Minggu, 7 Februari 2010 13:26 WIB
Panelis ahli Metrotv, Prof Dr Bustanul Arifin sejak beberapa waktu lalu mengingatkan, pemerintah untuk mengantisipasi harga bahan kebutuhan pokok di bulan Januari. Pada awal tahun harga-harga kebutuhan masyarakat selalu melambung, karena masa panen raya belum tiba, sementara stok yang ada sudah mulai menurun.Namun peringatan itu tidak ditangkap sebagai sesuatu yang pantas untuk segera direspons. Akibatnya, kita rasakan hari-hari ini harga kebutuhan pokok masyarakat naik tajam. Keterlambatan pemerintah untuk membagikan beras bagi rakyat miskin juga membuat harga semakin sulit terkendali.Tingkat inflasi bulan Januari merupakan indikator yang paling jelas menunjukkan adanya kenaikan harga. Inflasi bulan Januari yang tercatat sebesar 0,84 persen terutama disebabkan oleh naiknya harga-harga kebutuhan pokok seperti beras dan gula.Bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tetap, kenaikan harga tidak terlalu terasakan akibatnya. Namun bagi masyarakat yang belum memiliki pekerjaan, tekanan harga kebutuhan pokok semakin membebani kehidupan mereka.Kita bisa lihat seperti di Cirebon, orang mulai menggantikan makanan mereka dari beras ke karbohidrat yang lain seperti singkong. Perubahan bahan makanan tidaklah persoalan karena kita memiliki banyak alternatif bahan makanan pokok yang lain. Hanya saja kalau ada masyarakat yang mengonsumsi nasi aking atau nasi sisa, ini merupakan gambaran yang kurang baik.Ketika pada masa kampanye lalu ada tokoh-tokoh politik mengangkat isu kemiskinan seperti ini, pemerintah yang berkuasa merasa tersinggung. Mereka selalu mengatakan bahwa fakta itu terlalu dibesar-besarkan dan bahkan hanya ingin mempermalukan Indonesia.Namun masih banyak warga kita yang hidup di bawah garis kemiskinan itu adalah sebuah kenyataan. Tugas dari pemerintah untuk menangkap realita tersebut dan memecahkannya. Bukan hanya sekadar menyangkal, tetapi kenyataannya masyarakat sedang menderita.Ke depan tekanan hidup yang harus dihadapi masyarakat niscaya akan semakin berat. Mengapa? Karena musim penghujan akan mencapai puncaknya. Di beberapa daerah bahkan tanggul mulai jebol dan banjir menerjang banyak desa. Tidak terkecuali di Jawa di mana banjir sudah dirasakan di Baleendah, Bandung dan Mojokerto, Jawa Timur.Bencana alam akan membuat harga kebutuhan pokok semakin meningkat karena dua alasan. Pertama, karena produksi akan terganggu, terutama ketika banjir menerjang sentra-sentra produksi. Kedua, suplai kebutuhan pokok akan tidak lancar, karena jalur transportasi yang ada tidak bisa dilalui dengan normal.Lagi-lagi yang dibutuhkan adalah perencanaan yang matang. Mulai diperiksa cadangan bahan kebutuhan pokok yang ada di gudang-gudang dan diantisipasi cara untuk membawanya ke konsumen. Pengalaman bulan Januari harus menjadi catatan agar tidak terulang kembali di bulan Februari ini.Semua ini sebenarnya bukanlah perkara yang baru bagi kita. Inilah pola yang setiap tahun kita hadapi. Sungguh aneh apabila dari sesuatu yang sudah pasti terjadi setiap tahun, kita tidak juga semakin pintar untuk bisa mengelolanya menjadi lebih baik.Janganlah persoalan-persoalan lain seperti skandal Bank Century menjadi alasan bagi pemerintah untuk tidak bisa berkerja dengan baik. Itulah adalah konsekuensi yang harus kita bayar ketika kita memilih jalan demokrasi. Checks and balances merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari sistem demokrasi. Semua kebijakan yang diambil pemerintah harus siap untuk diperiksa oleh masyarakat.Berbagai persoalan yang menyentuh kehidupan masyarakat banyak seharusnya justru menjadi alat efektif pemerintah untuk menunjukkan kepeduliannya. Apabila pemerintah bisa mengimbangi kesalahan dalam kebijakan penyelamatan Bank Century dengan langkah yang lebih memperhatikan kehidupan masyarakat banyak, rakyat akan menilai pemerintah tetap positif.Prof Dr Komarudin Hidayat mencontohkan apa yang dialami Presiden AS Bill Clinton ketika harus menghadapi kasus Monica Lewinsky. Clinton tidak harus larut dengan isu perselingkuhannya, tetapi mengimbanginya dengan kebijakan yang prorakyat. Hasilnya, Clinton selamat dari upaya pemakzulan dari Kongres AS.Sebuah iklan rokok cocok dijadikan masukan dari pemerintah. “Less talk, do more”. Sedikit bicara, banyak bekerja. Itulah yang jauh lebih penting dilakukan pemerintah sekarang ini. Daripada bolak-balik rapat, bolak-balik mengeluh, mengapa tidak persoalan kenaikan harga bahan pokok ditangani secara lebih baik. Sebab, masyarakat tidak bisa lagi menunggu untuk mendapatkan harga yang lebih terjangkau. Perut mereka tidak bisa lagi menunggu untuk segera diisi.
Hal seperti itu sudah dapat diduga, mengapa...?banyak faktor yang mendukung kearah tersebut dan saat ini yang perlu dilakukan adalah menciptakan kepemimpinan yang Patriotis dan Nasionalis dan kepemimpinan anggota dewan yang juga sama langkah selanjutnya adalah pukul mundur sekuat-kuatnya dan secepat-cepatnya sistem kapitalis hingga kita dapat menuju pada rel sebenarnya sistem ekonomi kita yakni ekonomi kerakyatan.
Segera tanggulangi
iya,mana keberhasilan pemerintah itu semua harga pada naik,iya benar pemerintah berhasil memiskinkan rakyatnya.
Sibuya kembalilah kau ke sawah kerja mu ku nantikan, tanpa kerja mu yang keras mengemburkan tanah yang keras, niscaya kami tak kan makan. Walau aku tau kau sekarang ini tak pernah lagi bekerja keras, krn sebagian tanah sawah telah berganti fungsi. Atau, karena majikan mu sudah neggan bekerja mengolah sawah sebab harga jual gabah dan biaya produksi amat tinggi. Kini aku lebih senang menerima RASKIN meski rasanya tak sedap tapi itu ku harga hasil kerja mu SiBuYa. Kau sibuya nampak lebih suka mendatangkan beras dari Vietnam ketimbang mengolah lahan mu sendiri. Namun kau tampaknya tak bisa menurunkan harga, kenapa tak kau talangi dulu pembelian beras sehingga harganya menjadi murah. Berkorban lah demi rakyat yg kini tercekik oleh harga-harga sembako.., INGAT JANJI mu, kan kutagih sampai kau mati...
Sebenarnya masalah suply sembako (beras) menurun kan sdh terbaca jelas, walau ada perubahan musim, itu kan tdk terlalu menjadi faktor utama. Secara umum masalah spt ini kelemahannya ada di pemerintah. 1. Musim sdh jelas, bidang yg mengurusnya blm ada tindakan nyata untuk antisipasi itu. 2. Sdh jelas musimnya, yg sdh mapan, dgn dpt uang tiap bulan mau menaikan gaji disaat musim rawan, shg seperti biasa keb pokokpun naik, bukan hanya skrg, dr jaman dulu juga begitu. 3. Katanya juga inflasi yg menyebabkan, trus siapa yg tau inflasi itu, siapa yg hitung inflasi itu, mengapa ada inflasi itu? yg menanggung akibat kenaikkan barangpun rakyat yg tdk punya pendapatan tetap. Yg gajian tetap sama sekali tdk bermasalah, masih untung terus, krn brg2 naik 10% pun gak masalah, krn gaji naik 15% misalnya. 4. Bagi yg tdk berpendapatan tetap, jika brg pokok naik 10%, maka tingkat kemiskinannya bisa2 turun 30%. Kenapa?, krn biasanya secara bersamaan juga pendapatan biasanya turun. Contoh, (misalsaja) biasa pendapatan orang miskin 20000/hr=4kgberas. @5000/kg Kondisi paceklik, pendptan turun jadi 17000/hr=3,10kgberas @ 5500/kg. Maka hitungan kenaikan kemiskinannya kan minus 4/3,10 = - 22,5%.(minus). Gitu gak ya hitung kasarnya kira2? Jadi jika angka kemiskinan karena data salah, dikatakan (misal) turun 20%saja sktr 10jt saja, padahal misal yg benar hanya 2jt, mk kesalahan menjadi berlipat ganda krn keslahan tsb. Panjang hitungnya. 5. Kemewahan diatas disamaratakan dgn yg dibawah, hasil nya kacau jika untuk mengatakan 'penurunan kemiskinan' atas dasar apa itu GNP? Karena atas dan bawah itu bumi dan langit.
Hal seperti itu sudah dapat diduga, mengapa...?banyak faktor yang mendukung kearah tersebut dan saat ini yang perlu dilakukan adalah menciptakan kepemimpinan yang Patriotis dan Nasionalis dan kepemimpinan anggota dewan yang juga sama langkah selanjutnya adalah pukul mundur sekuat-kuatnya dan secepat-cepatnya sistem kapitalis hingga kita dapat menuju pada rel sebenarnya sistem ekonomi kita yakni ekonomi kerakyatan.
Segera tanggulangi
iya,mana keberhasilan pemerintah itu semua harga pada naik,iya benar pemerintah berhasil memiskinkan rakyatnya.
Sibuya kembalilah kau ke sawah kerja mu ku nantikan, tanpa kerja mu yang keras mengemburkan tanah yang keras, niscaya kami tak kan makan. Walau aku tau kau sekarang ini tak pernah lagi bekerja keras, krn sebagian tanah sawah telah berganti fungsi. Atau, karena majikan mu sudah neggan bekerja mengolah sawah sebab harga jual gabah dan biaya produksi amat tinggi. Kini aku lebih senang menerima RASKIN meski rasanya tak sedap tapi itu ku harga hasil kerja mu SiBuYa. Kau sibuya nampak lebih suka mendatangkan beras dari Vietnam ketimbang mengolah lahan mu sendiri. Namun kau tampaknya tak bisa menurunkan harga, kenapa tak kau talangi dulu pembelian beras sehingga harganya menjadi murah. Berkorban lah demi rakyat yg kini tercekik oleh harga-harga sembako.., INGAT JANJI mu, kan kutagih sampai kau mati...
Sebenarnya masalah suply sembako (beras) menurun kan sdh terbaca jelas, walau ada perubahan musim, itu kan tdk terlalu menjadi faktor utama. Secara umum masalah spt ini kelemahannya ada di pemerintah. 1. Musim sdh jelas, bidang yg mengurusnya blm ada tindakan nyata untuk antisipasi itu. 2. Sdh jelas musimnya, yg sdh mapan, dgn dpt uang tiap bulan mau menaikan gaji disaat musim rawan, shg seperti biasa keb pokokpun naik, bukan hanya skrg, dr jaman dulu juga begitu. 3. Katanya juga inflasi yg menyebabkan, trus siapa yg tau inflasi itu, siapa yg hitung inflasi itu, mengapa ada inflasi itu? yg menanggung akibat kenaikkan barangpun rakyat yg tdk punya pendapatan tetap. Yg gajian tetap sama sekali tdk bermasalah, masih untung terus, krn brg2 naik 10% pun gak masalah, krn gaji naik 15% misalnya. 4. Bagi yg tdk berpendapatan tetap, jika brg pokok naik 10%, maka tingkat kemiskinannya bisa2 turun 30%. Kenapa?, krn biasanya secara bersamaan juga pendapatan biasanya turun. Contoh, (misalsaja) biasa pendapatan orang miskin 20000/hr=4kgberas. @5000/kg Kondisi paceklik, pendptan turun jadi 17000/hr=3,10kgberas @ 5500/kg. Maka hitungan kenaikan kemiskinannya kan minus 4/3,10 = - 22,5%.(minus). Gitu gak ya hitung kasarnya kira2? Jadi jika angka kemiskinan karena data salah, dikatakan (misal) turun 20%saja sktr 10jt saja, padahal misal yg benar hanya 2jt, mk kesalahan menjadi berlipat ganda krn keslahan tsb. Panjang hitungnya. 5. Kemewahan diatas disamaratakan dgn yg dibawah, hasil nya kacau jika untuk mengatakan 'penurunan kemiskinan' atas dasar apa itu GNP? Karena atas dan bawah itu bumi dan langit.