- Kejahatan Bersenjata Sudah Keterlaluan
- 10 Tahun Tanpa Piala Thomas
- Grasi untuk Corby
- Kita Antar Kepergian Korban SSJ-100
- Jangan Salahkan Reformasi
- Wanadri Taklukkan Everest
- Menggelorakan Kebangkitan Nasional
- Hiburan Istimewa di Akhir Pekan
- Pengetatan Vs pelonggaran Ekonomi
- Menghentikan Kebiasaan Tawuran
- Bukan Republik Ormas
- Awas Pemborosan Anggaran
- Mengungkap Misteri Jatuhnya SSJ-100
- Tantangan Program Hilirisasi Industri
- Luar Biasa Kerja Tim SAR
Menguji Ketepatan PKH
Rabu, 25 Januari 2012 16:50 WIB
KITA tentu senang melihat pemerintah yang begitu peduli kepada nasib rakyatnya. Di tengah ketidakpekaan para pejabat kepada rakyatnya, rupanya pemerintah masih mempunyai hati. Tetapi pertanyaannya apakah program keluarga harapan yang dicanangkan pemerintah merupakan bentuk kepedulian pemerintah kepada rakyatnya?
Kita ingin menguji kesungguhan pemerintah, karena program keluarga harapan bukan bentuk rasa sayang pemerintah kepada rakyatnya. Bantuan dalam bentuk tunai berpotensi untuk salah sasaran dan menjadi ladang korupsi dari para pejabat.
Mengapa kita begitu pesimistis dengan program bantuan pemerintah kepada rakyat miskin itu? Karena kita harus melihat pada pengalaman. Sejak awal reformasi kita sudah mencanangkan begitu banyak program bantuan langsung kepada masyarakat, semuanya gagal mengentaskan kemiskinan dan yang muncul adalah pejabat yang tiba-tiba kaya raya.
Persoalan yang terberat kita hadapi adalah tidak adanya data kependudukan yang akurat. Kedua, kita memiliki geografis yang begitu luas dan tidak semua terjangkau oleh administrasi pemerintahan. Ketiga, kita memiliki birokrasi yang mudah tergoda untuk menyalahgunakan kewenangannya.
Rakyat miskin hanyalah akal-akalan untuk membuka peluang terjadinya praktik penyalahgunaan keuangan negara. Pada akhirnya rakyat miskin tetap akan hidup miskin, anggaran negara keluar dari kantong pemerintah, dan para pejabat pula yang akhirnya akan berpesta-pora.
Hal lain yang sejak dulu kita kritik adalah cara pemberian uang tunai secara cuma-cuma hanya menghasilkan masyarakat yang pemalas. Kita secara tidak disadari membangun kultur bangsa yang lembek dan menciptakan masyarakat yang selalu menengadahkan tangannya di bawah.
Padahal berulangkali kita sampaikan, dalam era perdagangan bebas seperti sekarang yang kita butuhkan adalah masyarakat dengan kultur yang kuat. Masyarakat yang punya etos kerja, penuh disiplin, menghargai waktu, selalu berorientasi kepada pencapaian yang terbaik, dan tidak mau kalah dari bangsa lain.
Itulah yang membuat bangsa Korea Selatan menjadi bangsa yang maju. Menurut sosiolog, Samuel L. Huntington, Korea Selatan merupakan salah satu bangsa di dunia yang mampu membangun kultur yang baik kepada rakyatnya, sehingga kemudian mampu menjadi bangsa yang besar.
Banyak cara yang bisa kita tempuh untuk membangun masyarakat yang memiliki kultur yang baik. Salah satunya dengan memberi kesempatan kepada masyarakat untuk bisa mengembangkan dirinya sesuai dengan keunggulan lokal yang mereka miliki.
Kita memiliki banyak socialpreneur yang mampu menciptakan masyarakat yang kuat. Salah satunya adalah Masrial Koto yang pernah diangkat oleh Metrotv. Bagaimana orang yang hanya pendidikan sekolah dasar di Bukittinggi mampu membangun Bank Petani yang berlandaskan kepada kearifan lokal di desanya.
Bank Petani kini menjadi salah satu andalan bagi masyarakat petani di Sumatera Barat untuk mengembangkan kegiatan mereka. Dengan mengandalkan kekuatan sosial yang ada di masyarakat, Bank Petani tidak ubahnya seperti bank yang sesungguhnya, tetapi cocok dengan kebutuhan masyarakat di daerah itu.
Nyaris tidak ada kredit macet yang dihadapi oleh Bank Petani. Bank yang didirikan Masrial Koto itu kini memiliki aset miliaran rupiah dan membuat kagum banyak pejabat Bank Indonesia karena di tengah masyarakat mampu dibangun sendiri sistem perbankan yang cocok dengan kebutuhan mereka.
Apakah Masrial Koto hanya berhenti bekerja untuk rakyat di Sumatera Barat? Ia kini sedang fokus untuk membantu masyarakat yang tinggal di Pulau Buru. Ia sedang berupaya untuk menggantikan kebiasaan masyarakat di pulau itu dari semula memegang parang untuk diganti dengan memegang pacul untuk bertani.
Berapa lama Masrial Koto akan bisa mengubah kebiasaan masyarakat Pulau Buru itu? Ia membutuhkan waktu minima lima tahun. Ia tahu bahwa mengubah kebiasaan sosial pada sebuah lingkungan tidak bisa dilakukan dalam waktu satu hari. Dibutuhkan kesabaran untuk membuat masyarakat bisa menjadi lebih produktif.
Sengaja kita angkat apa yang dilakukan Masrial Koto untuk membuka mata kita semua bahwa kita memiliki banyak kearifan lokal di negeri ini. Setiap daerah memiliki kekhasan untuk bisa maju. Hanya saja dibutuhkan konsistensi dan kesabaran untuk membangun masyarakat yang produktif.
Kita memiliki banyak orang seperti Masrial Koto. Setiap daerah memiliki tokohnya sendiri. Itulah yang seharusnya disentuh pemerintah dan dilibatkan pemerintah untuk membangun masyarakat ini.
Jangan hanya berpikir instan dan semua akan bisa dikerjakan dengan mudah. Jangan pula segala sesuatu dikerjakan dengan skala nasional yang besar, karena jangkauan kita tidak mampu meraih semua itu. Mari kita mulai secara bertahap, namun dilakukan dengan konsisten untuk membangun masyarakat yang kuat.


Program PKH adalah bukan pemberian bantuan secara cuma-cuma namun bersyarat. Dan diberikan kepada penduduk yang sangat miskin. Mohon bagi penulis untuk ke lapangan langsung dan lihat kondisi di daerah-daerah yang mendapat bantuan PKH. Karena sebuah tulisan tidak akan ada maknanya jika hanya sekedar omongan namun tidak melihat sebuah realitas yang ada.
Sejatinya anda Pak Surya tidak tau apa itu PKH dan maraba dari beberapa opini publik tentang PKH lalu bicara PKH, yang dipertanyakan apakah opini anda opini seorang jurnalis atau opini pesanan politik.....
Salam demokrasi..... akan lebih bijak jika berita diambil dari berbagai sumber yang berbeda, termasuk pendamping dan penerima manfaat (peserta) PKH....
Bung suryo rupanya belum tau apa dan bagaimana program pkh itu dan bagaimana bantuan itu bisa tepat sasaran. sebaiknyanya anda terjun dan amati bagaimana tim pkh membantu masyarakat, baru anda mengkaji, jangan mengkaji dari tulisan tanpa melihat langsung. saya yakin tidak ada peserta pkh yang menjadi malas karena pemerintah meluncurkan program ini, karena program ini stresingnya untuk pendidikan dan kesehatan yang sudah tentu untuk memenuhi kebutuhan lainnya peserta pkh pun akan bekerja sesuai dengan kemampuannya.
Lebih bijak sebelum beropini pahami dulu PKH, biar pas dan pasti pas ...