Pemerintah Diminta Perketat Produk China dan India
Metrotvnews.com, Surabaya: Mantan Menteri Perindustrian Fahmi Idris meminta pemerintah merumuskan regulasi yang memperketat masuknya produk China dan India ke Indonesia. "Krisis Amerika dan Eropa akan membuat China dan India mengalami masa berkurangnya ekspor dan mereka sangat mungkin akan melarikan produknya ke Indonesia," katanya di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (4/1).
Menurut Fahmi, Indonesia sendiri akan mengalami pengurangan angka ekspor ke Amerika dan Eropa hingga 6-11 persen. Jika pasar Indonesia diserbu produk China dan India, Indonesia akan merugi dua kali. "Itu sebenarnya konsekuensi kita sebagai pasar terbuka, tapi pemerintah tetap perlu mengeluarkan regulasi untuk memperketat produk China dan India yang sangat murah itu, karena pasar dalam negeri perlu dipertahankan, meski pasar kita sudah bebas," katanya.
Tanpa intervensi berbentuk regulasi yang memperketat produk asing dengan kriteria yang mengikat, pasar dalam negeri akan benar-benar jebol, apalagi angka ekspor Indonesia berkurang 6-11 persen. "Ada pakar yang menyarankan kita hadapi krisis Eropa dan AS dengan memperkuat pasar dalam negeri, tapi hal itu bukan perkara mudah, karena pasar kita belum tumbuh akibat daya belum yang masih rendah," katanya.
Ditanya tentang pekerjaan rumah di sektor perekonomian, ia menyatakan ada dua masalah warisan 2011 yang belum terselesaikan yakni masalah infrastruktur dan kepastian hukum tentang tanah. "Dua hal itu yang menghambat perkembangan ekonomi kita, karena perluasan pelabuhan juga terhambat akibat aset tanah milik masyarakat yang belum dilepas untuk kepentingan publik," katanya.
Karena itu, Fahmi Idris mengaku tidak setuju melepas saham BUMN ke lantai bursa saham (IPO), karena modal di dalam negeri banyak ditarik ke luar untuk mengatasi krisis di Eropa dan AS. "Itu pun belum tentu kembali ke sini lagi, karena itu BUMN sebaiknya tidak bermain di pasar modal, tapi justru memperluas investasi," kata politisi Golkar itu.
Dalam kesempatan ini Fahmi Idris menyampaikan pentingnya kepercayaan dalam dunia bisnis dan industri. "Kalau kita dipercaya, peluang akan datang menghampiri kita. Cara untuk mendapatkan 'trust' ada lima yakni skill (keahlian tertentu), komitmen (tepat janji), mampu berkomunikasi, perilaku baik, dan mau belajar," katanya.(Ant/BEY)




Inilah akibat buruk tak terelakkan dari merusak mutu pendidikan minimal S1 Ekonomi sehingga tidak ada pekerja cerdas alias smart worker alias sungguh perwira. Malah berlimpah pekerja keras alias hard worker alias prajurit, penipu, pemeras, pencuri, penghianat, tukang cerita, dll.
Cara ini cuma mau ambil jalan pintas, di blok langsung. Tentu saja ini bertentangan dengan prinsip pasar bebas. Produk-produk Cina memang membanjiri pasar dimana-mana, bukan cuma di Indonesia. Memang terlalu banyak pe-er yang harus dikerjakan pemerintah, tapi sudah banyak kesempatan yang dibuang oleh pemerintah untuk memperbaiki keadaan. Kita yang harus bangun, sebab secara kualitas produk Indonesia tidak kalah kualitas, malahan produk Cina kalau diperhatikan baik-baik kualitasnya tidak baik, cuma harganya saja murah. Mau bagaimana, kita harus berani bertarung mati-matian melawan serbuan produk-produk luar negeri...
- 2012 BUKAN TAHUN JANJI, BUKAN TAHUN JARGON, BUKAN TAHUN CURHAT, BUKAN TAHUN BUAT LAGU, BUKAN TAHUN TAKUT MALU-MALU... TAPI TAHUN BERTINDAK, TAHUN BEKERJA KERAS, TAHUN MERAIH TARGET, TAHUN BERHEMAT, TAHUN AKAL SEHAT, TAHUN BERANI MELIHAT KEDEPAN...
Siapa yang terbagus maka dialah yang layak dimakmurkan.