- Kartini dan Keamanan Nasional
- Penuntasan Bisnis TNI dan Kesejahteraan Prajurit ..
- Bara dalam Hubungan Indonesia-Malaysia
- Cara Pandang Baru Terhadap `Keamanan Nasional` Ind ..
- Reformasi Sektor Keamanan dan Kekerasan
- Indonesia dan Embargo Amerika
- Satpol PP Bersenjata: Clear and Present Danger ..
- Revitalisasi Industri Strategis Pertahanan ..
- Hak Pilih TNI, Siapa Takut?
- Urgensi Ratifikasi Konvensi Pekerja Migran ..
- Bela Negara Melalui Komponen Cadangan
Kartini dan Keamanan Nasional
Selasa, 26 April 2011 21:58 WIB
Adakah relasi antara keamanan nasional dan pemikiran Kartini? Sekilas, memang terdengar mengada-ada. Tapi, jika diperiksa lebih dalam, hal itu bukanlah mustahil. Pertama, di zaman Kartini hidup, konsep “keamanan nasional” mestinya juga dibicarakan. Apalagi pada era kolonialisme di negeri jajahan. Sejalan dengan laju reaksi atas kolonialisme, kita menyaksikan pembantaian, kelaparan, penyiksaan, dan pemerkosaan. Kemiskinan tumbuh subur. Dalam derajat berbeda, pribumi dibiarkan tak berpendidikan atas nama keamanan.
Konsep keamanan nasional sendiri punya evolusi panjang, dan makna dinamis. Ia yang dulu selalu diasosiasikan dengan solusi militer, kini menempatkan keselamatan manusia, dan solusi non-militer sebagai hal utama. Krisis energi, kesehatan, ledakan penduduk, kemiskinan kini menjadi ancaman keamanan nasional. Faktor multidimensi itu membuat keamanan menarik untuk dibicarakan, termasuk menghubungkannya dengan persoalan perempuan.
Lalu, di mana tempat pemikiran Kartini dalam ranah keamanan nasional ini? Kartini memang telanjur kita kenal sebagai pejuang emansipasi perempuan dari tanah Jawa. Jarang sekali ada yang mencoba menjelajah pemikirannya yang relevan untuk saat ini, selain perjuangannya sebagai feminis.
Paling mudah tentu menelisik pemikirannya melalui sejumlah kumpulan surat. Di antaranya buku Door Duisternis Tot Licht, terjemahan Armijn Pane berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Boeah Pikiran, terjemahan Sulastin Sutrisno untuk judul sama, Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904 terjemahan Joost Coté, Aku Mau ... Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903, Panggil Aku Kartini Saja, karya Pramoedya Ananta Toer, adalah karya-karya yang memusatkan pada pemikiran Kartini. Bahkan, buku Panggil Aku Kartini Saja adalah hasil pengumpulan data dari berbagai sumber oleh Pramoedya.
Sebagian besar pemikiran Kartini menggugat kondisi sosial saat itu. Terutama kondisi perempuan. Keluhan dan gugatannya ditujukan pada budaya Jawa, yang dipandang menghambat kemajuan perempuan. Ia memang menginginkan perempuan punya kemerdekaan menuntut ilmu dan pendidikan.
Obsesinya itu terangkum dalam apa yang ia tuliskan tentang: Zelf-ontwikkeling en Zelf-onderricht, (pengembangan diri dan pendidikan diri), Zelf- vertrouwen en Zelf-werkzaamheid (kepercayaan diri dan motivasi diri) dan juga Solidariteit (Solidaritas). Menurutnya semua itu atas dasar Religieusiteit (Ketuhanan), Wijsheid (Kebijaksanaan) en Schoonheid (dan Keindahan) ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air). Semuanya memusat pada diri. Pada manusia dan nilai-nilai kemanusiaan. Hal yang sangat penting dan merupakan inti dari persoalan keamanan nasional yang kita pahami sebagai human security.
Saya sependapat Kartini bukanlah sekadar perempuan yang memperjuangkan kaumnya, melainkan melampaui zamannya. Dia bicara soal nasib bangsa dan kepentingan negara. Perjuangannya ditajamkan untuk memerdekakan perempuan, agar mempunyai otonomi, persamaan hukum, dan pendidikan setara sebagai bagian dari perjuangannya yang lebih luas. Di tengah itu ia pun memimpikan kehidupan bangsanya lepas dari penjajahan bangsa Eropa yang pengaruhnya juga melekat di dirinya.
Sayangnya, pemikiran Kartini tentang humanitarianisme dan nasionalisme belum digali lebih detil. Semestinya dia menjadi semacam keunikan di tengah spektrum pemikiran tokoh nasionalis lainnya. Cara pandang kita terhadap konsep keamanan nasional hari ini masih tradisional. Kartini telah mendahului zamannya dalam melihat konsep ini. Baginya, inti dari keamanan nasional itu melekat pada kepentingan manusia dan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri, yang tergambar jelas dalam pemikiran dan perjuangan yang dilakukannya.
Yang menarik bagi saya adalah, di antara banyak buku Belanda yang menjadi bacaan Kartini, ada sebuah roman anti-perang karya Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Lay Down Your Arms/Letakkan Senjata) sebutan untuk disarmament (perlucutan senjata). Kartini menggemari buku itu.
Bertha von Suttner adalah penulis dan aktivis gerakan perdamaian terkemuka pada akhir abad ke-19 di Eropa. Suttner menggunakan bakat sastranya menghasilkan novel politiknya pada 1889, Lay Down Your Arms. Buku itu laris, dan diterjemahkan ke beberapa bahasa. Suttner memainkan peran kunci dalam pembentukan Konferensi Perdamaian pertama Den Haag, dan mendorong temannya, Alfred Nobel, menciptakan Nobel Peace Prize. Untuk usahanya tak kenal lelah dalam gerakan perdamaian, Bertha meraih nobel perdamaian pada 1905, setahun setelah wafatnya Kartini.
Soal perdamaian dari buku Bertha itulah yang menarik Kartini, dan ikut memengaruhi warna perjuangan yang dipilihnya. Emansipasi perempuan yang diperjuangkannya bukanlah emansipasi yang tercerabut dari konteks lokalnya. Benar bahwa literatur dan budaya barat memengaruhi pemikiran dan sikap hidupnya, namun itu tidak melunturkan apa yang ia peroleh dan pahami tentang kondisi bangsanya.
Ia memiliki strategi sendiri dalam mengimplementasikan gagasannya. Bagian dari negosiasi dirinya tentang apa yang diserapnya dan kemudian dipraktikkannya. Emansipasi perempuan yang ia serap dari barat menjadi unik. Hal senada yang juga ditegaskan para pemikir dari tradisi postkolonial sesudahnya, seperti Gayatri Spivak, Talpade Mohanty dan sebagainya. Bahwa teks-teks dan praktik politik feminis, menurut Mohanty, sering ditandai batas ideologis yang menggambarkan “perempuan” sebagai sebuah kategori yang monolitik, an always-already constituted group. Seolah-olah semua perempuan mengalami nasib sama. Padahal, perempuan adalah kategori dan hirarki yang sangat kompleks, baik karena kelas, usia, seksualitas, identitas dan peran jender, suku, warna kulit, termasuk dari belahan dunia mana ia berasal. Dalam konteks inilah Kartini dengan kecerdasannya mencoba mempribumikan emansipasi perempuan yang “barat” itu.
Dia tahu makna kemerdekaan, justru karena dia merasa tak bebas di tengah arsitektur masyarakat jajahan. Di bagian interior, dia diikat kepatuhan norma keluarga dan belenggu adat. Di ruang eksterior, dia dihadapkan pada penindasan penjajah negerinya. Baginya keselamatan dan kemerdekaan bangsa berawal dari keselamatan dan keamanan yang memusat pada diri sendiri. Sebagai manusia, dan individu setara yang merdeka.
Jaleswari Pramodhawardani
Peneliti LIPI dan The Indonesian Institute

Kenapa begitu besar kredit diberikan kepada Kartini dibandingkan perempuan Indonesia lainnya yang lebih besar dan nyata kontribusinya bagi bangsa dan negara? Ambil contoh keras Dewi Sartika yang lebih membumi, konkrit, dan jelas kontribusinya dibandingkan Kartini yang hanya jadi gendak bangsawan jawa yang pada waktu itu memang kebanyakan pengumbar syahwat (sampai Sukarno pun tak mau ketinggalan karena mengumbar syahwat dalam adat istiadat Jawa adalah "grand virtue.). Kartini dipilih karena ingin dikedepankan superioritas Jawa. Padahal kultur Jawa adalah kultur kumuh yang sarat dengan kultus individu, jilat menjilat, khianat, oportunis, munafik, dan halal berbohong. Lihat saja sebagai bukti keras seluruh presiden Indonesia yang sedikit banyak adalah orang Jawa. Adakah yang amanah? Big NO! Jadi pemikiran Kartini adalah pemikiran yang hanya diagung-agungkan oleh (siapa lagi kalau bukan) ORANG JAWA. Coba sekali-sekali menyelami pemikiran perempuan Aceh, Minangkabau, atau suku lainnya. Pasti anda akan tercengang betapa terkebelakangnya perempuan Jawa pada waktu itu.
narasi perempuan di Indonesia, gaungnya harus lebih tajam lagi. Tidak sekadar merekonstruksi teks2 budaya feminis, tetapi haruslah ada keberanian hermeneutis yang sungguh dan yang menempatkan perempuan kepada kemanusiaan yang utuh. Realitas kita sudah terlalu riuh dan ribet dengan ekuasaan yang jelas2 adalah produk bias gender yang menempatkan perempuan sebagai tambalan kekuasaan. Maju terus perempuan Indonesia! Kebangkitan Indonesia adalah kebangkitan perempuan!