- Kecelakaan yang Memilukan
- Piramida Dicari, Muaro Jambi Disia-siakan ..
- Bank Mutiara Diincar Investor
- Menjaga Kepercayaan Publik
- Partai Demokrat Terus Bergolak
- Mengembalikan Trotoar ke Fungsinya
- Beranikah PDIP Pelopori Politik Bersih
- Partai Demokrat Masih Bimbang
- Ketika Pilot Pakai Sabu
- Angelina Sondakh Jadi Tersangka
- Jangan Adu Pengusaha dan Buruh
- Pemerintah Hadapi Boikot AS
- Kegigihan Jaksa Dalam Kasus Rasminah
- Menguji Kewibawaan Pemerintah
- Pertarungan Menuju Puncak
Keluarga Itu Kehilangan Satu Bayi
Sabtu, 27 Februari 2010 21:40 WIB
Siapa yang tidak akan tersentuh melihat cobaan yang harus dihadapi Siti Zaenab. Ia harus berjuang di antara hidup dan mati untuk melahirkan tiga bayinya secara prematur. Namun keterbatasan biaya membuat ketiga anaknya tidak bisa terawat dengan baik. Rumah sakit tidak mau menerimanya sampai akhirnya satu anaknya harus meninggal secara sia-sia.
Ketika media massa mengangkat cobaan yang harus dihadapi Siti Zaenab, sama sekali bukan dimaksudkan untuk mengeksploitasi penderitaan. Media ingin mengangkat kepedulian dari kita semua akan penderitaan yang sedang dihadapi Siti Zaenab.
Berita yang diangkat media massa akhirnya membuat Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo terpanggil untuk menangani. Dua bayi yang masih hidup kini mendapatkan perawatan yang lebih memadai di RSCM.
Persoalannya, mengapa kepedulian itu baru muncul setelah seorang bayinya meninggal dunia? Mengapa ketika sudah diangkat oleh media massa baru ada tindakan untuk menyelamatkan bayi-bayi yang menderita?
Sengaja kita angkat persoalan ini untuk menunjukkan realita yang ada di sekitar kita. Apa yang dialami Siti Zaenab hanya satu di antara begitu banyak penderitaan yang dihadapi masyarakat kita.
Begitu banyak kemiskinan yang ada di sekitar kita. Kalau kita mengatakan itu sama sekali bukan dimaksudkan untuk menyudutkan pemerintah, tetapi mengajak semua pihak untuk memikirkan bagaimana cepat memecahkan persoalan ini.
Kedua, persoalan ini kita angkat untuk membuat kita mau mengasah kepedulian kita. Bayangkan di tempat yang tidak jauh dari Jakarta, kita bisa luput untuk bisa melihat kemiskinan yang begitu memprihatinkan. Lalu bagaimana dengan mereka yang tinggal jauh dari Jakarta.
Persoalan ketiga yang menarik untuk diperhatikan adalah masalah komunikasi. Kita tahu untuk meningkatkan kesehatan masyarakat pemerintah sudah membuat yang namanya Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Dengan program ini seharusnya tidak ada lagi masyarakat yang tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai.
Ternyata informasi itu tidak sampai kepada masyarakat. Kenyataannya orang seperti Siti Zaenab tidak tahu yang namanya Jamkesmas dan bagaimana caranya ia bisa mendapatkan program itu.
Lebih ironis lagi, ternyata program itu tidak diketahui oleh pihak rumah sakit. Paling tidak tiga rumah sakit di Tangerang tidak tahu bagaimana menangani keluarga yang tidak mampu, tetapi membutuhkan layanan kesehatan yang mendesak.
Terutama hal ketiga ini mendesak untuk diperbaiki. Mengapa? Karena pemerintah berulangkali menyebutkan adanya program perlindungan pemberian pelayanan kesehatan khususnya bagi kelompok masyarakat miskin.
Selama ini program itu begitu indah untuk diucapkan. Namun kenyataannya bukan hanya masyarakat yang tidak mengetahui, aparat kesehatan pun tidak tahu akan tanggung jawabnya untuk melayani masyarakat.
Realita sehari-hari menunjukkan bahwa banyak anggota masyarakat yang tidak tersentuh kesehatan. Banyak di antara mereka yang tidak tahu harus berbuat apa ketika anggota keluarganya sakit, karena mereka tidak memiliki apa-apa.
Fenomena pengobatan alternatif yang dilakukan seorang anak bernama Ponirin menunjukkan tingkat frustasi yang begitu tinggi dari masyarakat. Ketika mereka tidak berdaya, maka pilihan untuk sehat dicoba dilakukan dengan cara apa pun. Termasuk mengikuti apa yang diberikan seorang anak bernama Ponirin, karena masyarakat mengharapkan datangnya mukjizat.
Inilah pekerjaan rumah terbesar yang dihadapi Kementerian Kesehatan. Bagaimana kesehatan bisa menyentuh masyarakat terutama yang di bawah dan tidak memiliki kemampuan.
Kita menyadari bahwa kemampuan negara untuk melindungi kesehatan masyarakat sangatlah terbatas. Karena itu jawaban yang jauh lebih penting adalah bagaimana mencegah masyarakat untuk tidak sakit daripada harus mengobati mereka setelah jatuh sakit.
Pemberdayaan kembali Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) sebagai pusat pendidikan kesehatan masyarakat menjadi penting. Tugas kita untuk menjadikan Puskesmas sebagai pusat pencegahan (preventif) daripada tempat pengobatan (kuratif).
Semua itu tidak perlu lagi diwacanakan. Seperti halnya Jamkesmas merupakan program yang baik dari pemerintah untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Tetapi program itu jangan hanya dijadikan alat kampanye semata, tetapi menjadi program yang benar-benar bisa dirasakan masyarakat.
Kita harus bersepakat untuk tidak boleh peristiwa seperti yang dialami Siti Zaenab dan ketiga anaknya terulang kembali. Ini menuntut komitmen yang tinggi dari pemerintah, sebab kalau tidak, tidak ada yang bisa menjamin peristiwa yang menyedihkan itu tidak akan terjadi lagi.


Pemerintah pun, dalam hal ini Depkes yg punya otoritas di bidang kesehatan terkesan lempar batu sembunyi tangan, hanya menghimbau pihak rumah sakit utk menerima pasien miskin, perangkat aturan dan mekanismenya tidak jelas, ingat, keberadaan rumah sakit pun, terlebih swasta dalam prakteknya jelas mencari untung, tentu saja yg kasian adalah staf, diterima takut diberi sanksi pihak managemen, ditolak kalau kasusnya mencuat mereka yg disalahkan. Yg jelas kejadian seperti ini banyak menimpa RS lain di daerah, masih sangat beruntung pasien miskin di kota2 besar yg punya akses ke media, bagaimana di RS lain di kota-kota kecil? Apalagi kelak, kalau kebijakan antirokok diterapkan kpd pasien miskin, maka peluang mereka utk dibantu negara dalam berobat makin sulit, ADA ALASAN PEMBENAR bagi pihak RS utk menolak pasien miskin! Sekali lagi, Depkes JANGAN HANYA MENGHIMBAU, SEGERA BUAT PERANGKAT ATURAN YG TEGAS LENGKAP DGN SANKSINYA!!!
Yang jelas keluarga bu Siti Zaenah (maaf) termasuk belum sejahtera sebagaimana cita2 didirikannya negara. Juga apa yg disebut jamkesmas mungkin masih jauh dari cukup bila dibanding yg sdh punya kartu dgn yg belum, saya kawatir msh banyak keluarga yg sebenarnya dapat jamkesmas, tetapi krn blm tau atau enggan mengurus mereka tdk punya kartu tsb. Lagi pula saking banyaknya yg suka menipu kali ya? sehingga mereka hrs sangat2 administratif nya yg jadi prioritas, bukan kemanusiaannya, sampai orang tdk bisa bedakan mana yg perlu diutamakan, sulit memberi kepercayaan pada orang dsb.