- Piramida Dicari, Muaro Jambi Disia-siakan ..
- Bank Mutiara Diincar Investor
- Menjaga Kepercayaan Publik
- Partai Demokrat Terus Bergolak
- Mengembalikan Trotoar ke Fungsinya
- Beranikah PDIP Pelopori Politik Bersih
- Partai Demokrat Masih Bimbang
- Ketika Pilot Pakai Sabu
- Angelina Sondakh Jadi Tersangka
- Jangan Adu Pengusaha dan Buruh
- Pemerintah Hadapi Boikot AS
- Kegigihan Jaksa Dalam Kasus Rasminah
- Menguji Kewibawaan Pemerintah
- Pertarungan Menuju Puncak
- Jakarta Genting, Menteri di Daerah
Jangan Jadi Machiavellis
Sabtu, 6 Februari 2010 18:28 WIB
Skandal Bank Century terus bergulir. Panitia Khusus Bank Century terus mencoba melakukan penyelidikan atas kasus yang membuat negara harus mengeluarkan dana Rp 6,7 triliun untuk menyelamatkan bank tersebut. Semakin mendekati masa akhir tugas Pansus Bank Century, semakin tegang orang menunggu rekomendasi apa yang akan dikeluarkan oleh Pansus.
Dinamika yang terjadi di dalam Pansus membuat Partai Demokrat merasa terpojokkan. Reaksinya segera tampak dengan menggunakan mandat kekuasaan untuk menekan pihak-pihak yang dianggap membahayakan posisi mereka. Terutama yang dicoba ditekan adalah partai-partai koalisi yang duduk dalam pemerintahan.
Isu perggantian menteri yang disampaikan Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Amir Sjamsuddin bukan lagi mengindikasikan adanya manuver ke arah sana, tetapi nyata-nyata sebagai bentuk penekanan. Sekjen Partai Demokrat meminta kepada Ketua Dewan Pembina Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengganti menteri-menteri dari partai koalisi yang tidak mendukung sikap pemerintah dalam skandal Bank Century.
Langkah yang ditempuh Partai Demokrat sangat wajar apabila dilihat dari kepentingan politik Partai Demokrat. Hanya saja melihat realita yang terjadi selama penyelidikan dengan menghadirkan pihak-pihak yang terlibat langsung dalam pengambilan keputusan langkah penyelamatan Bank Century, terlalu riskan apabila Partai Demokrat hanya melihat kepentingan dirinya sendiri.
Orang akan mudah menilai bahwa langkah yang dilakukan Partai Demokrat adalah cara-cara Machiavellis. Partai Demokrat bisa dinilai menghalalkan segala cara untuk mempertahankan citranya, meski kenyataan yang didapat di lapangan menunjukkan adanya pelanggaran dalam proses penyelamatan Bank Century.
Rekaman terakhir yang diperdengarkan di Pansus Bank Century mengenai Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia menunjukkan adanya agenda khusus untuk menyelamatkan Bank Century. Perubahan Peraturan Bank Indonesia mengenai Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek dengan mengubah besarnya rasio kecukupan modal (CAR) jelas-jelas ditujukan hanya sekadar untuk menyelamatkan Bank Century.
Dalam rekaman terdengar jelas bahwa beberapa anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia sendiri menyatakan ketidaksetujuannya. Berbagai pelanggaran terhadap prinsip ketidakhati-hatian yang dilakukan pengelola Bank Century tidak pantas membuat bank tersebut harus diselamatkan. Pandangan ini semakin menunjukkan bahwa sebenarnya tidak ada dasar kegagalan sistemik yang harus ditakutkan apabila bank tersebut ditutup.
Namun kita melihat sekarang ini bahwa langkah penyelamatan tersebut menjadi sesuatu yang harus dilakukan. Seakan-akan ancaman kegagalan sistemik itu sesuatu yang begitu menakutkan apabila langkah penyelamatan tidak dilakukan. Padahal, beberapa pihak menganggap indikator kegagalan sistemik hanya sekadar pembenaran terhadap kebijakan yang sudah diambil.
Kita menilai tepat sikap yang disampaikan partai-partai anggota koalisi. Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie misalnya menegaskan bahwa koalisi yang dilakukan Golkar dengan Presiden Yudhoyono adalah koalisi untuk kebaikan Indonesia. Kalau kemudian yang terjadi adalah kesalahan yang tidak bisa ditolerir, maka Golkar tidak mungkin untuk membela secara membabi-buta.
Golkar sama sekali tidak khawatir bahwa atas sikapnya ini harus kehilangan kadernya di kabinet. Bahkan menurut Aburizal Bakrie, demi memberi sumbangsih bagi kemajuan Indonesia, Golkar akan berada paling depan untuk menarik kadernya yang tidak menunjukkan kinerja yang baik.
Sikap yang sama disampaikan anggota Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Persatuan Pembangunan yang duduk di Pansus Bank Century. Menurut pandangan mereka, koalisi harus ditujukan untuk menegakkan kebenaran, bukan membenarkan sebuah kesalahan.
Partai Demokrat sedang menggali kuburnya sendiri apabila memainkan gaya berpolitik yang Machiavellis. Dengan fakta-fakta yang begitu terang benderang, salah besar apabila Partai Demokrat ingin membelokkannya. Yang harus dilakukan adalah bagaimana membuat kerugiannya seminimal mungkin, sebab tidak mungkin lagi untuk menyatakan bahwa tidak ada yang salah dengan skandal Bank Century.
Penegakan kebenaran terhadap skandal Bank Century menjadi sebuah keharusan. Sekali lagi, masyarakat sudah memiliki kesimpulannya sendiri setelah mengikuti dengan saksama semua yang terjadi dalam Pansus Bank Century. Masyarakat sekarang hanya ingin tahu, apakah penilaian mereka sama atau tidak dengan logika yang ada di benak anggota DPR.
Kalau saja logika DPR berbeda dengan logika masyarakat, maka semakin lunturlah legitimasi anggota Dewan di mata masyarakat. Sekarang ini masyarakat tidak cukup merasa diwakili oleh anggota DPR, karena kaca mata yang dipergunakan anggota Dewan seringkali berbeda dengan kaca mata masyarakat.
Ini tentunya sinyal yang kurang baik bagi DPR. Kalau ketidakpercayaan itu terus berlanjut, bisa-bisa masyarakat kemudian kehilangan sama sekali kepercayaannya kepada DPR. Akibatnya, kehadiran lembaga negara itu akan menjadi tidak akan ada artinya.
Oleh karena itu penting bagi anggota Pansus Bank Century dan juga DPR untuk mendengar secara langsung apa suara hati masyarakat. Datang dan temui masyarakat dengan hati dan pikiran yang terbuka. Jangan datang dengan agenda yang ada di dalam pikiran kita, karena akan menjauhkan kita untuk bisa menangkap apa sebenarnya aspirasi yang berkembang di dalam hati masyarakat.
Tentunya penting pemerintah pun melakukan hal yang sama. Kalau tidak percaya akan aksi demonstrasi yang marak terjadi sekarang ini, datanglah langsung ke kantung-kantung masyarakat. Pasti akan bisa didapatkan suara yang murni dan bisa dijadikan pegangan untuk melangkah ke depan.
Jauhkan sikap untuk menyangkal terhadap diri sendiri. Karena kepentingan pribadi yang terlalu kuat, kita sering melakukan self-denial. Akibatnya kita salah untuk membaca keadaan.
Tidak ada satu pun di antara kita yang mengharapkan pemerintahan ini gagal untuk menjalankan tugasnya memperbaiki kehidupan rakyat. Agar kita tidak gagal dalam lima tahun ke depan, janganlah kita membohongi terhadap apa yang terjadi di awal pemerintahan ini. Ketidakpercayaan masyarakat akan membuat pemerintah sulit untuk menjalankan tugas lima tahun ke depan.


Semoga demokrasi yg akan dikembangkan di Indonesia ini terus berlaku sepanjang masa dan bukan hanya untuk mencapai kekuasaan. Semoga juga demokrasi tsb hanya untuk kesepakatan2 yg positip dalam arti, mengandung lbh besar nilai kebenarannya, lebih besar membawa nilai positipnya/tambahnya bagi Bangsa (seluruh/sbgn besar rakyat lbh makmur sejahtera) dan Negara (jadi negara maju sejajar negara besar lain didunia) atas dasar keTuhanan, kemanusiaan, persatuan bangsa, kerakyatan dan keadilan hukum dan sosial. Dan juga semoga negara ini tdk hancur jikapun ada demokrasi yg semu, artinya hanya dipakai oleh kelompok sebagai tujuan untuk berkuasa, bukan yg berarti sebenarnya adalah dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Karena yg demikian bisa jadi kebalikan dari tujuan mulianya demokrasi, malahan hanya apa yang mendekati kata judul diatas, yg extremnya jangan sampai ada yg me-machinate-kan atas dasar demokrasi. Sebagai ilustrasi, jika ada 3 copet masing2 punya cara khas beda, kemudian mereka bersatu disuatu pasar, mau mencopet sekelompok orang. Karena itu bertiga "musyawarah untuk mufakat" menentukan bgmn cara terbaik agar bisa mencopet kelompok orang tsb. dan satu orang mengikuti dua lainnya yg sudah disamakan lebih dulu caranya, mereka sepakat, demokratislah; katanya. Berhasil mencopetlah mereka. Bukankah mereka memakai cara yg demokratis untuk itu? Tetapi Ini bukan demokrasi yg kita maksud kan? Mereka memakai demokrasi semu yg salah, karena hanya dipakai menentukan cara, pdhl niat sdh salah, hasil akhirpun merupakan kesalahan, yaitu karena menurut mayoritas orang didunia/Indonesia ini mencopet adalah tindakan salah. Saya senantiasa berharap semoga tdk ada machiavellis dibenak warga bangsa ini, apalagi para pemimpin2nya yg bisa berdampak/efek multi-lipat/deret ukur, dosanya. Semoga pula itu hanyalah ketakutan awam yg tidak paham tentang istilah2. Dan kenyataannya semoga ‘baik-baik saja’!
Betul bung, keturunan cina yg merampok negara ini, setelah itu belagak diperlakukan diskriminasi, bangsat gak?
Gara-2 kasus Century, energi negara ini terkuras, semua membicarakan kasus tersebut. ini gara-2 R Tantular keturunan Cina yg sejak dulu melarikan uang rakyat keluar negeri.... INI FAKTA..... INI NYATA..... Edy tansil mana hasilnya....?
Dalam era kleterbukaan/kelancaran arus informasi....kudunya target2 dicapai dg memanfaatkan kompetensi secara pas dan efekti......trik2 Machiavelis sdh sulit lah........
Supaya tidak terjadi perdebatan yang berkepanjangan,seyogianya Pansus fokus kepada penyaluran dana 7,6 triliun saja,spy jelas krn dipenyaluran inilah tindak pidananya,bravo pansus,sikat para koruptor, kapan lagi