- Kejahatan Bersenjata Sudah Keterlaluan
- 10 Tahun Tanpa Piala Thomas
- Grasi untuk Corby
- Kita Antar Kepergian Korban SSJ-100
- Jangan Salahkan Reformasi
- Wanadri Taklukkan Everest
- Menggelorakan Kebangkitan Nasional
- Hiburan Istimewa di Akhir Pekan
- Pengetatan Vs pelonggaran Ekonomi
- Menghentikan Kebiasaan Tawuran
- Bukan Republik Ormas
- Awas Pemborosan Anggaran
- Mengungkap Misteri Jatuhnya SSJ-100
- Tantangan Program Hilirisasi Industri
- Luar Biasa Kerja Tim SAR
Jakarta Genting, Menteri di Daerah
Sabtu, 28 Januari 2012 20:21 WIB
KEMARIN Jakarta boleh dikatakan genting. Demo buruh di Bekasi kembali memblokade jalan tol Cikampek untuk dua arah. Akibatnya jalan tol itu lumpuh sekitar delapan jam, karena ditutup oleh para pengunjuk rasa.
Presiden yang sedang ada di Istana Bogor berharap agar aksi buruh yang tidak puas dengan keputusan Pengadilan Tata Usaha Negara, segera ditangani. Namun Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar yang seharusnya menangani persoalan perburuhan, ternyata sedang berada di Surabaya.
Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa ternyata sedang tidak berada di Jakarta. Hatta sedang berada di Medan untuk urusan penanaman mangrove bersama Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan.
Oleh karena berkaitan dengan urusan keamanan, Presiden mencoba menghubungi Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Djoko Suyanto. Ternyata Menko Polhukam juga tidak sedang berada di Jakarta, tetapi ada tugas di luar daerah.
Melihat kondisi yang semakin tidak menentu, Presiden memerintahkan ketiga menteri untuk kembali ke Jakarta. Presiden meminta ada penyelesaian mengenai persoalan pengupahan yang terjadi di Bekasi agar persoalan tidak berlarut-larut dan mengimbas ke mana-mana.
Persoalan ini sengaja kita angkat karena rendahnya kepekaan terhadap perkembangan yang terjadi di tengah masyarakat. Bagaimana persoalan yang begitu pelik dan bisa mengganggu stabilitas keamanan nasional bisa luput dari perhatian dan tidak dianggap sebagai sesuatu yang krusial.
Padahal setelah aksi demo menutup jalan tol, kita sudah mendengar informasi akan terjadinya demo kedua. Sejak hari Kamis kita sudah mendengar adanya upaya dari buruh di Bekasi untuk mengulangi aksi menutup jalan tol Cikampek.
Dengan informasi seperti itu, tentu masalah buruh di Bekasi seharusnya menjadi perhatian utama. Segala persoalan lain seharusnya bisa ditinggalkan sementara, karena salah-salah menangani persoalan yang satu ini, akibatnya bisa sangat fatal.
Kita bisa rasakan bagaimana suasana yang terjadi di kawasan industri Cikarang kemarin. Buruh yang memilih untuk bekerja, diancam agar menghentikan kegiatannya. Bahkan pabrik yang masih berjalan biasa dilempari agar ikut dalam solidaritas pergerakan buruh.
Lebih menakutkan lagi adalah suasana rasialis yang coba dihidup-hidupkan. Salah-salah dalam menangani persoalan akan muncul kerusuhan rasial. Kita sudah berpengalaman bagaimana isu itu akan mudah menyebar ke mana-mana dan menimbulkan ancaman yang menakutkan terhadap stabilitas nasional.
Tepat langkah yang diambil Presiden untuk memanggil pulang para menteri dan segera menangani persoalan. Semakin dibiarkan berlama-lama masalah ini berlangsung, maka akan semakin rumit cara penyelesaiannya.
Kita merasa senang bahwa kemarin malam setidaknya sudah ditemukan solusi pemecahan jangka pendek. Setidaknya perusahaan yang memang memiliki kemampuan segera melaksanakan pemberian upah minimum yang sudah ditetapkan. Sedangkan untuk perusahaan yang tidak memiliki kemampuan akan dicarikan jalan lain.
Langkah lebih lanjut yang harus dilakukan adalah menemukan penyelesaian yang lebih permanen. Pemerintah harus lebih arif dalam mengambil keputusan dengan mempertimbangkan kepentingan buruh dan juga kepentingan perusahaan.
Kita harus ingat bahwa perusahaan terbagi atas dua kelompok yakni yang padat modal dan padat karya. Perusahaan padat modal umumnya tidak memiliki masalah dengan persoalan upah minimum karena perputaran bisnis yang umumnya tinggi dan umumnya terbatas jumlah tenaga kerjanya. Namun untuk perusahaan padat karya masalah upah minimum sangat peka karena jumlah buruhnya yang besar.
Sekarang ini kita menangkap terjadinya arus balik terhadap perusahaan padat karya ke Indonesia. Industri sepatu yang pernah meninggalkan Indonesia, kini sudah kembali ke Indonesia. Tangerang telah kembali menjadi pusat industri sepatu terbesar di dunia. Masuknya kembali industri sepatu ini tentunya menyerap banyak tenaga kerja.
Hanya saja kita juga harus hati-hati untuk menangani industri padat karya ini. Kalau belum apa-apa suasana rusuh seperti sekarang ini, maka modal itu akan mudah kembali ke India, Bangladesh, Vietnam, atau China. Inilah yang seharusnya membuka mata kita semua untuk berhati-hati.
Kita sangat membutuhkan lapangan kerja. Kita menginginkan agar buruh mendapatkan upah yang memadai untuk hidup layak. Namun kita juga mengharapkan agar pekerjaan itu berjangka panjang, bukan hanya pekerjaan yang sesaat karena perusahaannya tidak berumur panjang.


ah payah lu ah ... Demo buruh dari Jumat jam 10 pagi, masa baru beres jam 18.00 ... dah keburu macet dan bikin spaneng orang di tol. Seharusnya BIN dan Kapolri sudah bisa antisipasi sejak hari Kamis dong. Jikalau masa udah mau nerobos tol, ya harus dilokalisir, maksimal salah jalur saja yg digunakan buat demo, jangan semuanya diblokir. Coba, kemarin ada ambulance bawa orang sakit parah, keburu out tuh orang, sedih banget. Sebeye - sebeye, lambat kok dipelihara, malu sama gelar DR dari IPB
Itulah gambaran yg ditunjukan pembantu presiden yang sebenarnya hanya menjadi beban dikabinet sekarang ini.selayaknya mereka ini introspeksi diri apakah mereka pantas menjadi pejabat yang memiliki kesanggupan membangun kesejahteraan rakyat.
Bagus lah klo pak sby cpt tanggap.....