunjukkan keadaban itu.
Tidak sepantasnya kita menunjukkan sikap yang sama sekali tidak menghormati arti sebuah kehidupan, arti sebuah kemanusiaan. Kita tidak ubahnya seperti monster apabila sekadar pintar tetapi tidak memiliki hati seperti ini.


Saya teramat sangat prihatin dengan kualitas jatidiri manusia saat ini yang semakin LEMAH, RAPUH & BODOH. Betapa tidak, teknologi untuk membunuh dan menghancurkan kehidupan dirinya sendiri, dikatakan sebagai prestasi ilmu, pengetahuan dan teknologi yang sangat tinggi, sungguh benar-benar manusia sama sekali sudah tidak memiliki nilai peradaban sebagai mahluk yang memiliki kemulyaan tertinggi, dimana setiap manusia memiliki amanat tanggung jawab jiwa raga diri dan jiwa raga bumi yang harus dijaga kelestarian dan existensinya, namun manusia telah mengingkari amanat dari Sang Pemilik, Pencipta dan Penguasa kehidupan bumi alam semesta raya ini. Inilah yang saya sebutkan bahwa KUALITAS JATIDIRI MANUSIA SAAT INI MENGALAMI KEMEROSOTAN 93% Jika dibandingkan dengan kualitas jatidiri manusia terdahulu yang mampu mempertahankan existensi hidupnya hingga berumur ribuan tahun. Sehingga manusia pun tidak menyadari sedang berada dalam kebodohan dan kesesatan akal pikiran yang nyata. Sehingga manusia tidak menyadari telah ingkar dan kufur terhadap segala anugerah jiwa raga diri dan jiwa raga bumi ini. SUNGGUH SANGAT MEMPRIHATINKAN?????
Kali belum terpikirkan, ....... atau lupa diasuransikan atau memang benar2 tidak ada biaya, ........ ya maklum bukan departement basah. Sayang ya bapak2, nggak kecepretan BC ............
300.000 dan harga diri sebuah bangsa.pihak terkait perlu belajar ulang tentang pancasila dan biaya hidup manusia indonesia
Terlihat KIB Jilid II......tidak berhasil apalagi KIB Jilid I...kenapa....karena berdasarkan data lapangan serta sumber data yang sukup dipercaya (Metro TV)...dimana kata di Bola jawa tengah yang katanya oleh pemerintah sebagai penghasil panen padai yang cukup berhasil dan selalu mengadakan panen raya....akan tetapi pada faktanya dilapangan pemerintah telah melakukan informasi kebohongan...dimana masyarakatnya beralih makan jagung daripada beras dan yang ironisnya...mereka telah bersaing dengan sapi dan kerbaunya yang juga......memakan jagung..... Ditengah-tengah kepemerintahan yang katanya Era reformasi......yang akan membeli pesawat pripadi kepresidenan (Air Force One Indonesia)....dan kenaikan gajih para mentrinya......, dimanakah hati nurani para petinggi-petinggi negara ini.....mereka menari-nari diatas penderitaan rakyat miskin.........Ironisssssss...dan warnig.....bagi negara ini......karena mata hati para petinggi telah mati rasa........Penderitaan rakyat miskin telah diabaikan.......jika hal ini terus berlanjut maka akan dimungkin kembali ke periode Orla yaitu akan menimbulkan Tritura yaitu tiga tuntutan rakyat yaitu Turunkan harga beras, turunkan harga minyak, turunkan angka kemiskinan.......Era Reformasi ala Orde lama.....Demokrasi kamuplase......visi misi mereka........siap-siaplah rakyat Indonesia menghadapi bencana kelaparan dan kemiskinan yang berkepanjangan dan semakin parah...jika para petinggi negara ini sudah mati rasa.......?????!!!!!!!!!!!!?????????????? Infomasi Kebohongan adalah suatu perbuatan Pidana....apalagi iformasi kebohongan terhadap seluruh rakyat Indonesia.....yang mengakibatkan kesengsaraan......
Lag-lagi negara lalai terhadap rakyatnya,itulah cerminan pejabat pikun akan tanggung jawab.....minta naik gaji.???? yg pas pakai jalur hukum tuntut sebesar-besarnya......Capek dech.........