Putra Mbah Maridjan Juru Kunci Merapi
Metrotvnews.com, Yogyakarta: Putra ketiga almarhum Mas Ngabehi Suraksohargo atau Mbah Maridjan, Mas Bekel Anom Suraksosihono atau Asih, ditunjuk dan diangkat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi juru kunci Gunung Merapi.
"Asih ditunjuk menggantikan almarhum bapaknya menjadi juru kunci Merapi setelah melalui seleksi yang diadakan keraton," kata Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat GBPH Joyokusumo saat mengumumkan juru kunci Merapi pengganti Mbah Maridjan di Yogyakarta, Ahad (3/4).
Menurut dia, penunjukan dan pengangkatan juru kunci Merapi itu telah melalui beberapa rangkaian kegiatan yang diawali dengan pembentukan sembilan orang sebagai tim seleksi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Tim seleksi membagi diri dalam empat kelompok yang masing-masing menyusun pertanyaan. Kelompok tersebut adalah kelompok di bidang keagamaan, kebudayaan, kekeratonan, dan kemasyarakatan.
"Selanjutnya tim menyeleksi 10 abdi dalem laki-laki dari 18 abdi dalem juru kunci Merapi. Hasil seleksi kemudian dilaporkan kepada Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono X," katanya.
Ia mengatakan, setelah menerima dan mempelajari laporan tersebut Sultan menetapkan juru kunci Gunung Merapi adalah Mas Bekel Anom Suraksosihono atau Asih, yang akan naik pangkat menjadi lurah dengan sebutan Mas Lurah Suraksosihono.
"Juru kunci Merapi akan menyatu dalam komunikasi dan koordinasi bersama pemerintah kabupaten dan badan atau instansi terkait Gunung Merapi. Di mana pun ketugasannya, juru kunci Merapi harus bisa menjadi panutan masyarakat dengan layak dan benar," katanya.
Mas Bekel Anom Suraksosihono atau Asih (44) mengatakan, berterima kasih kepada keraton yang mempercayakan amanah tugas menjaga Merapi dengan tetap mengutamakan koordinasi dengan masyarakat.
"Mudah-mudahan setelah diangkat menjadi juru kunci Merapi, saya dapat melaksanakan amanah dengan baik sesuai dengan persetujuan dan aturan yang ada di keraton. Saya juga akan mengutamakan koordinasi dengan masyarakat," katanya.
Menurut dia, dirinya akan melakukan penyesuaian antara nilai-nilai tradisi keraton dengan perkembangan teknologi. Dirinya juga akan terus mengikuti perkembangan yang terjadi di tingkat pemerintah.
"Dalam mengemban amanah menjadi juru kunci Merapi menggantikan bapak (Mbah Maridjan, red), saya diberi kelonggaran oleh kantor untuk menjalankan tugas tersebut," kata karyawan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta itu.(Ant/ICH)




Sultan Bima mau protes sampai berbusa ya gak ada artinya, wong yang punya kuasa untuk tradisi di Kraton ya Sri Sultan, mau ada permainan atau tidak ya monggo saja. wong negara diatur oleh Pemerintah dan DPR kita protes gak bisa apa-apa kok.
Tradisi terkadang bukan hanya sebuah ritualitas, ada spiritualitas jg didalamnya, ketika agama mengajarkan percaya pada hal gaib, dan ada sekelompok orang membuat ritualitas dlm kepercayaan mereka untuk menghargai hal yg gaib, atau komunikasi dengan entah tujuan apa,, ya itulah keyakinan, layaknya hubungan kita dengan yang maha Gaib (TUHAN). agamaku agamaku, agamamu agamamu, yuk saling menghargai. alhmd.
Nggak usah dijaga gunungnya juga nggak kan lari kok. Tetapi kalau mau meneruskan tradisi ya monggo kerso. Memang sebaiknya yang meneruskannya ya yang ngerti histori dari per juru kuncian gunung itu. Tetapi juru kuncinine aja neka2 ya, nanti kalau neka2 tak sedot ubun2 ne
SAYA PROTES KERAS...TIDAK SEPANTASNYA JABATAN JURU KUNCI TURUN TEMURUN...INI PASTI ADA PERMAINAN...SEHARUSNYA YANG COCOK MENDUDUKI JABATAN TESEBUT ADALAH SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO X...HAHAHAHA...