Polisi Usut Jaringan Penyelundup Imigran Gelap
Metrotvnews.com, Jakarta: Polisi masih mengusut jaringan penyelundup ratusan imigran gelap ke Australia. Pelacakan dilakukan setelah sebuah kapal yang mengangkut ratusan imigran tenggelam di Perairan Prigi, Trenggalek, Jawa Timur, 17 Desember lalu.
"Nanti dari Direktorat I Tindak Pidana Umum akan melaksanakan pelacakan terkait siapa smuggler-nya, siapa yang mengorganisir," kata Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Polisi Saud Usman Nasution di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (23/12).
Menurut Saud, keterangan saksi menyebutkan jaringan itu tersebar di negara asal, negara transit, dan negara tujuan imigran. Mereka berkoordinasi memuluskan perjalanan para pencari suaka politik. Atas jasa tersebut, setiap imigran ditarik biaya perjalanan sebesar USD4.000 hingga USD 6.500.
Dijelaskan Saud, para imigran umumnya berasal dari negara-negara di Timur Tengah. Mereka merasa tak memiliki kehidupan layak di negaranya, seperti sulit mencari pekerjaan. Para imigran akhirnya mencari suaka politik ke beberapa negara maju, salah satunya Australia.
Modus yang digunakan, kata Saud, mereka menggunakan dokumen resmi untuk berwisata ke Singapura atau Malaysia. Para imigran kemudian membuang semua dokumen keimigrasian dan masuk ke Indonesia melalui perbatasan.
"Masuk ke Indonesia dengan membuang semua paspor sebagai pencari suaka, sehingga mereka diberlakukan aturan sebagai pencari suaka," kata Saud. Dari Indonesia, imigran menggunakan jasa jaringan penyelundup untuk membawa mereka ke Austral
Kepala Bagian Kejahatan Internasional Divisi Hubungan Internasional Mabes Polri Komisaris Besar Polisi Hasan Malik di Jakarta, 19 Desember lalu, mengatakan, Australia sangat diminati imigran karena perlakuan dan fasilitas luar biasa.
Menurut Hasan, para imigran gelap akan ditahan sesampai di Australia. Namun, di tahanan itu mereka mendapat perlakuan sangat layak. Para imigran diberi makan, fasilitas olahraga, dan fasilitas lain untuk mengasah keahlian mereka.
"Banyak motivasi yang memotivasi di sana, salah satunya fasilitas tahanan yang luar biasa," jelas Hasan.
Yang lebih penting, kata Hasan, para tahanan tak perlu menunggu lama untuk mendapat kewarganegaraan Australia. Apalagi bila mereka dinilai berperilaku baik oleh pemerintah setempat. Karena itu lah, Australia menjadi salah satu negara paling diminati pencari suaka.
"Di sana pengangguran saja digaji," kata Hasan. (IKA)



