Polda Maluku Bantah Temuan Puluhan Mayat di Pelauw
Metrotvnews.com, Ambon: Kepolisian Daerah (Polda) Maluku membantah adanya penemuan puluhan mayat dalam sebuah rumah yang terbakar saat terjadi bentrokan antarmarga Salampessy di Pelauw, Kecamatan Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.
"Kalau ada temuan seperti itu aparat Brimob, Samapta, dan Reskrim yang ada di tempat kejadian perkara sudah memberikan laporannya secara resmi," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Maluku, AKBP J. Huwae, di Ambon, Ahad (12/2).
Huwae mengakui bahwa bentrokan yang terjadi pada hari Sabtu (11/2) memang menimbulkan korban jiwa dan dievakuasi ke Negeri Rohomoni untuk dimakamkan. Namun, jumlahnya hanya enam orang ditambah 300 rumah penduduk terbakar dalam peristiwa itu.
Empat dari enam korban tewas yang teridentifikasi adalah Syarifudin Tualepe yang berprofesi sebagai dosen, Hamin Nurlete (siswa SMA Negeri 1 Pelauw), Alim Sahubawa, dan Abrakip Latupono.
"Jadi, yang jelas korban meninggal dalam bentrokan ini hanya enam orang. Akan tetapi, kalau ada laporan puluhan mayat ditemukan dalam sebuah reruntuhan rumah hangus terbakar belum diketahui secara pasti," kata Huwae menandaskan.
Terbakarnya rumah-rumah penduduk di pesisir pantai Pelauw mengakibatkan warga setempat mengungsi ke kerabat mereka di negeri tetangga, seperti Rohomoni dan Kailolo. Bahkan, ada sebagian di antara mereka lansia, wanita, dan anak-anak yang mengungsi ke Negeri Liang, Kecamatan Salahutu (Pulau Ambon), Kabupaten Maluku Tengah.
Sejauh ini belum diketahui apakah Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah maupun Pemprov Maluku telah memberikan bantuan pangan kepada para pengungsi sebab Raja Negeri Pelauw, Efendy Latuconsina, tidak bisa dihubungi lewat telepon genggamnya.
Kabid Humas mengatakan bahwa bentrok internal antarmarga Salampessy ini bukan baru kali pertama terjadi, melainkan sejak lama dan sering berbuntut aksi pembakaran rumah penduduk.
"Hanya saja, ada pihak yang sering melaporkan kejadiannya ke Mabes Polri dengan menambah jumlah korban," ujarnya.
Pada tahun lalu, Kapolda Maluku, Brigjen Polisi Syarief Gunawan, dalam rapat kerja dengan DPRD Maluku juga mengaku kaget dengan adanya laporan ke Mabes Polri tentang besarnya jumlah korban tewas dalam bentrokan internal warga di Pelauw.
Namun, setelah tim dari Mabes bersama Polda Maluku turun ke lokasi kejadian, ternyata orang yang meninggal dunia hanya satu orang.(Ant/DSY)




Konflik yang sering kali terjadi di Desa Pelauw Kecamatan Pulau Haruku Kabupaten Maluku Tengah dinilai sangat lamban ditangani oleh pemerintah setempat, konflik tersebut seakan-akan dibiarkan oleh pemerintah setempat dalam hal ini Bupati Maluku Tengah (Abdullah Tuasikal), Abdullah Tuasikal yang saat ini menjabat sebagai Bupati Maluku Tengah berasal dari Desa Pelauw tempat kejadian konflik tapi mengapa tidak bisa mengatasi konflik di daerah asalnya sendiri? bagaimana dengan pulau-pulau yang lain di Malteng, ngurus desa kelahirannya aja ga bisa.