- Kecelakaan yang Memilukan
- Piramida Dicari, Muaro Jambi Disia-siakan ..
- Bank Mutiara Diincar Investor
- Menjaga Kepercayaan Publik
- Partai Demokrat Terus Bergolak
- Mengembalikan Trotoar ke Fungsinya
- Beranikah PDIP Pelopori Politik Bersih
- Partai Demokrat Masih Bimbang
- Ketika Pilot Pakai Sabu
- Angelina Sondakh Jadi Tersangka
- Jangan Adu Pengusaha dan Buruh
- Pemerintah Hadapi Boikot AS
- Kegigihan Jaksa Dalam Kasus Rasminah
- Menguji Kewibawaan Pemerintah
- Pertarungan Menuju Puncak
Teroris Masih Hidup
Selasa, 9 Maret 2010 20:49 WIB
DI TENGAH konsentrasi kita mengikuti pengepungan yang dilakukan Detasemen Khusus 88 terhadap kelompok teroris di Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam, sebuah penyergapan yang lain dilakukan tim antiteror di Pamulang, Jawa Barat. Tiga pelaku teror tewas dalam penggerebekan tersebut, sementara dua pelaku teror yang lain berhasil ditangkap.
Dua peristiwa yang terjadi di dua tempat yang berjauhan menunjukkan bahwa terorisme masih ada di sekitar kita. Aksi itu bisa mengguncang ketenteram kita apabila dibiarkan berkembang.
Apalagi jika benar bahwa salah satu yang tewas di Pamulang adalah Dulmatin. Ia adalah pelaku aksi teror Bom Bali 2002 yang menewaskan lebih dari 200 hari dan membuat benyak orang menderita hingga hari ini.
Dulmatin berhasil melarikan diri setelah terlibat dalam aksi bom bunuh diri yang sangat tidak berperikemanusiaan. Ia diburu oleh banyak negara karena aksi terornya, namun selalu bisa lolos dari sergapan.
Rupanya ia tidak pernah berhenti mengembangkan jaringannya. Sekali lagi kalau memang benar, ia sedang berusaha membangun kembali kekuatan untuk melanjutkan aksi terornya.
Kita pantas memberi apresiasi kembali kepada aparat kepolisian yang terus memburu para pelaku teror. Mereka tidak terlena atas keberhasilan untuk menumpas kelompok Noordin M. Top.
Terorisme merupakan gerakan yang tidak akan pernah akan berakhir sepanjang ketidakadilan masih ada di dunia ini. Apabila kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin tidak pernah bisa dikurangi. Ketika banyak orang dihadapkan kepada tidak adanya pilihan untuk menjadi manusia yang produktif.
Kemajuan pembangunan yang terjadi di dunia harus diakui tidak bisa dinikmati sama oleh semua orang. Lebih banyak orang justru tidak bisa mendapatkan apa-apa dan hanya bisa menjadi penonton.
Ketidakberdayaan semakin menjadi ketika tidak ada satu pun pihak yang mau peduli pada mereka. Tidak ada upaya untuk melakukan pembangunan sosial untuk lebih memberdayakan kelompok masyarakat yang termarjinalkan.
Termasuk di Tanah Air kita kondisi itu sedang kita hadapi.. Begitu banyak anggota masyarakat yang tertinggal dan tidak berdaya. Mereka tidak menjadi bagian dari kemajuan pembangunan yang bisa dicapai oleh bangsa ini.
Terus bermunculannya kelompok teror yang baru merupakan indikator paling nyata bahwa ada yang keliru dalam pembangunan sosial yang kita lakukan. Begitu mudahnya warga untuk diajak terlibat aksi teror disebabkan oleh rasa frustasi menghadapi kenyataan hidup.
Lepas dari pimpinan kelompok yang lebih ideologis, para pengikutnya umumnya hanya ikut-ikutan. Mereka memilih jalan itu karena merasa hidupnya tidak berarti. Mereka merasa menjadi berarti ketika menjadi martir.
Inilah tantangan terberat yang harus bisa kita jawab apabila kita ingin menuntaskan aksi terorisme. Bagaimana kita menyentuh kelompok-kelompok yang merasa termarjinalkan agar mereka tidak merasa ditinggal dan tetap bisa menjadi manusia yang berguna.
Untuk itu maka kita harus mengenal siapa sebenarnya bangsa kita ini? Seperti apa realita yang ada dan bagaimana kehidupan yang sebenarnya dari bangsa ini?
Setiap orang akan merasa menjadi manusia yang sesungguhnya apabila memiliki pekerjaan. Orang merasa tidak berguna ketika mereka menganggur. Pekerjaan apa pun sepanjang produktif akan memberikan kebanggaan tersendiri.
Secara ekonomi, hampir 99 persen masyarakat Indonesia terlibat dalam kegiatan ekonomi mikro. Sayangnya, tidak ada kebijakan yang sungguh-sungguh menyentuh mereka. Kalau pun ada maka kepentingan politik yang jauh lebih menonjol.
Akibatnya, upaya pembangunan sosial bukan ditujukan untuk mengangkat kualitas mereka, tetapi lebih cenderung memanjakan. Pendekatan populis dengan mengedepankan sikap kedermawanan, tidak melahirkan masyarakat yang tangguh, tetapi justru menjadikan masyarakat yang lembek.
Padahal kalau pemahamannya benar diikuti dengan komitmen dan kemauan yang kuat, pembangunan sosial bukanlah sesuatu yang mustahil. Banyak kelompok masyarakat yang mau dengan susah payah membangun masyarakat dan mereka berhasil melakukannya.
Social enterpreneur itulah yang sebetulnya dibutuhkan oleh bangsa ini. Social enterpreneur adalah pembangunan sosial yang ditopang oleh kewirausahaan yang kuat. Kegiatan usaha yang berhasil jangan hanya dipakai untuk memakmurkan diri sendiri, tetapi harus bisa memberdayakan masyarakat di sekitarnya.
Jiwa social enterpreneur harus juga dimiliki oleh para pejabat negara ini. Karena hanya dengan itulah maka para pejabat bukan hanya bisa melepaskan egosektoralnya, tetapi lebih peduli kepada kehidupan rakyat. Semua kebijakan publik yang dihasilkan sepenuhnya akan ditujukan untuk kemajuan bangsanya, bukan untuk kepentingan dirinya.
Berulangnya aksi terorisme harus menyadarkan kita bahwa penyelesaiannya tidak bisa hanya ditangani dengan cara penyergapan dan penangkapan semata. Harus ada langkah yang lebih fundamental yakni melakukan pembangunan sosial agar tidak ada warga yang merasa termarjinalkan dan tidak berguna.


jangan pernah berkata teroris harus di basmi,karena kita tahu mereka tidak akan mati / habis,tetapi marilah kita berfikir kenapa teroris itu ada,dan mengapa dia ada? bila saja yg lemah tidak diperbudak,atau yg kuat tidak memperlakukan yang lemah seenaknya,& pemimpin negara2 adikuasa berbuat adil,saya yakin tidak akan terjadi seperti sekarang ini.
Hebat POLRI dalam lawan terorisme. Kita dambakan polisi juga tegas tuntas menumpas KKN, pelecehan HAM dan segala social diseases yang ada. Jangan mau jadi "buaya" yang lawan "cicak". Kawallah demokrasi, tegakkan hukum. Apa yang dibilang pembangunan sudah 40 tahun hanya untungkan yang terkaya dan warga dan negara amburadul. RASKIN JUGA TIDAK TERJANGKAU. Enyahkan NEOLIBERALISME dari paradigma pembangunan kita dan kita akan sanggup bangun NKRI yang ayomi rakyatnta dan adil untuk semua warganya.
kerja tuh kayak Densus 88/ AT, nggak banyak ngomong, tau2 duwaaaaaaaaaaaaaaaar.....teroris terkapar ! Bravo Densus 88, teruslah membasmi terorisme, agar negeriku aman..
kerja tuh kayak Densus 88/ AT, nggak banyak ngomong, tau2 duwaaaaaaaaaaaaaaaar.....teroris terkapar ! Bravo Densus 88, teruslah membasmi terorisme, agar negeriku aman..
kenapa mesti ada mereka......n bagaimana nasib anak- ank mereka yang masih sangat membutuhkan pendidikan