Memburu Piramida
KABAR penemuan benda purbakala mirip piramida di sejumlah kawasan di Indonesia menimbulkan kehebohan sekaligus mengundang perdebatan.
Benda serupa piramida itu disebut-sebut ada di wilayah Gunung Sadahurip, Garut, dan Gunung Padang, Cianjur, serta daerah sekitar kawasan Bandung, Jawa Barat.
Tim Studi Bencana Katastropik Purba yang dibentuk Staf Ahli Presiden Bidang Kebencanaan dan Bantuan Sosial, Andi Arief, berambisi melacak adanya piramida di bawah bukit itu. Namun, tim belum berani menyimpulkan benda itu sebagai piramida.
Dugaan bangunan purbakala mirip piramida itu tidak sembarangan. Selain berbagai pakar diikutsertakan, tim juga menggunakan peralatan canggih.
Menurut tim, hasil analisis terhadap batuan kemudian ditambah dengan hasil citra global positioning system (GPS/sistem navigasi satelit), pendekatan struktur geologi dari foto udara, sungguh mencengangkan.
Rupanya, tim tersebut memburu piramida itu sejak tahun lalu. Bahkan, sebelum berburu di kawasan Garut dan sekitarnya, tim sudah melakukan penelitian serupa di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Entah, berapa dana yang sudah dikeluarkan untuk memburu piramida itu.
Penemuan berbagai benda purbakala jelas memiliki nilai yang berharga. Temuan-temuan itu tidak saja mencerminkan sejarah panjang bangsa, tapi juga menjadi ukuran seberapa tinggi tingkat peradaban dan kebudayaan.
Namun, benarkah ada piramida di Indonesia? Celakanya, sejak lama tidak ada fakta yang memperlihatkan bukti-bukti arkeologi yang mendukung keberadaan piramida di Nusantara. Apalagi, nenek moyang bangsa ini amat jauh berbeda dengan nenek moyang di negeri asal piramida, Mesir.
Karena itu, perburuan piramida itu seharusnya dihentikan. Sebab, arkeologi bukanlah disiplin yang berbasiskan angan-angan, sekalipun betapa membanggakan angan-angan bahwa Indonesia sebenarnya merupakan awal dari pusat kebudayaan dunia.
Yang mengherankan, perburuan piramida justru dipimpin Staf Khusus Presiden Bidang Kebencanaan dan Bantuan Sosial. Staf khusus itu kayaknya kurang kerjaan, seakan di negeri ini tiada lagi bencana. Padahal, bencana terus terjadi silih berganti dengan korban memilukan dan belum tertangani secara memadai. Bantuan seret dan korban hidup di tenda-tenda pengungsian di bawah ancaman berbagai penyakit.
Ketimbang terus memburu piramida, jauh lebih bestari bila Staf Khusus Presiden Bidang Kebencanaan dan Bantuan Sosial mengurusi para korban bencana alam.
Kerja seperti itu lebih relevan ketimbang memburu piramida yang hasil akhirnya sekadar pepesan kosong.




kenapa metro tv selalu memojokkan pemerintah dan bersikap peimis??? mengertikah arti pentingnya penemuan ini??? atau metro tv hanya mementingkan kepentingan kelompok nya saja?
Setiap bencana memiliki sebuah siklus dan periodesasi, bukankah perlu untuk mendata sejarah bencana negeri ini untuk anak cucu kelak, dan bukankah penemuan candi juga diawali dengan kalimat "hanya sebuah pepesan kosong?" mohon metro tv dan media indonesia tidak bias dalam pemberitaan dan menjadi corong politik partai yang dulunya berkomitmen sebagai organisasi massa. salam
segera bentuk Staf Akhli presiden bidang piramida...siapa tahu dulu fir'aun pernah buka cabang di sadahurip...... buktinya sekarang banyak fir'aun yang suka korupsi di indonesia