- Kecelakaan yang Memilukan
- Piramida Dicari, Muaro Jambi Disia-siakan ..
- Bank Mutiara Diincar Investor
- Menjaga Kepercayaan Publik
- Partai Demokrat Terus Bergolak
- Mengembalikan Trotoar ke Fungsinya
- Beranikah PDIP Pelopori Politik Bersih
- Partai Demokrat Masih Bimbang
- Ketika Pilot Pakai Sabu
- Angelina Sondakh Jadi Tersangka
- Jangan Adu Pengusaha dan Buruh
- Pemerintah Hadapi Boikot AS
- Kegigihan Jaksa Dalam Kasus Rasminah
- Menguji Kewibawaan Pemerintah
- Pertarungan Menuju Puncak
Setelah Kunjungan SBY ke Australia
Kamis, 11 Maret 2010 19:10 WIB
Kita ikuti sambutan luar biasa yang diberikan Australia atas kunjungan kenegaraan yang dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Negeri Kanguru tersebut. Pidato Presiden di depan Parlemen Australia mengajak kedua negara membangun hubungan dengan perspektif yang baru.
Selama ini hubungan di antara kedua negara lebih didominasi oleh persepsi yang negatif. Bangsa Australia menganggap Indonesia negara yang menerapkan sistem otoritarian, pelanggar hak asasi manusia, dan kuat semangat ekspansionisnya. Sementara masyarakat Indonesia melihat Australia sebagai bangsa yang mencoba mengganggu persatuan Indonesia.
Setelah sikap Australia yang seakan menusuk dari belakang dalam kasus Timor Timur, kuat kecurigaan kita kepada negara tertangga di selatan ini. Kita menduga kuat bahwa Australia berada di belakang berbagai gerakan yang terjadi di Papua. Australia bukan sekadar mendukung secara politik, tetapi berperan langsung untuk menciptakan instabilitas di Papua melalui lembaga swadaya masyarakat negara itu yang bermain di Papua.
Kekayaan alam yang ada di Tanah Papua menjadi faktor utama ketertarikan Australia untuk menguasai daerah tersebut. Selama ini kita sudah melihat bagaimana Papua Nuigini "dijadikan" provinsinya Australia yang hanya dikeruk sumber daya alamnya, namun dibiarkan miskin rakyatnya.
Pemerintah Australia berulangkali menyangkal dugaan tersebut. Australia secara formal selalu menyatakan dukungannya terhadap keutuhan dan kedaulatan Indonesia. Namun semua penjelasan tersebut tidak bisa mengubah persepsi masyarakat Indonesia terhadap Australia.
Hal yang sebaliknya terjadi pada masyarakat Australia dalam melihat Indonesia. Meski sudah 12 tahun melakukan reformasi, banyak masyarakat Australia yang melihat Indonesia sebagai negara yang dipimpin diktator militer. Kejadian tahun 1975 ketika beberapa wartawan Australia menjadi korban Insiden Balibo menjadi pembenaran bahwa Indonesia adalah negara pelanggar HAM.
Tidak ada satu pun pemimpin Indonesia yang berkunjung ke sana yang tidak dipersoalkan sejarah pahit yang satu itu. Seakan insiden tersebut merupakan sebuah kesalahan yang harus ditanggung oleh seluruh rakyat Indonesia.
Tantangan para pemimpin baru untuk mengubah pandangan yang negatif tersebut. Untuk itu perlu dibangun sebuah kesadaran baru dalam hubungan di antara kedua negara. Bahwa kedua negara adalah tetangga yang saling membutuhkan.
sikap saling menghormati di antara kedua bangsa harus terus dibangun. Itu harus dimulai oleh sikap dari kedua pemerintahan untuk menghindarkan saling salah pengertian dan mendorong terus terbangunnya kerja sama yang saling menguntungkan.
Sejauh ini hubungan di antara masyarakat kedua bangsa berlangsung akrab. Meski ada pandangan yang negatif, tetapi itu hanya ada pada sekelompok kecil masyarakat saja. Kelompok yang lebih besar tidak melihat adanya persoalan yang terlalu berarti.
Indikator akan hal itu bisa dilihat dari jumlah kunjungan masyarakat di antara kedua bangsa. Begitu banyak warga Australia yang berkunjung ke Indonesia ketika mereka berlibur, sebaliknya banyak anak Indonesia yang memilih Australia sebagai tempat mereka menuntut ilmu.
Hal ini tentunya merupakan aset yang luar biasa untuk memperbaiki hubungan di antara kedua negara. Indonesia dan Australia bukan hanya bisa menjadi negara yang bisa hidup damai secara berdampingan, tetapi juga bisa mendorong kemajuan masyarakat.
Kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Australia bisa dijadikan momentum untuk membangun hubungan yang lebih baik. Sikap yang begitu bersahabat yang diperlihatkan anggota parlemen Australia, menunjukkan adanya perubahan sikap dari masyarakat negeri itu terhadap Indonesia.
Tidak ada lagi caci maki yang harus diterima pemimpin dan diplomat Indonesia ketika mereka berada di sana. Ketika Presiden berpidato di depan anggota parlemen, yang diterima bahkan tepuk tangan yang panjang.
Hubungan yang lebih akrab di antara kedua negara niscaya akan sangat menguntungkan bagi masyarakat Indonesia maupun Australia. Pengalaman pahit di masa lalu diharapkan menjadi pembelajaran untuk tidak lagi menusuk teman dari belakang. Sebab, itu sangat menyakitkan dan tidak mudah untuk bisa menghapuskannya.

