- Kecelakaan yang Memilukan
- Piramida Dicari, Muaro Jambi Disia-siakan ..
- Bank Mutiara Diincar Investor
- Menjaga Kepercayaan Publik
- Partai Demokrat Terus Bergolak
- Mengembalikan Trotoar ke Fungsinya
- Beranikah PDIP Pelopori Politik Bersih
- Partai Demokrat Masih Bimbang
- Ketika Pilot Pakai Sabu
- Angelina Sondakh Jadi Tersangka
- Jangan Adu Pengusaha dan Buruh
- Pemerintah Hadapi Boikot AS
- Kegigihan Jaksa Dalam Kasus Rasminah
- Menguji Kewibawaan Pemerintah
- Pertarungan Menuju Puncak
Mudik Masih Jadi Masalah
Minggu, 5 September 2010 16:02 WIB
SEKITAR 2,3 juta warga Jakarta diperkirakan akan meninggalkan ibu kota untuk merayakan lebaran di daerahnya masing-masing. Arus mudik lebaran mulai menunjukkan intensitasnya sejak hari Sabtu kemarin.
Banyaknya warga yang ingin berlebaran di daerahnya masing-masing, sudah diantisipasi oleh pemerintah. Untuk itulah pihak penyelenggara angkutan lebaran mencoba memersiapkan sebuah sistem yang memungkinkan angkutan bisa berjalan lebih baik.
Seluruh prasarana yang dibutuhkan baik jalan maupun alat transportasinya dicoba diperbaiki. Harapannya, ketika puncak arus mudik lebaran terjadi, semuanya sudah lebih baik sehingga perjalanan para pemudik bisa lebih lancar.
Meski sudah diupayakan lebih baik sejak jauh-jauh hari, kita melihat pada harinya semua belum bisa berjalan dengan mulus. Jalan-jalan yang diperbaiki untuk memerlancarkan arus perjalanan, masih ada ruas-ruas yang belum selesai, sehingga akhir justru mengganggu arus perjalanan mudik itu sendiri.
Untuk penanganan arus mudik kelompok masyarakat bawah, pihak pengelola Stasiun Kereta Api Senen misalnya, sudah mencoba agar masyarakat tidak perlu berdesak-desakan masuk ke dalam gerbong. Hanya penumpang yang jadwal keretanya sudah tiba, yang diizinkan masuk ke dalam peron. Mereka yang belum masuk jadwal keberangkatan diminta berada di depan stasiun.
Untuk membuat para calon penumpang mau patuh pada aturan, pihak Stasiun Senen membangun tenda besar di depan stasiun. Musik penghibur juga disediakan agar para penumpang tidak bosan untuk menunggu.
Aturan yang baik ini ternyata tidak bisa dijalankan seperti rencana. Masyarakat tidak peduli dengan aturan dan semua tumpah ruah di peron. Ketika kereta api tiba, para calon penumpang berebut masuk ke dalam gerbong seperti biasanya.
Pertanyaannya, mengapa kita tidak mampu untuk bisa menyelenggarakan angkutan lebaran yang lebih tertib? Kita tidak perlu berebut masuk ke dalam bus, kereta ataupun angkutan laut. Mengapa kita tidak bisa lebih tertib seperti ketika menggunakan angkutan udara misalnya?
Salah satu yang membuat orang menjadi tidak sabar adalah tidak adanya kepastian. Ketika orang tidak yakin bahwa dirinya bisa terangkut untuk bisa mudik dan juga tidak jelas kapan angkutan mudik itu akan datang, maka orang pasti akan berupaya untuk mendapatkan kesempatan yang pertama. Tidak peduli bagaimana caranya, maka setiap orang berupaya untuk bisa mudik pada kesempatan pertama.
Ketidakpastian bukan hanya menjadi pemahaman umum para calon penumpang, tetapi pihak penyelenggara angkutan lebaran pun--kecuali penerbangan--tidak pernah bisa memberi jaminan kepada calon penumpang untuk mendapatkan tiket. Begitu loket dibuka hanya beberapa saat tiket dikatakan sudah habis. Ketika ditanyakan kapan angkutan kemudian akan ada, seringkali pihak penyelenggara pun tidak bisa memberi kepastian.
Ketika kita tahu akan ada sekitar 2,3 juta warga yang akan mudik, seharusnya kita sudah bisa menghitung berapa banyak moda angkutan yang harus disediakan untuk membawa mereka semua bisa pulang kampung. Selanjutnya kita harus bisa memberikan informasi yang jelas tentang bagaimana 2,3 juta warga itu akan terangkut.
Kalau saja ada jaminan bahwa 2,3 juta calon penumpang pasti akan bisa mudik tepat pada waktunya, pasti masyarakat tidak khawatir. Ketika semua orang dipastikan akan bisa mudik, maka mereka pasti tidak akan terburu-buru dan bisa untuk diminta sabar.
Apabila kita menginginkan penataan sistem angkutan umum yang lebih baik, kuncinya adalah bagaimana kita bisa memberikan kepastian. Kepastian bukan hanya jumlah angkutannya, tetapi jadwal yang bisa diprediksi oleh para calon pemudik.
Tradisi mudik pada saat lebaran bukan hanya menjadi tradisi kita, bangsa Indonesia. Dengan konteks budayanya mereka sendiri-sendiri, bangsa Amerika mengenal juga mudik pada perayaan Thanksgiving Day. Bangsa China mudik meninggalkan kota-kota besar saat perayaan Imlek.
Pada hari-hari seperti itu, jutaan warga di sana juga pulang kampung. Karena orang mudik pada saat yang hampir bersamaan, pasti dibutuhkan sistem transportasi yang memungkinkan semua orang untuk bisa berkumpul dengan sanak keluarga tepat pada waktunya.
Pengalaman negara-negara lain, sistem transportasi bisa dikelola secara baik. Meski ada jutaan orang yang membutuhkan jasa transportasi umum, semua bisa terangkut tanpa harus berdesak-desakan. Mengapa? Karena semua orang merasa yakin akan terangkut dan jadwal yang ada bisa menjamin semua orang mendapatkan tempat untuk bisa menggunakan angkutan umum.
Kita belum pernah bisa memberikan kepastian itu. Meski peristiwanya sudah terjadi rutin setiap tahun dan bahkan jadwal kapan mudiknya sudah bisa diperkirakan setahun di depan, namun kita tidak juga sanggup untuk menatanya dengan lebih baik. Akibatnya, tidak usah heran apabila setiap tahun kita melihat gambaran yang sama, orang berebut masuk ke dalam moda angkutan umum.
Beruntung bangsa ini adalah bangsa yang tidak banyak mengeluh. Apalagi jika itu dalam konteks lebaran. Meski harus melewati perjuangan yang berat, semua orang tetap menikmatinya. Semua kelelahan seakan sirna dan terlupakan begitu sudah sampai ke kampung halaman untuk merayakan lebaran.
Mudah-mudahan lebaran kali ini tidak diwarnai oleh tragedi yang menyesakkan hati. Kita berharap seluruh warga bisa pulang ke kampung halamannya dengan selamat.


Apasih yang tidak menjadi masalah dinegri ini. Selagi pejabat yang bermasalah tidak mau disebut salah, maka semuanya akan Salah. Salah ya benar, benar ya salah. ahk jadi bingung saya dengan kata2 sendiri.
Secara umum sependapat, bahwa mgkn kita (yg berkompeten menangani?) masih salah menghitung matematika 2,3 jutanya tsb dikurangi berapa sisa berapa dibagi berapa lalu perlu jenis transportasi apa dan masing2 perlu membawa berapa dan lewat jln mana agar terangkut semua/ tdk terjadi desak2an/ kemacetan/kecelakaan dan akibat negatif lainnya dari kegiatan rutin tahunan itu. Saya komentari lebih jauh mengapa ada "mudik" dan "kemacetan Jakarta" ? Jika dibahas panjang dan njlimet. Kata kunci jawabnya "kurang meratanya" kegiatan ekonomi Negara dalam wilayahnya. 15 - 20 th lalu mungkin baru "mudik" yg jadi pokok bahasan, sekarang Jakarta "macet" sdh sehari2, terutama jam berangkat-pulang kerja, nanti 5 th lagi di Jkt mungkin "stop", kegiatan harus jalan kaki saja, sdh tdk bisa keluar rumah mobil bahkan motor? Karena urban jalan terus, yg sdh 5-10 th menetap di Jkt dsktrnya shg macet total. Lalu bgmn? Kita setuju rencana Pemerintah/Presiden beberapa hari lalu, tetapi saya usul jauh lebih luas dan menyeluruh secara Nasional jika dibuat judul mgkn kira2 begini; " Mengatur kembali Tata ruang Nasional Negara Republik Indonesia, Ibu kota, dan semua kegiatan adm Negara, demi efesiensi dan bersih tegaknya pemerintahan, ketahanan dan keamanan Negara, titik2 kegiatan pusat industri & ekonomi regional dan nasional, dll kegiatan Rumah Tangga Negara demi mendorong percepatan tujuan dibentuknya anegarl. a mewujudkan cita2nya yg tertera dlm UUD 45dan produk UU yg dibuat setelahnya". Semoga bisa diterjemahkan !