Kepala Polisi Kandahar Selamat dari Bom Bunuh Diri
Metrotvnews.com, Kandahar: Seorang remaja penyerang bom bunuh diri berhasil menerobos pengamanan ketat di markas kepolisian Kandahar, Afghanistan selatan, Rabu (11/1). Namun remaja tersebut meledakkan dirinya sebelum mencapai kepala kepolisian yang menjadi sasaran serangannya..
Seorang polisi cedera dalam serangan itu. Serangan berlangsung kurang dari setahun setelah seorang penyerang bom bunuh diri berhasil membunuh kepala kepolisian Kandahar sebelumnya Khan Mohammad Mujahid di markasnya, dalam serangan yang diklaim oleh Taliban.
Serangan itu meningkatkan kekhawatiran mengenai keamanan di daerah tersebut, yang merupakan tempat lahirnya Taliban dan menjadi fokus upaya AS untuk mendorong kendali pemerintah Afghanistan di wilayah selatan.
"Seorang anak laki-laki yang berusia 15 tahun membawa surat untuk saya dan ingin bertemu dengan saya," kata kepala kepolisian Kandahar Abdul Raziq kepada wartawan.
"Namun begitu ia mendekati kantor saya, seorang polisi melihatnya (membawa peledak) dan mulai menembaknya," kata Raziq, dengan menambahkan bahwa penyerang itu meledakkan bomnya di lokasi tersebut.
Razig mengatakan, penyelidikan dilakukan untuk mengetahui bagaimana remaja pembom itu berhasil melewati sejumlah lapisan pengamanan dengan peledak yang diikat di tubuhnya.
Selasa, tiga penyerang bom bunuh diri menyerbu sebuah kantor pemerintah di provinsi Paktika, Afghanistan timur, menewaskan empat pegawai negeri dan tiga polisi. Taliban mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu.
Pada Oktober, Taliban berjanji akan berperang sampai semua pasukan asing meninggalkan Afghanistan.
Presiden Hamid Karzai dan negara-negara Barat pendukungnya telah sepakat bahwa semua pasukan tempur asing akan kembali ke negara mereka pada akhir 2014, namun Barat berjanji memberikan dukungan yang berlanjut setelah masa itu dalam bentuk dana dan pelatihan bagi pasukan keamanan Afghanistan.
Gerilyawan meningkatkan serangan terhadap aparat keamanan dan juga pembunuhan terhadap politikus, termasuk yang menewaskan Ahmed Wali Karzai, adik Presiden Hamid Karzai, di Kandahar pada Juli dan utusan perdamaian Burhanuddin Rabbani di Kabul bulan September.
Konflik meningkat di Afghanistan dengan jumlah kematian sipil dan militer mencapai tingkat tertinggi tahun lalu ketika kekerasan yang dikobarkan Taliban meluas dari wilayah tradisional di selatan dan timur ke daerah-daerah barat dan utara yang dulu stabil.
Sebanyak 711 prajurit asing tewas dalam perang di Afghanistan sepanjang tahun lalu, yang menjadikan 2010 sebagai tahun paling mematikan bagi pasukan asing, menurut hitungan AFP yang berdasarkan atas situs independen icasualties.org.
Jumlah kematian sipil juga meningkat, dan Kementerian Dalam Negeri Afghanistan mengumumkan bahwa 2.043 warga sipil tewas pada 2010 akibat serangan Taliban dan operasi militer yang ditujukan pada gerilyawan.
Taliban, yang memerintah Afghanistan sejak 1996, mengobarkan pemberontakan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh invasi pimpinan AS pada 2001 karena menolak menyerahkan pemimpin Al-Qaida Osama bin Laden, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di wilayah Amerika yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.
Sekitar 130.000 personel Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) pimpinan NATO yang berasal dari puluhan negara berada di Afghanistan untuk membantu pemerintah kabul memerangi pemberontakan Taliban dan sekutunya.
Sekitar 521 prajurit asing tewas sepanjang 2009, yang menjadikan tahun itu sebagai tahun mematikan bagi pasukan internasional sejak invasi pimpinan AS pada 2001 dan membuat dukungan publik Barat terhadap perang itu merosot.
Gerilyawan Taliban sangat bergantung pada penggunaan bom pinggir jalan dan serangan bunuh diri untuk melawan pemerintah Afghanistan dan pasukan asing yang ditempatkan di negara tersebut.
Bom rakitan yang dikenal sebagai IED (peledak improvisasi) mengakibatkan 70-80 persen korban di pihak pasukan asing di Afghanistan, menurut militer.(Ant/RIZ)



