Catatan Akhir Tahun

Mata Najwa / Kamis, 29 Desember 2011 00:21 WIB

Mata Najwa sengaja menghadirkan catatan akhir tahun dengan memilah, mengkompilasi dan mencari benang merah atas puluhan topik yang pernah tayang selama setahun terakhir.

Alhasil, sejumlah topik sangat relevan untuk dijadikan bahan refleksi atas krisis multidimensi yang terus mendera bangsa ini. Tengoklah di awal tahun 2011, krisis sepakbola nasional mengharubirukan emosi masyarakat yang lama merindukan prestasi tapi malah disuguhi praktek kotor di lapangan hijau. Terpuruknya kondisi sepakbola nasional seolah kontras dengan visi para pendiri bangsa tentang kesepakbolaan sebagai alat perjuangan nasional.


Pidana sandiwara atau rekayasa kasus hukum menjadi catatan krisis hukum. Mata Najwa mengulas balik kasus hukum yang kontroversial di masa lalu seperti kasus Dietje, kasus salah tangkap Budi Harjono, Devid dan Kemat. Hukum rupanya tajam pada orang kecil namun tumpul saat bersinggungan dengan kekuasaan. Itulah yang terjadi saat indikasi mafia anggaran di parlemen tak serius diusut.


Krisis berikutnya adalah krisis kepemimpinan. Kita miskin pemimpin berkualitas. Di saat banyak pejabat tersangkut korupsi, hidup bergelimang harta dan hanya peduli pada kepentingan kelompok, figur seperti Sukarno, Hatta, Haji Agus Salim, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Hoegeng hingga Baharudin Lopa menjadi antitesanya. Mereka negarawan sesungguhnya. Hidup dalam kesederhanaan, mengabdi republik, jujur dan tegas dalam sikap perbuatan.


Teror bom Kepunton di Solo menyisakan tragedi lainnya. Bom bunuh diri meninggalkan pertanyaan bagi kita semua. Bagaimana bisa ada bunuh diri? Mata Najwa mengajak kembali melihat Tragedi Mei 1998 yang juga mengoyak kemanusiaan kita. Ada cerita korban kerusuhan yang hendak bunuh diri dan horor korban penculikan seta interogasi brutal. Mata Najwa juga merekam drama kemanusiaan seperti Konflik Ambon dan kecelakaan lewat sejumlah kesaksian.


Di lain sesi, Mata Najwa mencatat bahwa musik bisa kawin dengan politik. Musik bisa menjadi medium canggih untuk penyebaran ideologi politik. Rhoma Irama mengungkapkan pengalamannya dicekal dan bagaimana menyisipkan pesan kritis dalam syair lagu. Di saat seni jadi alat politik, Warkop Dono-Kasino-Indro justru menertawakan politik lewat film dan aktivitas poliltiknya. Kata mereka, tertawalah sebelum tertawa dilarang.





Bookmark and Share

KOMENTAR [1]

  • Estu Muh Dwi A,ST, Sabtu, 31-Desember-2011

    Bagaimana prosedurnya untuk mengirimkan artikel supaya dimuat di MetroTV ? Mohon penjelasanya trimakasih.

KIRIM KOMENTAR ANDA

Nama
Email
Komentar Anda
Kode Keamanan
 

© 2004 - 2012 MetroTVNews.com All rights reserved.
Comments & suggestions please email webmetro@metrotvnews.com
FANS INGIN BARCA REKRUT GARETH BALE DARI SPURS   *   USAI DIRAWAT AKIBAT PNEUMONIA, LEGENDA SEPAK BOLA PORTUGAL EUSEBIO DIIZINKAN PULANG   *   PRESIDEN OBAMA UCAPKAN SELAMAT TAHUN BARU PADA WARGA DUNIA   *   FERGIE KECEWA MU DIKALAHKAN BLACKBURN 2-3   *   INDONESIAN POLICE CONTINGENT IN SUDAN PRESENTED FINANCIAL ASSISTANCE TO REFUGEES IN THE DARFUR REGION   *   MICHAEL ESSIEN AKAN KEMBALI BELA CHELSEA MEDIO JANUARI 2012   *   KORBAN TEWAS AKIBAT BADAI THENE DI INDIA JADI 42 ORANG   *