- Kecelakaan yang Memilukan
- Piramida Dicari, Muaro Jambi Disia-siakan ..
- Bank Mutiara Diincar Investor
- Menjaga Kepercayaan Publik
- Partai Demokrat Terus Bergolak
- Mengembalikan Trotoar ke Fungsinya
- Beranikah PDIP Pelopori Politik Bersih
- Partai Demokrat Masih Bimbang
- Ketika Pilot Pakai Sabu
- Angelina Sondakh Jadi Tersangka
- Jangan Adu Pengusaha dan Buruh
- Pemerintah Hadapi Boikot AS
- Kegigihan Jaksa Dalam Kasus Rasminah
- Menguji Kewibawaan Pemerintah
- Pertarungan Menuju Puncak
Presiden Pantas Prihatinkan Insiden Buol
Jumat, 3 September 2010 15:48 WIB
DALAM Sidang Kabinet kemarin, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegur secara keras gubernur, bupati, polisi, dan juga TNI menyusul terjadinya bentrokan antara warga dengan aparat kepolisian di Buol, Sulawesi Tengah. Sedikitnya tujuh orang tewas dalam peristiwa penyerbuan masyarakat terhadap Markas Kepolisian Sektor Biau, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah..
Penyerbuan itu sendiri dipicu oleh meninggalnya seorang tahanan di Kantor Polisi Sektor Biau hari Senin lalu. Kasmir Timumum, nama tahanan itu meninggal di dalam sel Polsek Biau di Buol. Polisi mengabarkan bahwa Kasmir meninggal dunia akibat gantung diri di tahanan. Kepala Polres Buol dan Kepala Polda Sulteng hingga Rabu lalu juga bersikeras menyatakan bahwa Kasmir tewas akibat gantung diri. Namun, hasil visum RSUD Buol, seperti dijelaskan dr I Made Darmawan, menunjukkan bahwa kematian Kasmir akibat patah tulang leher dan saluran pernapasan yang terjepit. Tak ada tanda-tanda Kasmir melakukan bunuh diri.
Kasmir ditahan di Polsek Biau menyusul kecelakaan lalu lintas yang
menyebabkan anggota Polsek Biau, Briptu Ridwan, harus dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara, Palu, hari, Sabtu malam lalu. Kasmir diduga menabrak Ridwan yang tengah bertugas menertibkan aksi balapan liar sepeda motor malam itu, sehingga menyebabkan petugas polisi mengalami patah tulang. Dua hari di dalam tahanan, Kasmir kemudian dilaporkan meninggal karena bunuh diri.
Komisi Nasional Hak asasi Manusia menduga kuat insiden berdarah yang terjadi di Buol sebagai pelanggaran HAM serius. Bukan hanya kematian Kasmir yang dikategorikan sebagai pelanggaran HAM, tetapi juga bentrokan antara aparat dengan warga yang menyebabkan tujuh orang tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Presiden pantas menyayangkan terjadinya insiden berdarah itu. Presiden seharusnya menegur aparat di lapangan,yang sepertinya tidak cukup tanggap melihat keadaan, sehingga terlambat untuk bertindak. Termasuk aparat TNI yang dinilai tidak ikut membantu menenangkan keadaan sehingga membuat bentrokan berdarah semakin membesar dan keadaan di Biau menjadi begitu mencekam.
Tugas pertama yang harus dilakukan sekarang ini adalah segera mengembalikan keamanan dan ketertiban di daerah itu. Kesalahpahaman yang terjadi antara aparat polisi dan masyarakat harus diakhiri. Caranya tidak bisa lain kecuali dengan memertemukan semua komponen masyarakat dengan aparat dan selanjutnya dilakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab sebenarnya dari meninggalnya Kasmir di dalam tahanan.
Penyelidikan harus dilakukan secara kredibel dan tidak boleh ada rekayasa. Apa pun yang terjadi harus diterima sebagai sebuah fakta dan kepada yang bersalah harus dimintai pertanggungjawaban hukum. Bahkan kita tidak boleh ragu untuk menjatuhkan hukuman yang berat, karena itulah satu-satunya cara mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada aparat.
Presiden tidak berlebihan bila mengatakan bahwa potensi konflik masih berada di sana. Ketenangan yang tercipta sekarang ini hanyalah ketenangan semu. Ibarat api di dalam sekam, potensi keributan akan dengan mudah kembali meledak di daerah itu, ketika kekecewaan dan ketidakpercayaan masyarakat tidak bisa terjawab.
Persoalan ini tidak bisa dibiarkan berlama-lama. Wakil Kepala Kepolisian RI Komisaris Jenderal Jusuf Manggarabani yang ditunjuk Kapolri untuk menyelesaikan insiden di Buol, harus bergerak cepat untuk menangani persoalan. Walaupun akan memberikan preseden yang kurang baik, namun jika memang diperlukan untuk mengembalikan keadaan, Polri tidak perlu ragu untuk merotasi aparatnya.
Tugas selanjutnya yang perlu dilakukan adalah mengembalikan polisi sebagai polisi masyarakat. Polisi harus mengubah sikap dan perilaku agar menjadi pengayom masyarakat, yang memang memberikan pelayanan dan perlindungan kepada masyarakatnya. Bukan petugas yang bisa berbuat sewenang-wenang kepada rakyatnya.
Apa yang terjadi di Buol sekarang ini membuat polisi dianggap musuh oleh masyarakat. Bahkan bukan hanya petugas polisi yang dianggap sebagai musuh, tetapi juga keluarganya. Warga yang sudah terlanjur terbakar emosinya merusak dan bahkan membakar rumah-rumah yang diketahui sebagai rumah petugas polisi.
Keadaan ini sungguh tidak kita inginkan. Kemarahan masyarakat sudah menjadi kemarahan kepada semua aparat polisi. Padahal--kalau pun ada--, tidak semua polisi pantas untuk dimusuhi. Banyak sekali polisi yang selama ini menjalankan tugasnya dengan baik dan mereka benar-benar menjadi sosok polisi masyarakat.
Sosok polisi sebagai polisi masyarakat bukan tidak pernah kita kenal. Pada zamannya, polisi menyadari bahwa pada dirinya bukan sekadar hanya seorang petugas polisi, tetapi juga panutan masyarakat. SIkapnya yang mudah untuk mengulurkan tangan membantu masyarakat dan tidak silau oleh yang namanya harta, membuat sosok polisi begitu dihormati dan dicintai oleh masyarakat.
Polisi pada zaman dulu benar-benar menjadi sandaran masyarakat. Mereka menjadi sosok yang disegani karena bisa menjadi pihak yang mampu menyelesaikan segala macam persoalan. Dengan hukum yang melekat pada diri setiap anggota polisi, mereka menyadari betul peran dan kedudukannya untuk tidak berbuat sewenang-wenang.
Berbagai cibiran yang diberikan kepada polisi sekarang ini, termasuk dengan apa yang terjadi di Buol, sepantasnya membuat pimpinan Polri untuk melakukan introspeksi. Melihat kembali ke dalam, apa yang salah dengan polisi sekarang ini, sehingga mereka tidak lagi dianggap sebagainya polisinya masyarakat, tetapi justru menjadi musuh masyarakat.
Dengan apa yang pernah dicapai polisi di masa lalu, bukan sesuatu yang mustahil untuk melahirkan kembali sosok polisi sebagai polisinya masyarakat. Di tengah kepahitan yang harus kita terima dengan apa yang terjadi di Buol, pelajaran terpenting yang bisa kita petik adalah saatnya bagi Polri untuk menata kembali sosok mereka agar menjadi petugas polisi yang kembali dihormati dan dicintai oleh rakyatnya.


Tambah kuat stigma bahwa Hansip itu arogan, sering memeras rakyat, sering menyalahgunakan wewenang, Apalagi Hansip Lalulintas duhhh jangan disebut lagi deh.....terlalu hancur citranya sampai2 saya ragu apakah masih bisa diperbaiki lagi atau tidak..
polisi dimana mana arogan apalagi yang baru lulus sekarang sudah banyak yang tidak suka polisi kalau tidak mau dibilang dibenci mereka di gaji besar bahkan diprioritaskan mendapat gaji dan pangkatpun lebih tinggi dari TNI bubarkan polisi ganti satpam kita tidak butuh preman berseragam!!!!!!! polisi punya rekening gendut seperti gendutnya perut2 polisi karena uang rakyat yang di ambil dengan tidak halal!!!!!!
Saya berharap kasus yang terjadi di kab. Buol bisa cepat terselesaikan asalkan kapolri mau dan mampu untuk bertindak adil, dari uraian kasus yang terjadi kemungkinan besar sekali terjadi penganiayaan oleh polisi yang menyebabkan seorangan tahanan meninggal. Jadi kalau mau kasusnya cepat selesai dan kepercayaan masyarakat mulai tumbuh lagi jadi harus diusut tuntas dan kepada anggota polisi yang terbukti bersalah harus ditindak dengan dipecat dan hukuman pidana sesuai UU yang berlaku, jangan ada lagi dusta diantara polisi......
Mungkin Pak SBY harus belajar dari Bpk. Mahmoud Ahmadinejad, bagaimana menjadi presiden sekaligus pembela kehormatan bangsa.
POLISI & TENTARA di GAJI oleh Rakyat... di DIDIK dari UANG Rakyat hasilnya untuk MEMBUNUH Rakyat (Tragedi Tanjung Priuk,Tragedi Semanggi,dll) di GAJI & di DIDIK tiap waktu...pas waktu untuk berPERANG semua bilang cukup DIPLOMASI...PANGLIMA APAAN TUH... Mudah2 Azab segera tiba bagi penguasa yang dzolim...amien