- Kejahatan Bersenjata Sudah Keterlaluan
- 10 Tahun Tanpa Piala Thomas
- Grasi untuk Corby
- Kita Antar Kepergian Korban SSJ-100
- Jangan Salahkan Reformasi
- Wanadri Taklukkan Everest
- Menggelorakan Kebangkitan Nasional
- Hiburan Istimewa di Akhir Pekan
- Pengetatan Vs pelonggaran Ekonomi
- Menghentikan Kebiasaan Tawuran
- Bukan Republik Ormas
- Awas Pemborosan Anggaran
- Mengungkap Misteri Jatuhnya SSJ-100
- Tantangan Program Hilirisasi Industri
- Luar Biasa Kerja Tim SAR
Barat Bermain Api Dengan Iran
Selasa, 24 Januari 2012 20:56 WIB
KETEGANGAN di kawasan Persia semakin meningkat menyusul tekanan negara-negara Barat terhadap Iran. Negara-negara Uni Eropa memutuskan untuk mengembargo impor minyak dari Iran dan melarang perdagangan logam berharga dengan negara tersebut.
Langkah drastis yang ditempuh Uni Eropa merupakan bagian dari tekanan Barat untuk mencegah Iran mengembangkan nuklir. Barat mengkhawatirkan Iran mengembangkan teknologi tersebut untuk kepentingan persenjataan.
Sikap Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad yang keras dianggap sebagai ancaman. Ahmadinejad secara provokatif menunjukkan ketidakgentarannya terhadap tekanan negara-negara Barat dan juga Israel. Ia bahkan menggalang kekuatan dengan negara-negara Amerika Latin yang antiterhadap Amerika Serikat.
AS sendiri berulangkali mendesak Iran untuk menghentikan program pengembangan nuklir mereka. Bahkan AS mengancam menggunakan kekuatan militer agar Iran tidak melanjutkan program nuklir karena akan mengancam perdamaian di kawasan.
Untuk memperkuat tekanannya, AS meminta negara-negara Uni Eropa untuk ikut mendesak Iran agar mau berubah. Keputusan para Menteri Luar Negeri Uni Eropa untuk mengembargo ekspor minyak Iran, tidak bisa dilepaskan dari kepentingan politik luar negeri AS.
Keputusan negara-negara Uni Eropa tidak akan menyelesaikan persoalan. Langkah itu justru akan semakin memperkuat ketegangan di kawasan. Kondisi terburuk bisa terjadi setiap saat, baik melalui serangan militer dari luar maupun gerakan antipemerintah resmi di Iran.
Pengalaman yang terjadi di Irak dan Libya menunjukkan bahwa negara Barat menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Terhadap Irak mereka menggunakan kekuatan militer, sementara di Libya dimunculkan gerakan antipemerintah resmi.
Kita mengkhawatirkan ketegangan yang ada karena kita merasa kasihan kepada mereka yang tinggal di kawasan itu. Belum lagi mereka bisa menarik napas panjang setelah perang yang terjadi Irak, kini mereka harus dihadapkan dengan perang baru di Iran.
Sejak Perang Teluk tahun 1991 berarti 20 tahun kawasan itu dipenuhi dengan suasana peperangan. Kita lihat bagaimana banyak warga di kawasan itu harus meninggalkan negaranya dengan menggunakan kapal-kapal kayu dan tidak sedikit yang kemudian mengalami kecelakaan di tengah laut.
Kalau sampai konflik pecah lagi di kawasan itu, maka ancaman terhadap perekonomian dunia juga sangatlah menakutkan. Di tengah situasi dunia yang tertekan akibat krisis keuangan yang dihadapi AS dan Uni Eropa, perang di kawasan Timur Tengah akan semakin memperdalam kondisi krisis yang terjadi.
Ketika Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz, kita sudah melihat dampaknya terhadap kenaikan harga minyak dunia. Kita tidak bisa bayangkan apabila perang benar-benar terjadi, karena harga minyak pasti akan semakin melambung tinggi.
Untuk itulah kita mengharapkan adanya solusi yang lebih baik untuk menyelesaikan krisis di kawasan Persia. Kita harus mencegah jangan sampai pecah perang, karena itu akan membuat dunia berada dalam kesulitan.
Kondisi yang dihadapi negara-negara di dunia saat ini sudah cukup pelik. Negara-negara Uni Eropa pun belum sampai pada sebuah kesepakatan untuk menyelesaikan persoalan ekonomi mereka. Yunani yang menjadi pangkal persoalan sekarang ini, belum mampu menemukan jalan keluar terbaik.
Saat ini tenaga dan pikiran yang dimiliki sebaiknya difokuskan untuk menyelesaikan persoalan dalam negeri. Jangan biarkan masyarakat di masing-masing negara dihadapkan kepada ketidakpastian. Bahkan bangsa Amerika pun sedang dihadapkan rasa frustasi akibat persoalan ekonomi yang tidak kunjung membaik.
Persoalan ancaman nuklir sebenarnya bisa diselesaikan apabila semua negara menghentikan perlombaan senjata mereka. PBB seharusnya tidak bersikap pilih kasih dan memberlakukan hal yang sama kepada semua negara.
Sekarang ini sulit melarang Iran untuk mengembangkan nuklir karena banyak negara yang telah melakukan itu. Israel, India, Pakistan merupakan negara-negara yang telah mengembangkan nuklir. Iran merasa berhak untuk melakukan hal yang sama, karena mereka membutuhkan energi untuk pembangunan negeri mereka.
Kita sungguh berharap semua negara bisa menahan diri dan memiliki pikiran yang jauh ke depan. Ada kemauan untuk mencari solusi terbaik bagi kepentingan seluruh umat manusia yang tinggal di Bumi.


Jangaan terlalu berharap lah kpd pbb krn 90% kekuaasaan nya milik as & barat
saya jadi teringat dgn ucapan Bung Karno....Segala permasalahan di Indonesia hanya dilakukan dan di pecahkan masalahnya hanya dgn dan oleh orang Indonesia aja...tidak usahlah mikirin negara orang....pikirkan aja dulu ini Negara ....mau dibawa kemana ?
Lanjutkan saja nuklir iran,, biar ketar ketir negara2 yg ingin menghancurkan negara islam d dunia,,
Ada tujuan tersendiri di balik pressing negara barat terhadap Iran,,,yaitu ingin menghapuskan islam dari muka bumi,,,liat saja banyak negara islam yg di obok',sedangkan negara yahudi,negara k0munis dan n0ta bene negara n0n islam aman aman aja,tuh.
orang indonesia yg belain iran pada munafik semua... iran itu negara syiah, padalah di indonesia syiah itu dianiaya dan dianggap sesat... gak usah sok2an solider deh... muna loe! urus aja rt sendiri gak usah jauh2...
lagian negara2 barat punya banyak senjata nuklir, dan iran baru belajar bikin nuklir, kalau gini kenyataannya trus yg justru bermain api itu siapa..?