UN dan Keberhasilan Pendidikan

Minggu, 21 Maret 2010 20:18 WIB

Meski Mahkamah Agung (MA) melarang pemerintah melaksanakan Ujian Nasional (UN), mulai hari Senin murid-murid Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas menjalani UN. Sikap pemerintah untuk tetap jalan dengan UN sungguh merupakan sebuah preseden buruk akan penghormatan kita terhadap sistem hukum dan pembangunan demokrasi yang menempatkan hukum pada posisi tertinggi.

Padahal MA secara tegas menolak kasasi gugatan UN yang diajukan pemerintah. Dengan putusan ini, UN dinilai cacat hukum dan pemerintah dilarang menyelenggarakan UN. Batas waktu pelarangan UN ini berlaku sejak keputusan  dikeluarkan pada tanggal 25 November 2009 dan sebagai konsekuensinya pemerintah ilegal melaksanakan UN 2010.

Pemerintah baru diperbolehkan melaksanakan UN setelah berhasil meningkatkan kualitas guru, meningkatkan sarana dan prasarana sekolah serta akses informasi yang lengkap merata di seluruh daerah. Pemerintah akan menghadapi persoalan berat apabila ada pihak yang menggugat kembali pemerintah karena dianggap melanggar sebuah keputusan hukum yang berkekuatan hukum tetap.

Kita memahami bahwa kita harus meningkatkan kualitas pendidikan bangsa ini untuk bisa menjadi pemenang di era globalisasi. Kita setuju bahwa untuk menjadi bangsa yang unggul dibutuhkan disiplin dan kerja keras. Namun semua itu harus dicapai melalui pembangunan kesadaran membangun manusia unggul, bukan dengan cara menakut-nakuti.

Pendidikan pada kita sekarang ini bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Pendidikan lebih menjadi sebuah beban, baik beban dalam pembiayaannya maupun menjalani proses belajarnya.

Dengan adanya UN, beban itu bahkan bukan hanya dirasakan oleh anak didik, tetapi juga orangtua dan guru. Kita bisa bayangkan, kualitas manusia Indonesia seperti apa yang kita akan dapatkan, apabila itu dihasilkan melalui proses yang penuh dengan ketakutan.

Padahal manusia yang unggul tidak hanya diukur dari kompetensi yang berkaitan dengan pendidikannya, tetapi juga ditentukan oleh karakter dan koneksi atau jaringan yang bisa dibangunnya. Manusia yang unggul akan tercermin dari kreativitas dan inovasi yang bisa dihasilkan. Semua itu akan bisa didapatkan apabila ada kegembiraan dan keriangan dalam mengerjakannya.

Kita kini kehilangan yang yang namanya kreativitas dan inovasi itu. Semua itu disebabkan karena semua dibuat serba kaku. Ukuran yang digunakan hanya gagal dan berhasil. Akibatnya semua hanya berupaya untuk tidak dikatakan gagal. Dan pendidikan telah berubah menjadi momok yang menakutkan.

Lihatlah bagaimana anak-anak didik di Majene, Sulawesi Selatan bersiap menghadapi UN. Mereka melakukan dzikir sambil berurai air mata karena takut tidak lulus dalam menjalani UN esok hari.

Para pejabat pendidikan kita akan dengan mudah mengatakan, biar saja dibuat takut agar mereka giat belajar dalam mempersiapkan diri. Bahkan sering kita dengar ucapan pejabat yang mengatakan, ketakutan hanya milik mereka yang malas dan tidak mau belajar. Biarkan anak didik merasakan sulitnya meraih keberhasilan, karena dalam kehidupannya kelak semua tidak pernah akan ada yang mudah untuk bisa diraih.

Akan tetapi apakah kita sadar bahwa dengan tingkat belajar dan mengajar yang tidak standar tidaklah mungkin kita menyamakan ukuran keberhasilan? Anak-anak di Majene pantas untuk takut ketika dituntut untuk bisa sama dengan anak-anak di Jakarta yang mendapat banyak keuntungan dalam menjalani proses belajar?

Tidakkah kita sadari bahwa pemaksaan yang kita lakukan hanya akan menghasilkan sesuatu yang semu? Proses belajar dan mengajar hanya sekadar mengacu kepada standar kelulusan yang kita inginkan, namun tidak pernah akan mampu memperluas daya nalar anak didik.

Kita harus kembali ke dasar pendidikan. Bahwa bakat setiap anak tidaklah sama. Ada yang berbakat menjadi seniman, ada yang berbakat menjadi atlet, ada yang berbakat menjadi peneliti, ada yang berbakat menjadi pengusaha, ada yang berbakat menjadi politisi atau diplomat.

Bangsa ini membutuhkan semua bakat-bakat itu. Tugas kita adalah mengasah bakat-bakat itu agar muncul menjadi sesuatu yang unggul. Mereka menjadi pribadi-pribadi yang utuh dan mampu mengangkat nama baik bangsa dan negara. Semua bakat itu tidaklah bisa diperlakukan sama untuk bisa berkembang.

Keberhasilan kita untuk melahirkan bangsa yang unggul tidak ditentukan oleh pendidikan tinggi. Justru pendidikan mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas yang lebih menentukan, bangsa seperti apa yang akan kita hasilkan kelak.

Oleh karena itu, kembalikanlah pendidikan menjadi sesuatu yang menyenangkan, bukan sesuatu yang menakutkan. Kita akan lebih banyak memetik manfaatnya apabila pendidikan bisa menghasilkan keberagaman, bukan penyeragaman.

Bookmark and Share



KOMENTAR [8]

  • John Barutu, Senin, 2-Maret-2010

    UN = pembodohonan generasi per generasi, karena siswa tidak pernah ujian, yg ujian adalah kepala daerah, kepala dinas, guru, karena takut daerahnya jeblok pendidikannya maka ada upaya lain agar UN seolah-olah sukses di daerahnya. Ini terbukti dari beberapa kali hasil uji UN di sekolah, yang memenuhi standar tidak lebih dari 25 % , tapi anehnya setelah UN sesungguhnya lulus 100 %. Pemerintah memaksakan aturan tapi mengabaikan proses, sangat fatal.

  • sapoor, Senin, 2-Maret-2010

    ya negera kita emang unggul.unggul dalam membuat rekayasa spy org takut.takut ga lulus,takut ga ngetop.mendiknas kan ga ngetop.kalah ngetop kan dgn ruhut sitompul yg unggul dlm berbahasa kasar.makanya keputusan MA ga dianggap.anak Indonesia takut ga lulus!bukan takut ga pintar.yg pintar aja bisa ga lulus koq!lho?negara apa ini.tamat kuliah jg bukan bisa dipake ilmunya.belajar lagi koq.belajar rekayasa.makanya buat apa kuliah?sarjana jg blum tentu dpt kerja.usul saya nih,biar ada kerjanya kemendiknas,itung...kuota calon mahasiswa disesuaikan dgn jumlah lowongan pekerjaan di tahun selesainya.jd ga percuma kuliah capek2,ortu pun banting tulang cari biaya kuliah.eh....anaknya jd sarjana ojek!!!!!

  • zulsafni, Senin, 2-Maret-2010

    Sudah jadi rahasia umum kalau UN ini adalah proyek diknas yang sangat menjanjikan mulai dari pusat sampai daerah akan kejipratan rezeki, makanya pemerintah memaksakan diri melaksanakan UN meskipun melanggar Putusan MA yang artinya melanggar Hukum. Kalau pemerintah yang bersalah siapa yang berani menghukum. apalagi SBY pernah mengeluarkan stetmen bahwa kebijakan tidak dapat dipidanakan. Ha...ha...ha,..... inilah negeri sibedebah............... yang lagi menunggu murka Allah... semoga amin

  • uli, Senin, 2-Maret-2010

    Nilai akhir kelulusan seyogyanya adalah ramuan nilai yang dihasilkan baik dari evaluasi oleh sekolah + evaluasi oleh eksternal termasuk pemerintah melalui UN, dengan proporsi tertentu sehingga tercermin bahwa nilai akhir itu adalah ramuan berbagai kemampuan yang dimiliki siswa paling tidak mendekati sejatinya. Lulus atau tidaknya jangan ditentukan oleh mata pelajaran tertentu yang masing-masing siswa memiliki perbedaan bakat dan minat serasa terabaikan. Toh belum tentu anak yang pinter matematika, bahasa inggris dan bahasa indonesia lebih baik dari anak yang pinter musik, olah raga, ipa, ips. Lihatlah individu itu sebagai mahluk yang tidak sama, rangsanglah dengan evaluasi yang menumbuhkan kreativitas, bukan yang hanya mengedepankan kognitif semata dan belajar untuk ujian, malah bukan memajukan tetapi terlihat mundur

  • Justice, Senin, 2-Maret-2010

    Di satu sisi UN siy bole2 aja, tapi tentu diperbaiki dulu sarana n prasarana penunjang, kualitas dan kesejahteraan guru, kualitas buku pelajaran, termasuk kualitas muridnya sendiri. Jadi pelaksanaan UN bisa maksimal serta tdk mengundang protes dari masyarakat. Di sisi lain, orang tua mengemban peran penting dalam keberhasilan putra - putrinya untuk lulus UN. Pemerintah melalui Depdiknas harus memperbanyak komunikasi dengan para orang tua murid agar mereka dapat pengetahuan yang lebih guna membimbing putra - putrinya. Dengan kerjasama yang sinergi, niscaya UN bisa berhasil.

KIRIM KOMENTAR ANDA

Nama
Email
Komentar Anda
Kode Keamanan
 

© 2004 - 2012 MetroTVNews.com All rights reserved.
Comments & suggestions please email webmetro@metrotvnews.com
FANS INGIN BARCA REKRUT GARETH BALE DARI SPURS   *   USAI DIRAWAT AKIBAT PNEUMONIA, LEGENDA SEPAK BOLA PORTUGAL EUSEBIO DIIZINKAN PULANG   *   PRESIDEN OBAMA UCAPKAN SELAMAT TAHUN BARU PADA WARGA DUNIA   *   FERGIE KECEWA MU DIKALAHKAN BLACKBURN 2-3   *   INDONESIAN POLICE CONTINGENT IN SUDAN PRESENTED FINANCIAL ASSISTANCE TO REFUGEES IN THE DARFUR REGION   *   MICHAEL ESSIEN AKAN KEMBALI BELA CHELSEA MEDIO JANUARI 2012   *   KORBAN TEWAS AKIBAT BADAI THENE DI INDIA JADI 42 ORANG   *