- Kecelakaan yang Memilukan
- Piramida Dicari, Muaro Jambi Disia-siakan ..
- Bank Mutiara Diincar Investor
- Menjaga Kepercayaan Publik
- Partai Demokrat Terus Bergolak
- Mengembalikan Trotoar ke Fungsinya
- Beranikah PDIP Pelopori Politik Bersih
- Partai Demokrat Masih Bimbang
- Ketika Pilot Pakai Sabu
- Angelina Sondakh Jadi Tersangka
- Jangan Adu Pengusaha dan Buruh
- Pemerintah Hadapi Boikot AS
- Kegigihan Jaksa Dalam Kasus Rasminah
- Menguji Kewibawaan Pemerintah
- Pertarungan Menuju Puncak
Kali Ini Semua Tentang Jazz
Sabtu, 6 Maret 2010 20:00 WIB
Manusia tidak cukup hidup sekadar perutnya kenyang. Manusia membutuhkan juga kepuasan batin agar lengkap hidupnya. Itulah yang dikatakan pepatah latin bahwa manusia tidak cukup hanya membutuhkan roti, tetapi juga perlu komedi.
Atas dasar itu tidak perlu heran apabila di tengah ingar-bingar urusan Bank Century, di tengah semakin memanasnya konflik antara mahasiswa dan polisi di Sulawesi Selatan, masyarakat memberi perhatian juga pada perhelatan akbar Java Jazz di Pekan Raya Jakarta. Sekitar 9.000 penonton hadir langsung di PRJ pada hari pembukaan, Jumat kemarin.
Bukan hanya sekadar masyarakat biasa yang meluangkan waktu untuk menikmati hiburan yang bisa menghilangkan kepenatan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono dijadwalkan juga untuk ikut menonton langsung event tahunan tersebut.
Java Jazz tidak hanya menampilkan musisi jazz terbaik dalam negeri seperti Indra Lesmana, Maliq and D'essential, tetapi musisi jazz dan bukan jazz dunia seperti John Legend, Toni Braxton, The Manhattan Transfer, Bob James, dan Lee Riteenour. Hingga hari Minggu besok para musisi memberikan hiburan yang berkualitas kepada masyarakat.
Penyelenggaraan Java Jazz yang dibuat rutin setiap tahun memberikan manfaat yang besar kepada kita. Bukan hanya sekadar memberikan sebuah hiburan massal, tetapi pencitraan yang luar biasa baik kepada negeri ini. Kehadiran musisi besar dunia di Indonesia menunjukkan negeri ini merupakan negeri yang aman dan menyenangkan untuk dikunjungi.
Publikasi yang dilakukan memancing juga pengemar musik dunia untuk datang ke Jakarta. Ketika mereka menikmati suasana yang hangat, maka mereka akan datang kembali ke sini untuk berbagai kepentingannya.
Suksesnya penyelenggaraan perhelatan musik Java Jazz memberikan keyakinan kepada kita bahwa negeri ini telah maju dalam membangun demokrasinya. Meski belum sempurna dan kadang masih diwarnai dengan berbagai hal yang bertentangan dengan prinsip demokrasi, namun perkembangannya tergolong luar biasa.
Selama ini kita sering mendengar penilaian yang sinis terhadap apa yang terjadi di Dewan Perwakilan Rakyat. Kerja Panitia Khusus Bank Century misalnya, dianggap sebagai membuang-buang waktu dan energi. Seakan-akan apa yang dilakukan anggota DPR sebuah langkah politik yang hanya menimbulkan bencana kepada negeri ini.
Selama 32 tahun masa Orde Baru, kita dilarang untuk bersikap kritis. Parlemen hanya dijadikan tukang stempel untuk mengesahkan berbagai kebijakan pemerintah. Hasilnya adalah sebuah kemajuan yang semu. Di balik kemajuan yang bisa kita capai, banyak kebijakan yang menyimpan bom waktu karena semua orang menjadi "yes man".
Krisis keuangan yang menerpa negeri ini pada tahun 1998 merupakan buah dari kebijakan panjang yang sembrono. Paket Oktober 1988 membuat dunia perbankan menjadi tempat pengumpulan dana masyarakat yang lebih banyak dipergunakan untuk kepentingan para pemilik bank.
Ketika badai krisis keuangan melanda bertumbanganlah bank-bank itu. Untuk menyelamatkannya, diakhir-akhir masa kekuasaannya Pemerintahan Orde Baru mengucurkan bantuan likuiditas Bank Indonesia senilai Rp 144 triliun. Pemerintahan BJ Habibie yang kemudian melanjutkan pemerintahan Orde Baru, menyuntikkan lagi dana penyehatan sekitar Rp 460 triliun, sehingga secara keseluruhan bangsa ini harus menyuntikkan dana hingga Rp 600 triliun untuk menyelamatkan sistem perbankan.
Sebagai kompensasi atas suntikan dana yang diberikan pemerintah, para pemilik bank diharuskan menyerahkan aset mereka kepada Badan Penyehatan Perbankan Nasional. Bahkan kompromi yang sekarang dikritik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sungguh mencederai rasa keadilan masyarakat karena Pemerintah BJ Habibie memberikan release and discharge, pelepasan tuntutan hukum kepada para pemilik bank yang sudah menyerahkan aset mereka.
Kalau saja kita memiliki DPR yang kritis ketika itu, niscaya malapetaka ekonomi itu bisa kita hindarkan. Kalau DPR kritis, maka kita bisa meminta pertanggungjawaban kepada pejabat-pejabat yang dianggap bertindak sembrono sehingga mencederai rasa keadilan masyarakat.
Di era reformasi sekarang ini, kita harus memiliki parlemen yang kuat di samping pemerintah yang kuat. Kalau DPR sekarang harus kritis terhadap skandal Bank Century, karena kita tidak boleh lagi membiarkan adanya kesewenang-wenangan dalam pengambilan kebijakan publik karena akhirnya itu akan menjadi beban seluruh rakyat.
Kita tidak perlu khawatir bahwa kekritisan DPR itu akan mengganggu konsentrasi kita membangun negara ini. Itulah paradigma yang berpuluh-puluh tahun selalu dipakai Orde Baru untuk membungkam kekritisan DPR dan masyarakat kepada pemerintah. Memang stabilitas bisa diciptakan, namun dengan bom waktu kegagalan sistemik yang setiap kali bisa meledak.
Kita tidak perlu khawatir ingar-bingar di DPR akan menjadi sebuah kiamat bagi negeri ini. Kita sudah melihat kegiatan ekonomi yang berjalan seperti biasa. Indeks harga saham dan nilai tukar rupiah berfluktuasi secara tipis. Kita juga bisa tenang menikmati suguhan musik di Java Jazz.
Jadi tidaklah perlu kita melebih-lebihkan kegiatan yang terjadi di dunia politik. Semua itu hal yang normal dalam sistem demokrasi di mana pun. Yang penting kita semua sadar bahwa banyak kegiatan kemasyarakatan yang juga tidak kalah pentingnya.
Marilah kita lupakan dulu ingar-bingar yang terjadi di Gedung DPR. Sekarang kita nikmati duluh suguhan musik di Java Jazz.


Itu tho lagu-lagu ciptaan SBY yang dibawakan sama Titik Puspa dan Delon dalam acara cap Go Meh kemaren? lagu Apaaan tuh? sama sekali tidak enak didengar dan syair2nya gak karuan!!! udah laku berapa keping pak ? jualnya 'maksa' ya?? Sok nge jazz lagi..
Yang jelas artisnya memang ngejazz banget (astaqfirllahal'adhim). Yg jelas, belum tentu kasad mata. Yg jelas, perlu dijelasan pada yg belum tau. Yang belum jelas jgn memaksakan kemampuan terbatasnya untuk memperjelas.
Pak Suryo ingkang minulyo, setelah pidato Kep Negara terkait kasus BC rasanya pepatah Latin itu kurang pas diimplementasikan di negara kita. Pasalnya makin jelas lo bahwa disamping kebanyakan rakyat kita masih setengah lapar dan hidupnya paspasan,lantas yang muncul bukan samasekali komedi, tapi malah TRAGIKOMEDI... Kados pundi Bapak?