Monas: Ereksi Adab Daratan

Senin, 2 Januari 2012 22:39 WIB

Memandang Monumen Nasional (Monas) adalah memandang kejayaan sebuah negeri. Menikmati luar dan dalam bangunan itu adalah sebuah apresiasi atau penghayatan terhadap perjuangan luar biasa pejuang, para bapak ibu pendiri republik, dan keringat, airmata, serta darah rakyat demi merebut kemerdekaan. Bersamanya semua romantika hidup berbangsa kita hidupkan hingga pengakuan dunia kita dapatkan. Tapi hanya itukah semata?

Monas bukanlah monument romantik belaka. Ia juga sebuah istana simbolik bagi isi hingga misteri dari sebuah negeri: Indonesia yang kita kenali ini. Bukan hanya angka-angka yang mengisi sekujur bangunan itu, mulai dari tinggi, berat, lidah api, jumlah berat dan karat emas di puncaknya, hingga diorama di dalam perutnya. Monas sejak desain dasarnya, sejak pilihan bentuknya, sudah menyimpan kekuatan simbolik yang tidak hanya member makna historis, filosofis, tapi juga bangunan peradaban apa yang dicita-citakan, bangunan adab bangsa yang memilikinya.

Dalam sejarah pembuatannya, kita sama-sama tahu, bagaimana dua kali penyelenggaraan sayembara desain tidak berhasil memuaskan selera dan kebutuhan Bapak Bangsa sekaligus proklamator dan presiden pertama kita, Ir. Soekarno. Hingga akhirnya sang “Bapak Revolusi” menetapkan bentuk atau simbol lingga sebagai desain dasar monumen tersebut. Sebuah keputusan yang nampaknya tidak muncul serta merta.

Kita mengetahui, simbol lingga adalah sebuah bentuk universal di seluruh bangsa, seluruh dunia yang mewakili perangkat utama kemaskulinan. Dasarnya yang purba, berupa obelisk ditemukan di berbagai runtuhan atau puing-puing sisa peradaban kuno, dari ujung Timur hingga Barat planet ini. Simbol ini menunjukkan dominasi kekuasaan dan kekuatan lelaki atas wanita. Maka sempurnalah saat Soekarno menambahkan simbol yoni (kelamin perempuan atau pertanda feminimitas) di bawah tonggak kuat obelisk atau lingga itu.

Dari hampir semua bentuk obelisk atau lingga yang –secara fundamental—bentuknya sama, di seluruh ibu kota –dan kota-kota—utama dunia, hanya sedikit yang dilengkapi dengan yoni atau dalam makna lainnya sama dengan holly grail (cawan suci), sebagaimana yang ada pada Monas. Dapat diperhatikan beberapa contoh obelisk atau lingga itu seperti di bawah ini: pucuk Cleopatra, di Central Park, New York; obelisk Tuthmosis III, di Istanbul, Turki; obelisk Fir’aun Senusret I, di wilayah Al-Masalla, Heliopolis, Kairo; dan salah satu obelisk Luxor yang sangat ternama, di Place de la Concorde, Paris.

Maka, lebih dari sekadar simbol peradaban yang maskulin, dimana perempuan secara fitrahi sudah menjadi subordinat di dalamnya, model monumen seperti ini, yang mengerucut seperti potlot dan menunjuk ke langit, tidak lain ada sebuah pengejawantahan dari spiritualisme, religiusitas atau agama dari peradaban tertentu: peradaban daratan.

Peradaban yang tidak lain menempatkan langit sebagai sebuah wilayah atau entitas dengan stratum tertinggi dalam konstelasi benda-benda pengisi semesta. Lewat berbagai penjelasannya, yang khas, unik, dahsyat, mengagumkan sekaligus –kadang menggelikan—jenis peradaban purba manusia ini melihat langit, dan matahari sebagai entitas –juga simbol—sentralnya, adalah pemilik kekuatan tertinggi dimana kekuatan manusia –apa pun dan siapa pun—tidak dapat menjangkaunya.

Mesir, sebagai bangsa daratan yang dianggap sebagai soko guru dari adab langit, Tuhan, macho dan seterusnya ini, menempatkan Dewa Ra (matahari) sebagai puncak dari segala dewa, dimana piramida (turunan lain dari obelisk) dibuat sebagai tanda bakti padanya. Kita pun mafhum bagaimana adab daratan di Cina dan India juga melakukan hal yang sama, menempatkan lingga sebagai salah satu tanda indeksikal paling kuno dari gunung, dalam posisi pemahaman yang sama.

Barat dan Timur di sini, sebenarnya adalah pendukungan peradaban yang sama, hingga pada simbol-simbol utamanya. Gunung, sebagai fenomenan geologis utama, bagi masyarakat dan adab maskulin Timur adalah tempat bersemayam kekuatan supranatural yang memiliki kekuasaan dan kekuatan konstitutif bagi umat manusia. Begitulah agama samawi di Timur Tengah, bangsa Semit dan Arab sebagai keturunannya, Persia, Turki, hingga pedalaman Indonesia kemudian mengadopsinya. Bukan hanya dalam pemamahaman kebudayaannya, dalam ritus-ritus spiritualnya, hingga pada praktik-praktik politik dan kenegaraan dan kemasyarakatannya.

Entah dari mana mulainya paham adab daratan yang diereksi oleh monumen obeliskal ini, yang jelas hampir semua bangsa dan negara besar –serta bersejarah besar—di atas bumi ini, membangun monumen serupa, begitu serupa, hingga tidak hanya bentuk, tapi daya simbolik, makna, hingga peran atau posisinya. Bahkan beberapa negara besar, seperti Inggris dan Amerika, tidak cukup satu membuat monumen semacam ini. Roma di Italia bahkan menyimpan belasan monumen semacam Monas ini. Lihat beberapa contohnya di bawah ini: obelisk di Sao Paulo, Brasil; obelisk at the Plaza Francia, Caracas, Venezuela; Monumen Welllington di Phoenix Park, Dublin; dan Monumen Kemerdekaan (semacam Monas) di Taman Maha Bandula, Yangoon, Myanmar

Itu sebagian saja. Sebagian dari fakta-fakta keras yang menyimpan banyak data dan penjelasan yang mengejutkan, tentu saja. Bagaimana monumen-monumen batu yang keras, perkasa, dan abadi itu dibuat, dirancang dan direkayasa –umumnya—oleh para founding fathers  di setiap bangsa dan negara yang memilikinya.

Bahkan jika pun mereka tidak memiliki alasan historis atau filosofis untuk melakukan itu, dengan mudah saja mereka mengimpornya, bahkan mencurinya. Adalah fakta obelisk pertama di kota Roma, yang bertengger di sisi basilika Santo Petrus yang ternama sebenarnya adalah hasil curian dari Mesir yang dilakukan atas perintah Kaisar Caligula di abad pertama sebelum masehi.

Hal yang sama terulang di Paris, saat Napoleon Bonaparte, kaisar perkasa Prancis, merampok dan memboyong obelisik Luxor dari Mesir untuk dipancangkan sebagai landmark kota Paris, bahkan mengabadikan pencurian itu dalam sebuah diorama. Kita pun akan bertanya-tanya kenapa Soekarno dulu menyisihkan ratusan rancangan peserta sayembara, bahkan hasil karya jenius F. Silaban untuk Monas, dan pada akhirnya memilih lingga, tentu bukan karena sekadar ia ditasbihkan oleh khalayak sebagai “putera sang fajar”, titisan dari (dewa) matahari.

Mengapa pula George Washington, seratus lima puluh tahun sebelumnya memiliki ide yang sama dengan Soekarno ketika ia membangun kota yang sama dengan namanya. Adakah sebuah pemikiran, idealisasi atau ideologi, paham atau kemafhuman yang parallel di baliknya?

Apa pun, esensi dan misteri yang sembunyi di balik semua itu, Monas kini sudah menjadi sebuah fakta bahkan realitas bangsa ini yang tidak terelakkan. Dalam tuntutan pragmatis hidup kita saat ini, kita diminta –didesak khususnya—untuk mendapatkan signifikansi, peran dan posisi yang aktual bagi sebuah monumen, semacam Monas, bagi publik atau bangsa yang memilikinya.

Dan ini sekadar urun rembug, atau katakanlah berbagi cerita. Monas, dengan penempatannya secara geografis, dalam perhitiungan kosmologis hingga filosofisnya, meminta kita –publik luas—menerimanya sebagai titik sentral bahkan dalam konsentrasi politik dan bernegara kita. Monas pun, tentu saja, menjadi vital bukan hanya sebagai paru-paru kota, oase bagi ketandusan hidup perkotaan, ruang sosialisasi dan berakrab dengan alam, bahkan sudah berkembang menjadi titik acu utama dalam cara kita mengidentifikasi diri. Baik sebagai bangsa, komunitas hingga pribadi.

Dari sebuah Monas kita sesungguhnya bisa memperoleh sumber-sumber referensial yang meneguhkan keberadaan kita sebagai manusia di tengah keriuhan dan kericuhan identitasnya sebagai sebuah bangsa. Di situ kita mendapatkan alasan-alasan mengapa aku dapat menyebut dirinya sebagai “manusia Indonesia”, bahkan sebagai “bangsa Indonesia”. Walau tentu saja, bagi yang sedikit berpikir, proses itu terjadi dalam beberapa artifisialisasi historis dan filosofis, tentang apa dan siapa “Indonesia” itu.

Sebagai contoh, diorama di dalam perut Monas menggambarkan perjalanan kronologis bangsa ini, sejak masa kuno, Majapahit dan Singasari, katakanlah. Namun benakah, kronologi itu? Mengapa sejarah dan keberadaan bangsa ini dimulai dari riwayat kerajaan yang nota bene adalah duplikasi dari bentuk-bentuk kerajaan konsentris, kerajaan pedalaman, yang tidak lain adalah bentuk utama dari budaya politik adab daratan? Tidakkah dengan itu kita tergiring untuk menjustifikasi atau menerima secara legal dan rasional, adab daratan sebagai identitas asli bangsa ini?

Lalu dimana sejarah luar biasa, tiga kali lebih panjang dari usia adab India atau daratan itu? Dimana adab Kundunga dari Kalimantan, adab Aki Tirem di Salakanagara, Dewata Cengkar di tengah dan Timur Jawa, adat Bugis yang melahirkan La Galio dan kaum bissu, adat Batak yang melahirkan Parmalim, atau Jawa Barat yang melahirkan Baduy; semua adat dimana Hindu adalah pendatang asing yang dengan senyum ramah diterima sebagai tamu terhormat tapi kemudian menjadi kolonialis hebat, sebagaimana kemudian Eropa datang, Jepang hingga Amerika Serikat di masa akhir datang. Kamu bertamu, aku bertuan, kau menipu kuterima dengan sopan.

Nampaknya, ada beberapa –jika tidak banyak sekali—hal yang perlu diperhitungkan kembali dari isi Monas sebagai pusat atau titik acuan utama penegas identitas kita sebagai bangsa, tempat kita menyusun rasa bangga. Sebuah pengajian yang serius dan jernih, agar kita tidak tenggelam dalam sejarah yang disusun penuh tipu daya, sehingga melahirkan jati diri yang terperdaya dan tak berdaya.

Ada sesuatu yang baru harus dimunculkan dan kita terima, kita akui. Sesuatu yang memperlihatkan (jati) diri kita yang sesungguhnya. Apa itu? Mungkin lembar kertas lain yang harus menjawabnya.

Radhar Panca Dahana, Budayawan, Sastrawan dan Pekerja Teater

Bookmark and Share

KOMENTAR [4]

  • 2012, Senin, 2-April-2012

    Xmi2Cf kcjpueeqnqmk

  • 2012, Sabtu, 7-April-2012

    w4Zp0m hwibrhudzogh

  • 2012, Sabtu, 7-April-2012

    hello there and thank you for your information – I’ve eifenitdly picked up anything new from right here. I did however expertise some technical issues using this web site, since I experienced to reload the web site lots of times previous to I could get it to load correctly. I had been wondering if your web host is OK? Not that I am complaining, but sluggish loading instances times will very frequently affect your placement in google and could damage your high-quality score if advertising and marketing with Adwords. Anyway I am adding this RSS to my email and could look out for a lot more of your respective fascinating content. Make sure you update this again soon..

  • ayibunbun, Selasa, 3-Januari-2012

    Menurut hematku peninggalan2 yang berupa patung2,tugu,situs dsb yang sengaja dibuat tahan lama, dimaksudkan untuk dikenang sekaligus sebagai pesan kepada generasi selanjutnya bahwa inilah yang telah dicapai peradaban manusia saat itu.
    Sehingga peradaban selanjutnya bisa belajar dari mereka dan memperbaiki kekurangan yang belum dicapai saat itu.
    Namun terkadang manusia berikutnya lalai dari pemahaman pesan2 tersebut. Yang nyata kelihatan memahami pesan2 tersebut adalah para perancang bangunan. Sebagian berhasil meneladani pesan2 tersebut sekaligus memperbaiki kekurangan2nya. Namun dari segi sosial kemasyarakatan kurang mendapat perhatian. Contoh kecil saja dengan dibangunnya Monas yang mana diantaranya dibuat pesan2 sejarah perjuangan untuk terlepas dari para penjajah yang ditebus dengan darah dan air mata bahkan nyawa, kini kita lihat banyak orang masuk penjara lantaran korup dan foya2.

KIRIM KOMENTAR ANDA

Nama
Email
Komentar Anda
Kode Keamanan
 

© 2004 - 2012 MetroTVNews.com All rights reserved.
Comments & suggestions please email webmetro@metrotvnews.com
FANS INGIN BARCA REKRUT GARETH BALE DARI SPURS   *   USAI DIRAWAT AKIBAT PNEUMONIA, LEGENDA SEPAK BOLA PORTUGAL EUSEBIO DIIZINKAN PULANG   *   PRESIDEN OBAMA UCAPKAN SELAMAT TAHUN BARU PADA WARGA DUNIA   *   FERGIE KECEWA MU DIKALAHKAN BLACKBURN 2-3   *   INDONESIAN POLICE CONTINGENT IN SUDAN PRESENTED FINANCIAL ASSISTANCE TO REFUGEES IN THE DARFUR REGION   *   MICHAEL ESSIEN AKAN KEMBALI BELA CHELSEA MEDIO JANUARI 2012   *   KORBAN TEWAS AKIBAT BADAI THENE DI INDIA JADI 42 ORANG   *