- Kecelakaan yang Memilukan
- Piramida Dicari, Muaro Jambi Disia-siakan ..
- Bank Mutiara Diincar Investor
- Menjaga Kepercayaan Publik
- Partai Demokrat Terus Bergolak
- Mengembalikan Trotoar ke Fungsinya
- Beranikah PDIP Pelopori Politik Bersih
- Partai Demokrat Masih Bimbang
- Ketika Pilot Pakai Sabu
- Angelina Sondakh Jadi Tersangka
- Jangan Adu Pengusaha dan Buruh
- Pemerintah Hadapi Boikot AS
- Kegigihan Jaksa Dalam Kasus Rasminah
- Menguji Kewibawaan Pemerintah
- Pertarungan Menuju Puncak
Berpolitik pun Butuh Kejujuran
Rabu, 8 September 2010 16:59 WIB
MENYUSUL kritikan keras yang disampaikan masyarakat terhadap rencana pembangunan gedung baru DPR, pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat melakukan rapat. Hasil rapat memutuskan untuk menunda pembangunan gedung baru dan meminta tim teknis untuk melakukan kajian lebih lanjut.
Sebagai lembaga perwakilan rakyat, sepantasnya DPR responsif terhadap apa yang menjadi kegundahan masyarakat. DPR tidak bisa bertindak atas maunya sendiri, tetapi harus mendapatkan semacam persetujuan dari masyarakat.
Sikap untuk mau mendengar kritikan masyarakat harus dilakukan dengan ketulusan. Jangan sikap responsif itu hanya sebagai sebuah kepura-puraan dan DPR sebenarnya tidak peduli dengan berbagai kritikan masyarakat.
Berpolitik membutuhkan kejujuran. Politik yang dilandasi dengan kejujuran pasti akan membawa manfaat bagi mereka yang berpolitik dan juga masyarakat yang hak politiknya diwakili oleh para politisi.
Pertanyaannya, apakah dalam politik kita sekarang ini masih dikenal yang namanya kejujuran? Ataukah politik yang kita kenal dan kita praktikkan cenderung hanya akal-akalan? Semua yang dipertontonkan hanyalah sebuah kepura-puraan, karena kepedulian itu tidak pernah datang dari hati.
Inilah yang sungguh kita khawatirkan. Kalau politik hanya sebuah kepura-puraan, sekadar untuk pencitraan, maka kita pantas untuk prihatin. Cara berpolitik seperti itu pasti hanya akan menimbulkan kekecewaan bagi masyarakat.
Masyarakat sendiri melihat apa yang disampaikan pimpinan DPR berkaitan dengan penundaan pembangunan gedung baru hanya sebuah taktik. Mereka hanya mencoba menghindar dari kritikan publik, namun kenyataannya rencana pembangunan gedung baru tetap saja jalan.
Permintaan kepada tim teknis untuk melakukan kajian lagi hanya sekadar bahasa penghalus bahwa DPR seakan-akan peduli kepada kritikan masyarakat. Namun, di sisi lain kita melihat bagaimana DPR bersikukuh bahwa bangunan baru itu dibutuhkan, khususnya untuk menampung empat atau lima tenaga ahli yang kelak akan mendampingi setiap anggota DPR dalam melaksanakan tugasnya.
DPR dan juga pimpinan DPR tidak menyimak pesan yang sebenarnya disampaikan masyarakat. Pesan yang ingin disampaikan masyarakat adalah pembangunan gedung baru itu bukanlah sesuatu yang mendesak. Masih banyak hal lain yang perlu diprioritaskan dari anggaran negara yang terbatas jumlahnya itu.
Salah satu yang dinilai lebih pantas dilakukan dengan anggaran Rp 1,6 triliun untuk pembangunan gedung baru DPR adalah pembelian persenjataan untuk Tentara Nasional Indonesia. Di tengah banyaknya kekayaan negara yang dicuri oleh bangsa-bangsa lain, kita membutuhkan postur TNI yang lebih kokoh untuk menjaga wilayah kita.
Atau anggaran itu akan lebih bermanfaat dipakai untuk pembangunan infrastruktur penunjang lalu lintas. Kita lebih membutuhkan sistem angkutan massal cepat (mass rapid transport) yang bisa mengurangi kemacetan daripada pembangunan gedung baru DPR.
Inilah yang kita sering katakan bahwa DPR sudah kehilangan hati nuraninya. Mereka bekerja bukan untuk kepentingan rakyatnya, tetapi lebih untuk kepentingan dirinya dan kelompoknya. Mereka tidak terlalu peduli dengan suasana batin yang tengah terjadi di masyarakat, karena mereka tidak pernah mau mendengarkan suara rakyat.
Sepanjang anggota DPR tidak mau mengubah sikap dan perilakunya, jangan heran apabila mereka akan teralineasi dari rakyatnya. Mereka bukan lagi wakil dari rakyatnya, tetapi sekadar sekumpulan politisi yang memiliki kepentingan bersama.
Sepanjang DPR tidak bisa menjadikan diri mereka sebagai wakil rakyat, maka masyarakat akan mengekspresikan sendiri kegundahannya. Berbagai aksi demonstrasi yang tidak henti-hentinya sejak era reformasi sebenarnya merupakan indikator dari tersumbatnya saluran masyarakat melalui DPR.
Sayang para anggota DPR tidak pernah mau menyadari kenyataan itu. Mereka hanya menganggap maraknya aksi demo sebagai ekspresi kebebasan, padahal fungsi pengawasan seharusnya menjadi tugas para anggota DPR. Masyarakat pasti akan lebih suka untuk bekerja apabila kepentingan mereka bisa diwakili oleh anggota DPR.
Anggota DPR seakan lupa bahwa masyarakat pun bisa kehilangan kepercayaan dan kesabaran kepada mereka. Kita pernah merasakan pahitnya keadaan itu ketika masyarakat sudah muak dengan politik kepura-puraan yang dipertontonkan para politisi. Kita tidak boleh mengulangi kejadian pahit seperti di tahun 1998 lalu, karena itu hanya akan membuat kita mundur jauh ke belakang.


Pak anggota DPR yang terhormat, dari pada membuat gedung baru mendingan uangnya diberikan untuk makan rakyatnya yang miskin. Lihatlah KEBAWAH !!!!! jangan lihat keatas. KEBAWAH kolong jembatan yang sekarang makan belum tentu besok bisa makan, bukanlah hati nuraninya pak anggota dewan. ingattt !!! uang yang anda gunakan adalah uang rakyat, Perhitungan akhirat menunggu KITA, hanya masalah antrian pak anggota dewan.....boleh jadi gedung belum jadi sudah dipangil=YANG MAHA KUASA.
lebih bermanfaat jika DPR membangun RSJ / panti rehabilitasi mental dan moral bagi anggota2 DPR yang semakin banyak yang sakit jiwa...karena setelah ketahuan korupsi/kejahatan nya baru pura2 sakit..
GOBLOK tenan DPR (Dewan Pengkhianat Rakyat ) ini bagaimana tidak bangsa yang lagi delecehkan,dihina,direndahkan derajad & martabatnya bahkan bangsa lagi diberada dibawah titik nadir seperti sekarang ini justru ditambah dengan ulah nya yang sangat tak sopan dan tak tau malu dengan merencanakan pembangunan gedung yang mungkin setelah jadi bisa mudah hancur lebur terkena rudal malaysia yang siap menerkamnya....DUNGU & TOLOL tenan DPR_DPR kita ini.....apa tidak lebih baik anggaran sebanyak itu untuk beli pesawat tempur dan kapal perang guna mengamankan wilayah negara yang hampir2 diterkam oleh harimau lapar tak punya otak waras seperti malaysia ini.....? apa DPR ingin disomasi atau dilengserkan oleh rakyat sang pemilik mandat.....? jika iya siap2lah pulang kampung gembalakan kambing seperti habitatmu dulu.,,,,,sangaaaaaaaaaaaaaat memalukan dan sangat menyinggung perasaan rakyat dan bangsa indonesia sungguh2 tak pastas anda duduk disana,BEDEBAAAAAAAAH,,,,,,BEJAD MORAL BAHKAN SUDAH PADA GILA OTAKNYA KALI......! BANGSAT SEMUA......KAU >>>>>>>>
Walau termasuk bagian kecil yg setuju bersyarat, saya senang ada pengendoran kengototan untuk segera dilaksanakannya gedung DPR di hari2 sebelumnya, dlm arti ditunda. Hargai sebagian besar suara suara rakyat. Bicara kata 'jujur' dan 'politik', memang sepertinya (pengamatan selama ini) bagaimana kita menemukan teori dan cara untuk menyatukan minyak dan air. Menurut kamus bahasa Indonesia, JUJUR = kata sifat = dapat dipercaya, tidak bohong, lurus hati, berkata apa adanya, tidak curang, tulus, ikhlas. Arti tersebut sudah jelas dan tidak bisa di tawar2 lagi, dan tidak ada persamaan yg menyimpang lagi.. Sedang Politik =kt benda = hal hal yg berhubungan dengan tata negara. Tetapi muaranya adalah dari kata; cara bertindak, taktik. Arti2 itu (cara bertindak dan taktik) masih bias dan bisa diartikan (cara2nya tadi) lain menurut yg melakukan 'cara bertindak' atau 'taktik' tsb. Bahkan extrimnyanya bisa dilakukan jujur atau tidak jujur. Karena dlm politik 'sepertinya' bisa mempermainkan dan mensubtitusikan dua kata tsb. Sehingga masih bisa berarti berlawanan mungkin. Jadi dalam berpolitik HARUS jujur, Wajib hukumnya. Bukan hanya keperluan sampingan saja. Karena jika tidak jujur ya, misal dunia ini menganut politik, dunia ini tidak akan bener bener, karena JUJUR out putnya BENER. sedang TIDAK JUJUR out putnya SALAH. Biasanya.
kalau masih membutuhkan banyak staf ahli untuk setiap anggota dewan, itu menunjukan anggota dewan kita masih kurang cerdas dan pintar. mengapa kita harus memilih mereka ?.toh masih banyak rakyat kita yang pintar di beberapa perguruan tinggi. mendingan mereka aja kita jadikan anggota dewan.