LIPI: Perluasan Lahan Sawit Perlu Penelitian Lengkap
Metrotvnews.com, Jakarta: Perluasan lahan sawit yang dilakukan beberapa perusahaan baik di Kalimantan maupun Sumatra memerlukan penelitian lengkap mengenai keanekaragaman hayati di wilayah lahan yang akan dikembangkan untuk menyelamatkan berbagai tumbuhan itu.
"Daerah yang keanekaragaman hayatinya kritis disebabkan oleh konversi lahan hutan, yang memang sebelumnya hutan kemudian terjadi pembalakan liar dan dikonversi menjadi lahan kelapa sawit," kata Deputi Kepala Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Bambang Prasetya di Jakarta, Kamis (9/2), usai sosialisasi Peraturan Presiden Nomor 93 Tahun 2011 tentang Kebun Raya.
Bambang Prasetya menambahkan sejumlah pemangku kepentingan yang berniat memperluas lahan sawit harus melakukan penelitian yang lengkap mengenai keanekaragaman hayati yang ada di daerah tersebut. "Jika perencanaannya tidak matang dan tidak melakukan penelitian tentang jenis-jenis tumbuhan yang hidup di lahan yang akan dikonversi menjadi lahan sawit saya tidak setuju. Harus ada pendataan terlebih dahulu untuk menyelamatkan keragaman tumbuhan endemik," tambah Bambang.
Menurut Bambang, ada dua cara untuk melindungi tanaman yang terancam di wilayah lahan konversi yang terdiri atas cagar biosfer dan pendirian kebun raya agar tumbuhan endemik dapat terwakili dan tidak hilang. Dia mengatakan jika suatu daerah hanya membangun kebun raya untuk mewakili tanaman endemik, hal itu dianggap belum cukup untuk menjaga keragaman hayati melainkan harus bersama dengan adanya cagar biosfer.
"Usaha paling skematis dan paling mudah diikuti ialah di dua tempat seperti ex situ dengan kebun raya dan in situ melalui cagar biosfer," tegas Bambang yang menambahkan tidak setuju jika pengusaha memperluas lahan sawit ke Papua karena keragaman hayati di pulau tersebut sangat tinggi.
Selain itu, LIPI juga telah melakukan pembicaraan dengan Kementerian Kehutanan untuk membuat cagar biosfer di daerah Wamena hingga Gunung Loren, Papua, untuk menjaga keanekaragaman hayati daerah itu tidak rusak. Menurut Bambang, hingga saat ini Indonesia memiliki tujuh cagar biosfer dari 550 di seluruh dunia. Semua itu dinilai oleh UNESCO dari keadaan ekologi dan konservasi lingkungan hidupnya.(Ant/BEY)



