Jabatan Itu Amanah

Jumat, 26 Februari 2010 20:03 WIB

Menarik mengikuti perkembangan politik menjelang Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat berkaitan dengan hasil penyelidikan Panitia Khusus Bank Century yang akan digelar tanggal 2 dan 3 Maret mendatang. Ibarat pertandingan pencak silat, yang sekarang sedang terjadi adalah pembukaan kembang-kembang jurus andalan.

Setelah mendengar pandangan akhir fraksi-fraksi di dalam Pansus Bank Century yang cenderung menempatkan pemerintah dalam posisi bersalah dalam penyelamatan Bank Century, Partai Demokrat mencoba membalikkan keadaan. Petinggi Partai Demokrat, Ruhut Sitompul mencoba menggertak partai koalisi dan sebaliknya mengiming-imingi partai oposisi agar berubah sikapnya pada Sidang Paripurna nanti.

Lobi dalam politik merupakan hal yang biasa. Namun lobi dengan menggunakan pendekatan kekuasaan bisa berakibat fatal. Apalagi kemudian menempatkan pemberian jabatan sebagai bagian alat tawar menawar.

Mengapa kita katakan fatal? Karena kekuasaan bukan untuk bagi-bagi jabatan. Jabatan bukan untuk kepentingan sebuah kompromi politik. Kekuasaan dan jabatan adalah sebuah tanggung jawab untuk memperbaiki perikehidupan rakyat.

Alangkah meruginya bangsa ini apabila kekuasaan dan jabatan hanya diperuntukkan bagi mereka yang menghamba kepada pemegang kekuasaan. Para pejabat seperti itu pasti hanya akan mengabdikan dirinya kepada pemegang kekuasaan, karena merasa jabatan itu merupakan hadiah dari pemegang kekuasaan. Padahal jabatan itu adalah sebuah amanah untuk pengabdian. Pengabdian itu sepenuhnya harus diperuntukkan demi pemegang mandat kekuasaan yang sesungguhnya yaitu  rakyat.

Sekarang ini memang kita melihat adanya kesalahan dalam pemaknaan sebuah jabatan. Seakan-akan jabatan itu sekadar sebagai sebuah kehormatan belaka. Padahal di balik kehormatan itu ada tanggung jawab. Noblesse oblige, di balik kehormatan ada tanggung jawab.

Tanggung jawab itu adalah amanah. Amanah yang diberikan kepada mereka yang mendapatkan jabatan adalah memikirkan perbaikan bagi kehidupan rakyatnya. Bahkan sering digambarkan, seorang pejabat itu haruslah yang pertama merasakan penderitaan ketika negara dihadapkan kepada kesulitan, sebaliknya menjadi yang terakhir untuk menikmati ketika negara sedang merasakan keuntungan.

Pada kita keadaannya seringkali malah sebaliknya. Ketika negara sedang kesulitan, para pejabat tetap menikmati kemewahan fasilitas negara, sebaliknya ketika negara sedang maju, merekalah yang pertama kali juga menikmatinya.

Apa yang diperlihatkan dari manuver Partai Demokrat menjelang Sidang Paripurna DPR semakin memertegas betapa kekuasaan pada kita masih demi kepentingan kekuasaan itu sendiri. Penggunaan bahasa yang vulgar untuk menggertak anggota koalisi dengan menyebutkan "sudah dibuang ke laut" atau "kami akan beri jabatan di kabinet" untuk mengiming-imingi partai oposisi, menjauhkan pemahaman yang sebenarnya bahwa jabatan itu sebuah amanah.

Kita menjadi sangat prihatin ketika kemudian menempatkan persoalan itu dalam konteks peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh hari Jumat (26/2) ini. Sebab, contoh yang diajarkan Nabi Muhammad tentang kekuasaan politik adalah kekuasaan itu haruslah jujur, bertanggung jawab, dan peduli kepada yang dipimpinnya.

Kekuasaan tidak boleh dipakai untuk sebuah kesepakatan yang merugikan rakyat. Termasuk dalam skandal Bank Century tidak boleh kekuasaan menutupi sebuah kesalahan. Kalau memang kesalahan itu ditemukan ada, maka secara sportif seorang pejabat negara harus menerima dan sekaligus memikul tanggung jawabnya.

Kompromi terhadap sebuah kesalahan itulah yang sering membuat negara kemudian masuk dalam kerusakan. Kita sudah merasakan ketika kita membiarkan krisis finansial di tahun 1998 tidak ada yang dimintai pertanggungjawabannya. Kita bukan hanya harus menanggung beban biaya rekapitalisasi hingga Rp 600 triliun hingga sekarang ini, tetapi tidak menimbulkan efek jera. Sepuluh tahun setelah kesalahan 1998, kita harus menanggung beban baru sebesar Rp 6,7 triliun akibat kesalahan yang hampir sama.

Nabi Muhammad mengajarkan kepada kita untuk tidak berkompromi dalam menegakkan hukum dan kebenaran. Bahkan Nabi pernah mengatakan, kalau pun putrinya, Fatimah terbukti melakukan pelanggaran hukum, maka beliau tidak akan memberi ampun untuk menghukumnya.

Dalam skandal Bank Century sekarang ini mungkin keputusan yang akan diambil akan sangat pahit. Sebab sejak audit investigasi yang dilakukan Badan Pemeriksa Keuangan hingga penyelidikan yang dilakukan Pansus Bank Century kuat indikasi terjadinya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan. Bahkan pelanggaran itu terjadi mulai dari proses merger dan akuisisi Bank Century, penyelamatan Bank Century, hingga penggunaan dana talangan sebesar Rp 6,7 triliun.

Kalau kemudian ada pihak yang dimintai pertanggungjawaban, itu merupakan sebuah konsekuensi logis karena tidak mungkin kekeliruan terjadi dengan sendirinya. Ada pihak yang membuat kekeliruan itu terjadi. Mereka yang dianggap bertanggung jawab itu sudah didapatkan Pansus Bank Century. Keputusan itu akan dibawa ke Sidang Paripurna untuk mendapatkan pengesahan.

Marilah kita menunggu hasil akhirnya dari kerja politik DPR. Kita tentu berharap agar kebaikan yang kita dapatkan dan kita tidak masuk sebagai bangsa yang merugi.

Bookmark and Share



KOMENTAR [11]

  • handoyo, Jumat, 6-Maret-2010

    korupsi di indonesia sudah melampuhi batas maka diperlukan hukum yg luar biasa juga klo mau baik..berkumpulah pakar2 hukum yg masih punya nurani rumuskanlah produk hukum ,rumuskanlah hukuman mati bagi mereka2 yg melakukan korupsi karena mbahnya kejahatan adalah korupsi dampaknya luas yg terbunuh masal bisa ribuan orang pelan2 pasti dan tak terditeksi bangkitlah pakar hukum indonesia yg masih punya nurani...ada ndak yach...pasti ada.. bisa ndak yach...pasti bisa..

  • handoyo, Jumat, 6-Maret-2010

    korupsi diIndonesia sudah melampuhi batas maka diperlukan hukum yang luar biasa yaitu hukuman mati bagi yang melakukanya..karena kejahatan yang paling jahat adalah korupsi dampaknya luas korbanya masal bahkan negara bisa hancur karenanya..bagi orang2 pintar dan pakar2 hukum serta pemuka2 agama yang masih punya naruni coba berkumpul berdialog rumuskanlah hukuman mati bagi koruptor klo negara ini makmur mungkin rakyatnya nggak berfikir mau jadi teroris

  • TMR Gituuu Looh, Senin, 2-Maret-2010

    Staf ahli kepresidenan yang masih premateur...tidak mengetahui fungsi dan tugasnya yang didasari oleh SK Presiden yang seharusnya kinerja Staf Kepresidenan ini mengurusi bencana alam yang sesuai dengan tupoksinya.....alhasil salah penerapan yaitu membeberkan borok/aib orang lain yang esk.anggota DPR dari PKS....masalah ini semakin memperdalam jurang pemisah antar partai-partai yang menangani kasus century.......Apalagi Staf Kepresidenn ini menemui Amin rais...dalam kepentingan dan kapasistas apa staf kepresidenan melakukan lobi-lobi..yang seharusnya sejajar dengan kedudukan atau setaraf dengan amin rais agar tidak salah persepsi......Jika hal ini berlanjut terus....mau dibawa kemana negara ini berlabuh....apakah kelembah kemamuran atau kelembah kehancuran....Kepala negara hrus berhati-hati terhadap orang-orang pintar yang bermuka dua dan pandai menjilat.....yang sebenarnya bumerang bagi kepala negara itusendiri...steament yang bersifat menghasut dan memecah belah persatuan negara dan bangsa adalah merupakan bahaya yang disadari atau tidak disadari oleh Pemerintahan KIB Jilid II..........Akhir kata dan sebagai solusi adalah buka lebar-lebar dan beri kepercayaan pada rakyat dan dunia internasional...bahwa Negara Indonesia menjamin kepastian hukum dan singkirkan sataf kepresiden yang bermuka dua dan pandai menjilat....karena kemajuan bangsa dan negara Indonesia adalah merupakan hasil kerja yang nyata......bukannya berdaarkan variabel prosentase.....yang kamuflase........perhitungan ini hanya suatu perhitungan yang bersekala besar saja...akan tetapi yang pada realitanya.....sangat bertolak belakang/bertentangan.....

  • Lasno alhajjam, Sabtu, 7-Februari-2010

    Jangan kaitkan pesan agama /Islam dengan urusan politik, resikonya cuma dua; Kalau kita bisa menjaga KEHORMATAN PESAN AGAMA KESELAMATAN AKAN KITA DAPATKAN namun bila kita belum mampu, maka tanpa sadar kita merendahkan kehormatan pesan agama, bila salah kelola MAKA BALA BENCANA DARI LANGIT-BADAI, DARI BUMI-TANAH LONGSOR DAN GEMPA BUMI, DARI AIR- BANJIR , DARI API-KEBAKARAN . YANG LEBIH BERBAHAYA ; ALLAH CABUT DARI HATI KITA RASA KASIH-SAYANG sehingga dihati kita hanya ada PRASANGKA DAN IRI DENGKI YANG TAK ADA KASUDAHANNYA.

  • Gatot Marhaeni, Sabtu, 7-Februari-2010

    Jabatan itu amanah.... ini yg sering kita dengar, untuk meraih jabatan modalnya besar.... makanya kalu sudah Njabat lupa amanah yg terjadi SERAKAH (korupsi, menghisap keringat rakyat)

KIRIM KOMENTAR ANDA

Nama
Email
Komentar Anda
Kode Keamanan
 

© 2004 - 2012 MetroTVNews.com All rights reserved.
Comments & suggestions please email webmetro@metrotvnews.com
FANS INGIN BARCA REKRUT GARETH BALE DARI SPURS   *   USAI DIRAWAT AKIBAT PNEUMONIA, LEGENDA SEPAK BOLA PORTUGAL EUSEBIO DIIZINKAN PULANG   *   PRESIDEN OBAMA UCAPKAN SELAMAT TAHUN BARU PADA WARGA DUNIA   *   FERGIE KECEWA MU DIKALAHKAN BLACKBURN 2-3   *   INDONESIAN POLICE CONTINGENT IN SUDAN PRESENTED FINANCIAL ASSISTANCE TO REFUGEES IN THE DARFUR REGION   *   MICHAEL ESSIEN AKAN KEMBALI BELA CHELSEA MEDIO JANUARI 2012   *   KORBAN TEWAS AKIBAT BADAI THENE DI INDIA JADI 42 ORANG   *