Prancis Mulai Kurangi Impor Kerajinan dari Bali
Metrotvnews.com, Denpasar: Konsumen Prancis tampaknya mulai mengurangi membeli hasil kerajinan dan matadagangan nonmigas Bali sebagai dampak resesi ekonomi yang melanda masyarakat negeri itu. Prancis selama ini dikenal pembeli terbesar kerajinan Bali dari Eropa. Namun saat ini mulai berkurang hingga 30,5 persen. Demikian diungkapkan Kasi Ekspor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bali, Putu Bagiada SE di Denpasar, Bali, Rabu (14/12).
Pertumbuhan perdagangan luar negeri daerah ini khususnya ke Prancis tampaknya semakin melorot, walau pun pemerintah memperbanyak penerbangan ke kawasan Eropa, untuk memancing lebih banyak turis asal negara itu ke Bali. Realisasi ekspor Bali ke Prancis sekarang ini tercatat hanya seharga 27,3 juta dolar AS selama Januari-Oktober 2011. Angka ini berkurang jika dibandingkan periode sama 2010 yang mencapai angka 39,7 juta dolar.
Prancis semula menempati urutan ketiga pembeli terbesar aneka barang nonmigas Bali selama 2010. Sekarang didesak Australia yang ada di posisi tersebut dan yang tertinggi masih Amerika Serikat dan Jepang di tempat kedua.
Wisatawan asing asal Eropa memang bertambah banyak ke Pulau Dewata Tentu ada di antaranya pebisnis yang akan melakukan pemesanan atau membeli langsung aneka ragam hasil kerajinan sebagai barang aksesori. Barang tersebut akan dijual kembali setelah di negerinya. Namun bagi mereka yang datang ke daerah ini tampaknya berkurang untuk pemesanan aneka barang kerajinan khas Bali untuk dijual kembali di negerinya.
Bagiada mengatakan, selain konsumen Prancis membeli dalam jumlah banyak aksesori bernilai seni asal Pulau Dewata, di antara 26 negara pembeli di kawasan Eropa adalah Italia, Spanyol, Inggris dan Jerman. Masyarakat Jerman yang memiliki kesenangan terhadap aneka kerajinan bernilai seni dari Bali menempati urutan kedua khusus di kawasan Eropa, karena mengimpor seharga 20,5 juta dolar selama sepuluh bulan I-2011.
Italia ada di urutan ketiga pembeli terbanyak di kawasan Eropa, barang kerajinan Bali dan nonmigas lainnya seharga 18,5 juta dolar selama Januari-Oktober 2011. Menyusul kemudian Inggris 17,7 juta dolar. Banyak masyarakat Eropa melakukan perjalanan wisata ke Pulau Dewata, tentu akan berpengaruh terhadap perdagangan luar negeri Bali ke kawasan itu terutama barang cendramata dan hasil pertanian.(Ant/BEY)



