Musibah Sesungguhnya di Ciwidey

Kamis, 25 Februari 2010 16:30 WIB

Pandangan akhir fraksi Panitia Khusus Bank Century hari Selasa lalu mengentakkan pemerintah. Namun musibah yang sesungguhnya terjadi di kawasan perkebunan teh Ciwidey, Bandung Selatan, Jawa Barat dan ini pantas membuat kita lebih tersentak serta lebih prihatin.
 
Puluhan orang hingga saat ini belum diketahui nasibnya. Kuat dugaan mereka meninggal dunia tertimbun longsoran bukit yang menerjang tempat tinggal penduduk.
 
Sudah dua hari proses evakuasi dilakukan, namun tidak mudah untuk menemukan korban. Ribuan meter kubik tanah yang runtuh dan menerjang daerah permukiman menyulitkan untuk bisa menemukan para korban. Apalagi peralatan yang dibutuhkan untuk membongkar gundukan tanah terbatas.
    
Meski terletak di kawasan Bandung Selatan, medan yang harus dilalui untuk menuju perkebunan teh tidak mudah. Apalagi untuk membawa peralatan berat untuk masuk ke kawasan yang tidak memiliki jalan yang cukup lebar dan baik.
    
Struktur tanah di kawasan Ciwidey memang labil. Di saat curah hujan yang tinggi seperti sekarang ini, sangat mudah untuk lepas dan kemudian mengakibatkan longsor.
    
Belum kering lagi bibir untuk mengingatkan pentingnya kehati-hatian kita menghadapi musim penghujan. Sangat mudah terjadi bencana alam apalagi dengan curah hujan yang tinggi pada bulan Januari, Februari, dan Maret. Banjir dan longsor merupakan bahaya yang perlu diantisipasi.
   
Ketika kini bencana alam sudah terjadi yang perlu dilakukan adalah mencegah jangan sampai korban bertambah. Sejauh mungkin mereka yang selamat dipindahkan ke lokasi yang lebih aman.
  
Prioritas utama harus ditujukan kepada mereka yang selamat. Mereka bukan hanya harus terhindar dari longsor susulan, tetapi kehidupannya bisa terus berlanjut. Mereka harus tetap menjadi manusia produktif, sementara anak-anaknya harus tetap bisa pergi ke sekolah.
  
Ancaman longsor susulan memang sangat besar karena struktur tanah yang labil. Apalagi hujan terus mengguyur, sehingga petugas tim penyelamat pun harus berhati-hati dan tidak berani untuk melakukan pencarian di tengah guyuran hujan yang lebat.
  
Berbagai bencana alam yang terjadi memperingatkan kita untuk semakin  mengenal negeri kita. Apalagi di tengah perubahan iklim yang begitu ekstrem dan daya dukung lahan yang semakin terbatas. Pertambahan penduduk dan kecepatan pembangunan membawa konsekuensi menurunnya daya dukung tanah.
   
Kepekaan masyarakat untuk bisa membaca tanda-tanda alam harus ditingkatkan. Kemampuan dari tim pencarian dan penyelamatan juga harus semakin baik. Dukungan peralatan pun harus semakin memadai.
    
Kemampuan itu tidak lagi hanya bisa ditumpukan kepada pemerintah pusat, tetapi pemerintah daerah harus meningkatkan kualitasnya . Kesiapan daerah harus semakin tinggi dan jangan lagi terlalu tergantung kepada pusat.
    
Otonomi daerah yang kita canangkan sejak tahun 2001 jangan hanya dilihat dari diberikannya dana alokasi umum ke daerah, tetapi melekat juga tanggung jawab. Tanggung jawab pembangunan dan juga kesejahteraan warga berada di tangan pemerintah daerah.
    
Peningkatan kemampuan daerah menjadi kata kunci. Sikap dan perilaku dari para pejabat daerah tidak lagi bisa seperti dulu, tetapi harus cepat dan tanggap dalam bertindak. Pemerintah daerahlah yang paling tahu apa kebutuhan daerah dan bagaimana membangun rakyatnya.
    
Keberhasilan pembangunan tidak cukup lagi diukur oleh peningkatan produk domestik regional bruto, tetapi sampai sejauh mana kesejahteraan rata-rata masyarakat. Tidak boleh ada warga yang sampai tertinggal dan dengan jangkauan pengawasan yang lebih kecil, pemerintah daerah harus mampu mengenali kehidupan riil masyarakatnya.
    
Kita harus membuat model-model pembangunan daerah yang baik. Bahkan tidak salah apabila pemerintah pusat memilih daerah-daerah yang akan dijadikan model. Ini bukan karena kita diskriminatif, tetapi memang mustahil kita membangun Indonesia yang begitu luas dengan sekali jadi. Lebih baik kita fokus ke daerah-daerah yang memang potensial dilihat dari kemampuan aparat dan potensi pembangunan untuk dijadikan model.
   
Kelak ketika kita mampu membuat model-model yang baik, kita kembangkan model itu ke daerah-daerah yang lain. Berbagai musibah yang kita alami jangan membuat kita kecil hati, tetapi harus menjadi pemacu untuk membangun Indonesia yang lebih baik dan lebih sejahtera.

Bookmark and Share



KOMENTAR [7]

  • Uge Linggau, Jumat, 6-Februari-2010

    Kalau kita bicara Pansus pasti menyangkut politik, bicara politik pasti ke wakil rakyat. Sejatinya wakil rakyat kurang peduli akan rakyat padahal mereka berasal dari rakyat ( kacang lupa kulit ), pada prinsipnya DPR/DPRD kalau ngatur orang lain paling getol, tapi ngatur dirinya sendiri nol. Sebagai rakyat saya berharap pada DPR/DPRD sbb : 1. Bantulah rakyat didaerahmu dengan menyisihkan uang Rp.300 ribu / orang dan x jumlah anggota dewan lalu dari uang tsb dibagikan utk rakyat paling msikin. 2. Wakil rakyat harus banyak turun gunung agar akrab dan tahu dengan rakyatnya ( peduli ) 3. Wakil Rakyat harus banyak memantau kegiatan pemerintah spt: Pasar, K5, pedagang, parkir, dan ttg transportasi. 4. Jadikanlah diri anda benar2 wakil rakyat yang merakyat, 5.Wakil Rakyat se Indonesia harus peduli rakyat, 6 DPR/DPRD harus melaksanakan 2 periode, hal ini agar memberi kesempatan pada kader2 bawah utk naik karena selama ini orangnya cuma itu-itu juga dan hasilnya nol. artinya DPR/DPRD harus mengkritisi dirinya sendiri sebelum mengkritik pemerintah lebih jauh, selama ini yang terjadi " Semut diseberang lautan tampak namun gajah dipelupuk mata tidak kelihatan "

  • dimas hasan, Jumat, 6-Februari-2010

    saya tidak akan banyak komentar,beginilah politisi kita yang hanya menghabiskan uang hanya untuk ribut2 di gedung rakyat saja,apakah ini yang namanya wakil rakyat...

  • sugi, Jumat, 6-Februari-2010

    Dalam pembangunan jangka panjangnya, pemprop seharusnyalah mulai memikirkan pola pencegahan dan antisipasi dengan pembangunan yg aman, sehat, nyaman, dan ramah lingkungan al sbb: 1. Untuk selanjutnya, ada aturan pelarangan pembuatan rumah/pemukiman dilereng2 gunung/dibawah gunung/tebing, dipinggir kali/jurang, didaerah resapan/rawa dll yg bisa berdampak longsor atau menyeababkan banjir. 2. Jika sdh ada dana, merelokasi desa2/pemukiman2 yg sdh terlanjur beradapada zona merah seperti tsb diatas. 3. Untuk merealisasi 1 & 2 tersebut memang mahal dan masih angan2 juga mungkin, tetapi tetap hrs ada pemikiran. Caranya, pemda2 bersama bina marga , perhutani dan klh bekerja sama dgn cara tukar guling dgn tanah masyarakat yg dilereng2 tsb, dgn tanah perhutani yg aman huni dan subur untuk bertani, dgn perhitungan2 yg kompromistis. Pemukiman masyarakat aman, luas hutan tetap, daerah lerenga2 dihutankan lagi oleh perhutani. Usahakan semua hrs mempunyai keuntungan dan nilai tambah dgn sistim itu. 4. Bagi pengembang, pembebasan tanah untuk pemukiman hrs direncanakan mendalam dan tdk berpotensi adanya cemaran, bencana longsor dsb dikemudian hari. 5. Pejabat Pemerintah semua tingkatan hrs bekerja lbh baik sesuai bidang dan amanah agar tdk selalu ada bencana diwilayah pemerintahannya. Jalankan dan gunakan semua tugas dgn iklas dan tanpa manipulasi. Juga selalu memberi binaan dan bimbingan pada masyarakat untuk bertempat tinggal yg aman dan taat aturan. Ini terus menerus dan tegas tanpa merugikan rakyat. 6. Masyarakat agar sadar dan menjaga diri untuk tdk membuat bangunan didaerah rawan longso/banjir, serta mentaati aturan yg ada.

  • samsoel maarif, Jumat, 6-Februari-2010

    Bapak Surjopratomo yth, Saya mendukung pemikiran Bapak se utuhnya. Saya infokan bhw di Jawa Barat sdh di tanda tangani MOU antara Pemda Prop,Apindo,dan LSM lingkungan hidup bhw sepakat akan menanggulangi pencemaran/perusakan lingkungan secara sungguh2, namun MOU tsb tdk jalan. Melalui media ini, saya memohon kpd Bapak, ambil inisiatip mempertemukan wakil dari Bapenas, Bpk Menteri Lingkungan Hidup,Bapak Sofyan Wanandi dengan penanda tangan MOU tsb diatas, untuk membuat langkah2 merealisasikan pemikiran bapak tersebut...Sekian, untuk selanjtnya, saya menunggu tanggapan Bapak.Tks Wasalam .SM

  • FENDER, Kamis, 5-Februari-2010

    Kepemimpinan yg “Baik&Benar” ; Kepemimpinan yg Tidak akan makan apabila di Bawah nya “TIDAK” dapat makan. Kepemimpinan yg “MURKA”; Kepemimpinan yg TerKenyang-Kenyang, Tetapi di “BAWAHNYA”Di “IKAT” “KESUKARAN&PENDERITAAN”. ” Good and True” leadership; Leadership that will not eat if under him could not eat. Leadership that “MURKA”; Leadership that Kenyang-kenyang Tar, but under “him” Di IKAT of the “DIFFICULTY and the SUFFERING”. (Beklin Panjaitan)

KIRIM KOMENTAR ANDA

Nama
Email
Komentar Anda
Kode Keamanan
 

© 2004 - 2012 MetroTVNews.com All rights reserved.
Comments & suggestions please email webmetro@metrotvnews.com
FANS INGIN BARCA REKRUT GARETH BALE DARI SPURS   *   USAI DIRAWAT AKIBAT PNEUMONIA, LEGENDA SEPAK BOLA PORTUGAL EUSEBIO DIIZINKAN PULANG   *   PRESIDEN OBAMA UCAPKAN SELAMAT TAHUN BARU PADA WARGA DUNIA   *   FERGIE KECEWA MU DIKALAHKAN BLACKBURN 2-3   *   INDONESIAN POLICE CONTINGENT IN SUDAN PRESENTED FINANCIAL ASSISTANCE TO REFUGEES IN THE DARFUR REGION   *   MICHAEL ESSIEN AKAN KEMBALI BELA CHELSEA MEDIO JANUARI 2012   *   KORBAN TEWAS AKIBAT BADAI THENE DI INDIA JADI 42 ORANG   *