- Kecelakaan yang Memilukan
- Piramida Dicari, Muaro Jambi Disia-siakan ..
- Bank Mutiara Diincar Investor
- Menjaga Kepercayaan Publik
- Partai Demokrat Terus Bergolak
- Mengembalikan Trotoar ke Fungsinya
- Beranikah PDIP Pelopori Politik Bersih
- Partai Demokrat Masih Bimbang
- Ketika Pilot Pakai Sabu
- Angelina Sondakh Jadi Tersangka
- Jangan Adu Pengusaha dan Buruh
- Pemerintah Hadapi Boikot AS
- Kegigihan Jaksa Dalam Kasus Rasminah
- Menguji Kewibawaan Pemerintah
- Pertarungan Menuju Puncak
Perburuan Teroris Berlanjut
Jumat, 12 Maret 2010 19:17 WIB
Keberhasilan Detasemen Khusus 88 Polri untuk melumpuhkan teroris yang dicari-cari seluruh dunia, Dulmatin dan kawan-kawan tidak menyurutkan tim antiteror tersebut untuk memburu pelaku teror yang lain. Perburuan terus digencarkan di wilayah Aceh yang kini menjadi medan persembunyian yang baru.
Selama ini Aceh boleh dikatakan steril dari kelompok terorisme. Gerakan yang ada di wilayah tersebut tidak mau dicampuradukkan dengan gerakan global yang cenderung meneror dan mengorbankan warga sipil yang tidak tahu apa-apa.
Setelah berakhirnya masa pergolakan tampaknya Aceh dianggap sebagai wilayah yang aman bagi gerakan terorisme. Kelompok teroris paham akan adanya faktor psikologis dari aparat keamanan untuk tidak menggunakan pendekatan kekerasan demi menjaga suasana perdamaian.
Lokasi Aceh yang terbuka kepada jalur laut internasional dianggap sebagai sebuah keuntungan untuk menjamin pasokan senjata. Apalagi medan Aceh yang bukan hanya berbukit, tetapi masih banyak kawasan hutannya sehingga memudahkan menjadi tempat persembunyian.
Melihat kekuatan kelompok teroris yang ada sekarang, penggalangan kekuatan di Aceh telah lama dilakukan. Para pelaku teror menikmati euforia perdamaian yang terjadi di Aceh, sehingga mereka bebas membangun jaringan baik di dalam maupun di luar Indonesia.
Sekali lagi kita melihat adanya kebangkitan kesadaran bela negara dari masyarakat. Terungkapnya tempat persembunyian pelaku teror di Aceh berawal dari laporan masyarakat kepada aparat kepolisian.
Inilah hal positif yang harus terus kita bangun. Bahwa menciptakan keamanan dan ketertiban merupakan tanggung jawab kita bersama. Masyarakat memberi informasi, sementara aparat keamanan mengambil tindakannya.
Kalau kita menginginkan terbangunnya rasa aman, maka itu harus dilakukan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Demokrasi yang kita bangun mensyaratkan adanya partisipasi langsung dari masyarakat dalam menciptakan kehidupan bersama yang lebih baik.
Peran serta masyarakat menjadi semakin penting karena gerakan teror di Indonesia cukup mengakar. Itu bisa dilihat dari terus tumbuhnya kelompok-kelompok baru ketika kelompok yang satu sudah dilumpuhkan.
Kelompok yang ada di Aceh sekarang ini masih terus coba diidentifikasi oleh Densus 88. Kuat dugaan bahwa kelompok ini terkait dengan kelompok yang ada di Jawa, yang memang kemudian telah berkembang ke wilayah Sumatera seperti Lampung dan Palembang, serta sekarang ini Aceh.
Kita harus terus memburu dan melumpuhkan kelompok teroris karena mereka akhirnya menjadi musuh kita bersama. Ideologi yang mereka perjuangkan sudah tidak jelas lagi, karena akhirnya masyarakat Indonesia sendiri yang harus menjadi korban.
Kelompok itu memang selalu menyangkal bahwa mereka berperang melawan bangsa Indonesia sendiri. Namun faktanya, masyarakat Indonesia sendiri yang akhirnya paling menderita.
Dengan mudahnya para pelaku teror itu selalu menyatakan maaf dan mengatakan bahwa itu bagian dari pengorbanan ketika banyak masyarakat yang akhirnya menjadi korban.
Mereka sama sekali tidak mau peduli bahwa akibat tindakan mereka banyak orang harus menderita dan bahkan tidak sedikit perempuan harus menjadi janda, sementara anak-anak menjadi yatim.
Itulah yang membuat kita tidak bisa menolerir aksi teror. Kita bukan hanya harus mengecam, tetapi harus bertindak keras menghentikan tindakan yang sudah melanggar nilai-nilai kemanusiaan.
Kita merasa bersyukur bahwa setidaknya setelah serangan teror terakhir pada bulan Juli tahun lalu, muncul kesadaran dari masyarakat untuk tidak lagi diam melawan aksi teror. Terutama dengan dimotori kaum muda yang tergabung dalam Indonesia Unite, ada perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat.
Tentu kita berharap bahwa penyelesaian masalah ini tidak hanya dilakukan dengan menumpas para pelaku teror. Yang tidak kalah penting dilakukan adalah menuntaskan juga akar persoalannya yakni kemiskinan dan ketidakadilan.
Kedua masalah yang terakhir ini menjadi tugas dari pemerintah. Terutama menjadi tanggung jawab pemerintah untuk menggerakkan semua potensi yang dimiliki guna menjadikan seluruh masyarakat menjadi manusia-manusia yang produktif.
Tingginya tingkat pengangguran dan juga kemiskinan menjadi ladang subur berkembangnya pemikiran-pemikiran yang menyesatkan. Ketika hal itu bertemu dengan kelompok masyarakat yang sedang frustasi, maka sangat mudah muncul pikiran-pikiran pendek. Termasuk di antaranya dengan terlibat kelompok teror.
Perjuangan kita untuk melawan aksi teror memang masih panjang. Untuk itu dibutuhkan kesungguhan dan semangat pantang mundur untuk terus menghadapinya sambil memperbaiki terus perikehidupan masyarakat.


perburuan koruptor berlanjut....tapi siapa pemimpin perburuan koruptor, ya??
terroristen in Indonesiƫ bestaat sinds de Nieuwe Orde tijdperk, omdat het proces van verhuur van de regering van Indonesiƫ, wat resulteerde in het terroristische netwerk blijft groeien en uiteindelijk moeilijk te worden uitgeroeid om een beweging of een ondergronds netwerk is zeer groot. Terroristische netwerken moeten keakarnya omdat dibrantas tot zeer verontrustende vrede en veiligheid in het leven van de Indonesische samenleving en de mensheid ... terroristische netwerken hebben beperkte ruimte, zodat de beweging niet vrij kan ontwikkelen in dit geliefde land.
terima kasih kpd densus 88 yg tlh meng obrak abrik tempat persmbunyian/latihan di aceh
KORUPTOR JUGA YA ( The Real Teroris ) . ................ ........ TEMBAK DITEMPAT.
tolong di basmi terus dan ungkap sampai ke akar-akarnya