BPS: Kenaikan Harga Cegah Deflasi
Metrotvnews.com, Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan kecil kemungkinan terjadi deflasi pada November ini. Pasalnya, ada sejumlah kenaikan terhadap beberapa komoditas yang memiliki kontribusi besar terhadap angka inflasi. Hal itu diungkapkna Deputi Bidang Statistik, Jasa, dan Distribusi BPS, Djamal di Jakarta, Senin (28/11).
Salah satu komoditas yang naik seperti yang dialami beras. Namun, kenaikan harga beras tidak akan terlalu tinggi. Sebab, pemerintah telah mengimpor beras dari Vietnam dan Thailand. Selain kenaikan harga komoditas, inflasi pada akhir tahun bisa dipengaruhi lambatnya penyerapan anggaran APBN.
Djamal memperkirakan, inflasi pada Desember mendatang diperkirakan akan lebih tinggi dari bulan sebelumnya. Hal itu dipengaruhi adanya perayaan Natal dan liburan Tahun Baru.
Sebelumnya, Oktober lalu terjadi deflasi sebesar 0,12 persen. Angka tersebut muncul karena penurunan komoditas emas sebesar 0,11 persen.




Inflasi atau deflasi dihitung sebagai rata-rata tertimbang alias terbobot dari sekelompok tertentu (jadi bukan semua) perubahan harga atau indeks harga barang dan jasa. Pembobotan ada yang subjektif (sebagusnya semua objektif), ada masalah akurasi, masalah keterwakilan sampel, dll. Jadi andal dan berkaitan kah inflasi dijadikan salah satu variabel BI Rate? Mungkin saja angka inflasi sebagusnya alias seharusnya alias kenyataan lebih dari sebenarnya (perhitungan BPS), sehingga BI Rate kurang dari seharusnya.
Inflasi atau deflasi dihitung sebagai rata-rata tertimbang alias terbobot dari sekelompok tertentu (jadi bukan semua) perubahan harga atau indeks harga barang dan jasa. Pembobotan ada yang subjektif (sebagusnya semua objektif), ada masalah akurasi, masalah keterwakilan sampel, dll. Jadi andal dan berkaitan kah inflasi dijadikan salah satu variabel BI Rate? Mungkin saja angka inflasi sebagusnya alias seharusnya alias kenyataan lebih dari sebenarnya (perhitungan BPS), sehingga BI Rate kurang dari seharusnya.
Inflasi atau deflasi dihitung sebagai rata-rata tertimbang alias terbobot dari sekelompok tertentu (jadi bukan semua) perubahan harga atau indeks harga barang dan jasa. Pembobotan ada yang subjektif (sebagusnya semua objektif), ada masalah akurasi, masalah keterwakilan sampel, dll. Jadi andal dan berkaitan kah inflasi dijadikan salah satu variabel BI Rate? Mungkin saja angka inflasi sebagusnya alias seharusnya alias kenyataan lebih dari sebenarnya (perhitungan BPS), sehingga BI Rate kurang dari seharusnya.
BPS bisa aja bikin alasan untuk memiskinkan rakyat.. mana janji kanpemerintah mengutamakan "wong cilik" NOL BESARRRR