Kenaikan Harga Minyak bisa Memicu Gejolak Sosial
Metrotvnews.com, Jakarta: Ancaman kenaikan harga minyak dunia menjadi kekhawatiran para pemimpin Asia. Bersama ancaman inflasi, kenaikan harga minyak dapat menjadi perintang kebijakan ekonomi negara-negara Asia.
Berkaca dari kasus kenaikan harga minyak yang hampir menembus US$120 per barel saat terjadi gejolak politik di Libya Februari 2011, ancaman itu kembali muncul ketika Iran mengancam menutup lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Ancaman kenaikan harga minyak itu justru terjadi pada saat ekonomi beberapa negara Asia sedang mengalami pelambatan. Bahkan, kondisi ini akan semakin parah jika negara tersebut sangat tergantung pada minyak impor.
Menurut Direktur Riset Saham Asia di S&P, Lorraine Tan, akan selalu berdampak negatif jika harga minyak naik karena harga-harga akan melambung. India dan Jepang harus mengimpor minyak untuk memenuhi kebutuhannya hingga 95 persen. Sedangkan China hanya 58 persen.
Meningkatnya harga minyak tidak hanya mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, tapi juga dapat menimbulkan gejolak sosial. Kenaikan harga minyak yang bertahan lama akan membuat dilema bagi pemerintah di Asia, termasuk Indonesia. Pasalnya, jika pemerintah banyak memberi subsidi, maka pertumbuhan ekonomi di Indonesia terancam melambat.(RIZ)



