UII Gagas Panggung Akademik Politik
Metrotvnews.com, Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta berencana membuat panggung akademik politik bagi para tokoh negeri ini yang sudah, akan, atau digadang publik maupun partai politik untuk menjadi calon presiden pada Pemilihan Umum 2014.
"Gagasan itu dalam rangka mencari sosok presiden yang ideal, memiliki akseptabilitas dan kapasitas memadai, mempunyai pengalaman birokrasi yang baik, jujur, tegas, berani, cepat mengambil keputusan, dan tidak tersandera persoalan masa lalu," kata Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Edy Suandi Hamid di Yogyakarta, Selasa (24/1).
Menurut dia, bangsa ini perlu mencari pemimpin yang betul-betul negarawan, mengayomi semua kalangan, dan memiliki kemampuan prima. "Indonesia menghadapi persoalan besar yang belum selesai, meskipun sudah 67 tahun merdeka. Kemiskinan, pengangguran, korupsi, dan ketidakadilan masih menjadi persoalan besar negeri ini," katanya.
Hal itu, kata dia, membutuhkan pemimpin yang luar biasa, yang mau keluar dari kebiasaan selama ini, yang tidak hanya mencari aman atau membentuk kroni, yang membuat posisi Indonesia tetap seperti saat ini atau berjalan lambat untuk memanfaatkan potensi yang dimilikinya.
Ia mengatakan rakyat Indonesia ingin pada 2014 dipimpin orang yang bukan rakus kekuasaan, "kemaruk" harta, yang hanya ingin membangun kerajaan keluarga atau kroninya, dan menciptakan ketidakadilan. Orang yang tidak menjadikan kekuasaan sebagai industri yang menjadi tambang untuk kekayaan pribadi dan kelompoknya.
"Bukan pula orang yang syahwat kekuasaannya telah mengalahkan akal sehatnya sehingga menghalalkan segala cara untuk menggapai kekuasaan dan menggadaikan pribadinya pada pengusaha yang ingin mencari perlindungan penguasa," katanya.
Menurut dia, hal itu penting karena fakta yang terjadi menunjukkan dalam upaya menggapai jabatan politik di tingkat daerah maupun nasional, syahwat kekuasaan dan semua modal dikerahkan termasuk utang, janji pemberian akses proyek dan semacamnya kepada pendukung dan penyandang dananya.
"Akibatnya, setelah jabatan politik diraih mereka menjadi lupa daratan, tidak ingat lagi pada sumpah jabatannya, dan lupa pada rakyat pendukungnya," kata Edy.
Hal itu, kata dia, pada akhirnya menyuburkan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme di negeri ini. Sekian banyak kepala daerah terjerat kasus penyalahgunaan kekuasaan khususnya praktik korupsi. Mereka tenang melakukan hal itu karena sudah dikuasai nafsu kekuasaan dan tercabik nuraninya.
Ia mengatakan rakyat tidak ingin hal seperti itu terjadi pada kepemimpinan nasional 2014. Oleh karena itu, panggung akademik politik tersebut direncanakan diadakan di UII.
"Semua calon presiden (capres) yang dianggap layak diberikan mimbar untuk menyampaikan gagasan dan argumentasinya, dengan pembahas dari kalangan akademisi dan publik yang dianggap relevan. Waktu pelaksanaannya akan ditentukan setelah kristalisasi para capres itu muncul," kata Edy.(Ant/DSY)




Sepakat dengan komentar my buddy; Lathifa Anshori. hee