Pengadilan Sudan Hukum Mati Pemimpin Pemberontak Darfur

Internasional / Sabtu, 27 Agustus 2011 22:22 WIB

Metrotvnews.com, Khartoum: Sebuah pengadilan Sudan, Sabtu (27/8),  menjatuhkan hukuman mati atas Al-Tom Hamed Tutu, seorang pemimpin pemberontak penting Darfur, Gerakan Keadilan dan Persamaan (JEM). Ia dinyatakan telah melanggar konstitusi dan menggerakkan perang melawan negara. Demikian diberitakan kantor berita pemerintah Sudan, SUNA.

Tutu tertangkap di negara bagian Kordofan Selatan, tempat pertempuran meletus pada Juni lalu antara militer Sudan dan kelompok-kelompok yang berusaha untuk merebut kekuasaan wilayah itu dari Khartoum. JEM, yang sebagian besar aktif di Darfur yang berdekatan dengan Kordofan Selatan, telah bergabung dengan cabang Tentara Pembebasan Rakyat Sudan (SPLA) untuk menyerang tentara pemerintah di Kordofan Selatan pada Juli ketika konflik berangsur-angsur meluas hingga mencakup serangan udara dan artileri.

Menurut kantor berita Sudan, SUNA, Tutu juga dituduh memakai seragam militer dengan sebuah lencana SPLA. JEM yang mengecam hukuman terhadap Tutu, Sabtu, mengatakan ia adalah seorang pemimpin militer dan politik dari sebuah gerakan yang pemerintah Sudan akui dan berunding dengannya. "Gerakan ini minta pada pemerintah, kelompok hak asasi dan kemanusiaan serta semua orang yang menyintai perdamaian untuk membagi tanggung jawab mereka dan campur tangan secara cepat guna menyelamatkan pemimpin Hamed dari gantungan kelompok rasis yang memerintah," kata JEM dalam sebuah pernyataan.

Kordofan Selatan terletak di Sudan utara dan selatan, yang secara resmi memisahkan diri dari Khartoum pada 9 Juli lalu berdasarkan perjanjian damai 2005 yang mengakhiri beberapa dasawarsa perang saudara. Banyak gerilyawan yang berpihak pada SPLA melawan Khartoum yang tetap di sisi utara perbatasan baru itu.

Awal bulan ini PBB telah menyerukan penyelidikan terhadap laporan pelanggaran hak asasi manusia di Kordofan Selatan yang mereka katakan dapat meningkat menjadi kejahatan perang. Khartoum mengesampingkan tuduhan itu sebagai tak berdasar. Sejumlah aktivis dan pekerja bantuan menuduh Pemerintah Khartoum memulai pertempuran untuk menekankan wewenangnya di negara bagian penghasil minyak penting itu setelah Sudan Selatan memisahkan diri.

Perlawanan terpisah berkobar di Darfur sejak 2003. Sementara menurun dari puncaknya, kekerasan yang meningkat kembali di wilayah itu sejak Desember telah memaksa puluhan ribu orang untuk melarikan diri dari rumah mereka.(Ant/BEY)



Bookmark and Share

KOMENTAR [0]

KIRIM KOMENTAR ANDA

Nama
Email
Komentar Anda
Kode Keamanan
 

© 2004 - 2012 MetroTVNews.com All rights reserved.
Comments & suggestions please email webmetro@metrotvnews.com
FANS INGIN BARCA REKRUT GARETH BALE DARI SPURS   *   USAI DIRAWAT AKIBAT PNEUMONIA, LEGENDA SEPAK BOLA PORTUGAL EUSEBIO DIIZINKAN PULANG   *   PRESIDEN OBAMA UCAPKAN SELAMAT TAHUN BARU PADA WARGA DUNIA   *   FERGIE KECEWA MU DIKALAHKAN BLACKBURN 2-3   *   INDONESIAN POLICE CONTINGENT IN SUDAN PRESENTED FINANCIAL ASSISTANCE TO REFUGEES IN THE DARFUR REGION   *   MICHAEL ESSIEN AKAN KEMBALI BELA CHELSEA MEDIO JANUARI 2012   *   KORBAN TEWAS AKIBAT BADAI THENE DI INDIA JADI 42 ORANG   *