Serangan Al Qaeda Menewaskan Dua Tentara Yaman
Metrotvnews.com, Sanaa: Gerilyawan Al-Qaeda melancarkan serangan yang menewaskan dua prajurit pemerintah di Yaman tengah, Rabu (1/2). Demikian kata sejumlah pejabat setempat.
Serangan itu, yang terjadi di provinsi penghasil minyak Maarib, dilakukan sehari setelah sedikitya 15 militan tewas dalam dua serangan di Yaman selatan.
"Kami yakin anggota-anggota Al-Qaeda mendalangi serangan ini," kata Gubernur Maarib kepada Reuters.
Sejumlah orang suku mengatakan, tiga prajurit tewas dalam serangan itu dan lima prajurit serta beberapa militan cedera.
Selasa, sebuah pesawat tak berawak melancarkan serangan yang menewaskan sedikitnya 12 militan di Yaman selatan, sementara pasukan pemerintah membunuh tiga gerilyawan dalam serangan terpisah.
Di Sanaa, orang-orang bersenjata memberondongkan tembakan ke arah mobil menteri penerangan, namun ia selamat tanpa cedera.
Yaman dilanda pergolakan yang menewaskan ratusan orang sejak demonstran menuntut pengunduran diri Presiden Ali Abdullah Saleh pada akhir Januari.
Saleh (69), yang memerintah Yaman selama 33 tahun, menandatangani perjanjian penyerahan kekuasaan yang ditengahi oleh negara-negara Teluk di Riyadh pada 23 November, yang menetapkan ia menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya meski ia tetap menjadi presiden kehormatan sampai Februari.
Prakarsa Dewan Kerja Sama Teluk yang bertujuan mengakhiri protes berbulan-bulan itu menetapkan Saleh mengundurkan diri dengan imbalan kekebalan dari tuntutan hukum bagi dirinya dan anggota-anggota keluarganya.
Pada 7 Desember, Wakil Presiden Yaman Abdrabuh Mansur Hadi mengeluarkan sebuah dekrit yang mensahkan pembentukan pemerintah persatuan nasional yang disepakati sesuai dengan perjanjian penengahan Teluk.
Pemerintah baru yang dipimpin Perdana Menteri Mohammed Basindawa itu akan menjalankan tugas selama tiga bulan, dan setelah itu pemilihan umum dilaksanakan dan Hadi akan secara resmi mengambil alih tugas presiden.
Pemerintah AS dikabarkan mengambil bagian dalam upaya-upaya untuk merundingkan pengunduran diri Saleh dan penyerahan kekuasaan sementara.
Para pejabat AS menganggap posisi Saleh tidak bisa lagi dipertahankan karena protes yang meluas dan harus meninggalkan kursi presiden.
Meski demikian, Washington memperingatkan bahwa jatuhnya Saleh selaku sekutu utama AS dalam perang melawan Al-Qaeda akan menimbulkan "ancaman nyata" bagi AS.
Yaman adalah negara leluhur almarhum pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden dan hingga kini masih menghadapi kekerasan separatis di wilayah utara dan selatan.
Yaman Utara dan Yaman Selatan secara resmi bersatu membentuk Republik Yaman pada 1990 namun banyak pihak di wilayah selatan, yang menjadi tempat sebagian besar minyak Yaman, mengatakan bahwa orang utara menggunakan penyatuan itu untuk menguasai sumber-sumber alam dan mendiskriminasi mereka.
Negara-negara Barat, khususnya AS, semakin khawatir atas ancaman ekstrimisme di Yaman, termasuk kegiatan Al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP).
Negara-negara Barat dan Arab Saudi, tetangga Yaman, khawatir negara itu akan gagal dan Al-Qaeda memanfaatkan kekacauan yang terjadi untuk memperkuat cengkeraman mereka di negara Arab miskin itu dan mengubahnya menjadi tempat serangan-serangan lebih lanjut.(Ant/RIZ)



